SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Senandung Wonolelo

Senandung wonolelo mengalun lirih
bergabung dengan ribuan rintih
gerimis turun basah meretih
dan tanah enggan bergeming
dari tempat semula,dan tetap seperti kemarin
becek bercampur lumpur
di antara kayu-kayu bergulingan
dan sekumpulan bambu yang tunduk meratap
tatkala trauma mengekang jiwa
dan cemas mengusik langkah.

Amuk merapi..,masih jelas sisakan tangis
di sepanjang jalanya..,puing-puing berserakan
di hias setumpuk gunungan abu.
Senandung duka tertera
bersanding murung di dinding pagar keteb
ketika bocah-bocah lesu menjemput iba
tersaji tepat menampar bola mata
di sepanjang jalan Wonolelo-Selo.

Mungkin..
kenyataan itu terlalu pahit,menyapa tangan-tangan mungil
namun apa daya,ketika telapak-telapak gulita terpaksa menengadah
bersama nasib yang gelap
tentu bukan kau harap
ketika celotehmu di telan keangkuhan
bersama runtuhnya keluh-kesah paska bencana.

2 Desember 2010 - Posted by | Sajak, Selayang Pandang, Sosial, Syair | , , ,

10 Komentar »

  1. sangat menarik, makasih n terus berkarya..

    Komentar oleh anang nurcahyo | 3 Desember 2010 | Balas

  2. menarik baju mas….

    Komentar oleh dekatdihati | 23 Desember 2010 | Balas

    • Whkkxkx..,bajune sampean..xixix :D

      Komentar oleh Sang Bayang | 29 Desember 2010 | Balas

  3. sip….tulisane..

    Komentar oleh mrpall | 27 Desember 2010 | Balas

  4. [...] bumi persil ketika sekawanan burung prenjak mecoba usir buih lamunan di penghujung pagi yang sunyi,cericit di antara embun mengalun resah tersudut di atas pagar tembok dan kawat karena dahan-dahan tempat [...]

    Ping balik oleh Tanah Ganjil Bumi Persil « SanG BaYAnG | 13 Januari 2011 | Balas

  5. Ck. ck. ck. bukan main. puisi yang kontemplatif dan menggelitik. salam kreatif…

    Komentar oleh Kang Sastro | 28 Januari 2011 | Balas

    • walah..,ini biasa saja kq Pak..,makasih bnyak..hehehe
      Salam Kreatif.. :D

      Komentar oleh SanG BaYAnG | 28 Januari 2011 | Balas

  6. [...] di permulaan musim dingin kecemburuan membeku ketika rindu membelenggu semua terbungkam tak lagi alunkan irama dalam pasungan tak mampu merapat dalam lafaz yang terikrar [...]

    Ping balik oleh Sajak-Sajak Melingkar « SanG BaYAnG | 11 Desember 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.