RSS

Halilintar Paju

08 Jul

Halilintar Paju
Roman : Sang Bayang

Halilintar PajuKepergian Selvi membuat kosentrasi pekerjaan dan perjalanan karierku makin membaik. Ditambah perkenalanku dengan Koh Liang (orang Taiwan), yang mau bekerja sama dengan perusahaan tempatku bekerja, sangat membantu diriku dalam meningkatkan jabatan. Aku yang dulu bergumul dengan serbuk-serbuk kayu, kini tak harus lagi diperintah-perintah layaknya seorang jongos. Entah karena hokkhi, atau karena kepandaianku dalam membual, hingga para investor asing yang berbondong-bondong ke Jepara ini begitu percaya. Ahh, masa bodoh apapun factornya, yang jelas, ditangankulah abang-irenge PT. GLOBALINDO FURNITURE berada, disinilah aku berkuasa.

Untuk memudahkan urusan kerja, sambil menunggu selesainya pembangunan rumah inventaris, aku diminta untuk tinggal serumah dengan keluarga Pak Yohan (pemilik perusahaan). Yahhh.., rumah lumayan besar yang dihuni Pak Yohan beserta istri dan dua anak gadisnya itu, kini mendapat tambahan penghuni baru, yaitu aku. Aku yang sombong, dan penuh kepalsuan.  Aku yang dulu lugu dengan kaos oblong dan ikat kepala warisan, kini menjelma jadi manusia lain. Ibarat ulat telah menjadi kupu-kupu. Seorang pria berkemeja biru dan tuksedo mahal. Siapapun pasti terpesona, berdecak kagum perihal kesuksesanku. Apalagi dengan atribut selembar kain wajib menggantung dileher dan mobil mewah, makin lengkaplah penampilanku yang gagah. Semua orang  menyanjung dan memuji, sehingga aku lupa siapa dan bagimana aku sebelumnya.

Mungkin benar kata kakeku (So Prawiro Dirjo) yang pernah mengatakan bahwa “Wong kang kadunungan akeh banda iku yen ora ngati-ati, bisa lali amargo sansoyo ombo jangkahe, ateges tambah akeh kekarepane”.

Dan di dalam kehidupan ini, benar atau tidak kata simbah, pembaca gak usah repot mencari orang lain, sebagai contoh, lihat saja diriku yang sekarang, tak ubahnya kacang lupa kulit. Saking lupanya, pada Tuhan pun aku lupa. Segala macam tuntunan baik, bagiku tak lagi memberi arti. Kitab-kitab yang dulu menjadi makanan saban hari, kini tergantikan aneka macam buku panduan sukses dan berbagai strategi cara ngibul agar jalan yang kutapaki melaju kejenjang lebih tinggi.

Perjalanan karierku yang terus melonjak sepertinya tak akan pernah berhenti, sebelum sampai kepuncak jaya sebagai eksekutif muda. Di posisi sekarang, jalan apapun pasti kuhalalkan. Meski harus saling membidik, saling mengawasi, aku tak peduli, yang penting cita-citaku tercapai. Bahkan tak jarang aku menangkap maling dan tukang korupsi sepertiku.

Tak mengherankan jika semangatku dalam meniti karier selalu menggebu-nggebu. Karena aku ingat betul wejangan kakek malam itu, yang berpesan “Jangan pernah ragu ketika menggeluti sesuatu, sebab dalam pergulatan itu, kamu dituntut untuk menjadi pemenang”.

Rupanya, aku salah dalam menafsirkan petuah simbah. Itulah sebabnya, mengapa aku selalu menendang siapapun yang kuanggap jadi penghalang, dan akan menyingkirkan siapapun yang merintang.

Sampai disini kerakusanku makin tak terkendali, sebab apa yang kuingin pasti terpenuhi, jangankan miras berkelas, pelacurpun kugauli. Bermain wanita adalah hal paling aku suka. Di dukung penampilanku yang bregas, kumis tipis, serta senyum dekik dan bicaraku yang galak kayak halilintar paju menghujam, membuat banyak wanita langsung verliefd (terpikat) seketika melihatku. Tanpa terkecuali si isma dan si ika (anak pemilik perusahaan), hatinyapun dapat kululuh-lantahkan, dengan berbagai hujanan barang-barang mahal dan rayuan gombal. Keserkahanku makin melonjak, ibarat “di kasih hati merogoh ampela”. Akhirnya dengan bantuan sekian banyak dukun pelet, Bu Andini (istri Pak Yohan) juga kuembat dan bikin sampai kelpek-klepek perasaanya.(Bersambung)

Urutan Cerita :
1.Bayangan Tak Bertuan.
2.Halilintar Paju.

  • NB: Ini cuma sepenggal kisah fiktif dan rekayasa belaka, yang akan terus bersambung selama jari masih sempat menorehkan kata, jadi tidak ada hubungan dengan kehidupan yang sebenarnya. Maaf.., jika secara kebetulan ada kesamaan nama, tokoh dan tempat kejadian yang mirip dengan apa yang diceritakan di atas, itu bukan sebuah kesengajaan.

Ambarawa, 09-Jul-12
*Halilintar Paju*
(Roman kehidupan : Sang Bayang)

 
43 Komentar

Ditulis oleh pada 8 Juli 2012 in Cerpen, Roman

 

Tag: , , ,

43 responses to “Halilintar Paju

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 548 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: