RSS

Empat Jam Setengah

27 Jul

Empat Jam Setengah
Roman : Sang Bayang

***
Kurang ajar sekali perempuan ini, pikirku. Apa dia tidak kenal dengan aku si Halilintar paju, hingga berani berkata seenak mulutnya. Siapa perempuan sundal nan berengsek ini. Batinku menggerutu. Karena merasa diremehkan, karena merasa dipermalukan dihadapan umum. Apalagi oleh seorang perempuan. Aku geram, aku marah, dengan perlakuan ini. Dengan congkakanya emosiku memuncak. Sebuah tangan terulur menjuntai dihadapku yang mengajak bersalaman itupun, kutepis dengan keras.

Arkh.., aku langsung berdiri dan..

“Kamu ini kenapa..???”

“Apa yang membuatmu berubah sejahat ini, hingga tak mengenaliku lagi.”

“Apakah kamu sudah-benar-benar melupakanku..???”

Berbagai pertanyaan ini menghujaniku dengan kata-kata yang membuatku tak sempat untuk menjawab.

Sebelum emosiku surut, sontak tubuhku terlonjak kaget. Seperti disambar halilintar, tubuhku bergetar, saat melihat sosok berdiri dihadapanku, yang ternyata adalah Selvi. Yahh.., Selvinia Nilamsari yang pernah kukenal akrab beberapa tahun lalu. Ketika kami masih menjalani hidup layaknya “Bayangan Tak Bertuan”. Kini dia ada disini, dihadapanku. Dengan keanggunanya yang menawan, membuatku tak bisa berkata-kata selain memuji.

“Sang..”

Sadarku terhenyak dari keterkejutanya, kala bibir mungil itu memanggilku dengan lembut. Bayangan akan masa lalu, dimana dan bagaimana kami mengalami hari-hari yang penuh penderitaan, kini kembali terpapar begitu jelas, seolah aku terseret dalam kenangan masa silam dan memasukanku kembali diantara lembaran-lembaranya.

“Sang..” sekali lagi perempuan itu memanggilku.

“E.. eh.., iya Sel.., kenapa..???” jawabku yang setengah tergagap diantara rasa haruku pada sebuah pertemuan yang tak pernah kubayangkan.

“Kamu ini sebenarnya kenapa. Kok tiba-tiba saja sejahat ini.” tanyanya yang seolah tak percaya dengan perubahan sikap dan kepribadianku.

“Sang.. ini aku.., Selvi..”

“Selvi yang dulu pernah kamu kenal..” pernyataanya kembali yang seolah menyadarkan,mengingatkan dan meyakinkanku pada apa yang kulihat.

Tetap tanpa jawab dan tak ada yang kulakukan selain menghela nafas panjang sambil menahan malu atas perlakuanku. Aku malu pada diriku sendiri, malu karena telah berbuat kasar pada Selvi. Selvi yang seharusnya tetap kusayangi seperti dulu, dan tak seharusnya kusia-siakan. Karena, aku memang menyayangi Selvi sedari dulu. Perasaan ini, tak akan mungkin tergantikan oleh siapapun dan apapun. Mungkin hanya karena keangkuhanku selama inilah yang membuat semuanya harus berubah.

Keharuan akan pertemuan ini menguasaiku dalam keadaan serba salah, ketika sepasang tangan lembut itu tiba-tiba saja merengkuhku untuk masuk kedalam pelukanya. Aku diam, aku membisu. Hanya menyambut dan membalas apa yang dilakukan Selvi, itulah yang sempat terpikir. Walau kusadari, bahwa aku juga merindukanya, namun tak seharusnya ini kulakukan. Sebab aku sedang di muka umum. Terlebih lagi, kini dia telah bersetatus sebagai istri dari seseorang.

Layaknya muda-mudi yang sedang kasmaran, kami saling berpelukan erat tanpa mempedulikan keadaan. Rasa rindu itu, terlalu dalam terpendam hinga sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata. Pertemuan ini membuat kami lupa pada diri masing-masing. Lupa pada setatus. Bahkan melupakan segalanya. Tak ada yang kami pikirkan dan ingat, selain indahnya kenangan masa lalu dan melepaskan segala beban hasrat sejuta rindu ini.

“Sang.., aku mengerti.. “

“Aku mengerti.., jika pertemuan ini tak pernah kau harap. Namun.., biarkanlah aku memelukmu. Karena selama ini.., aku selalu merindukanmu. Biarkan rasa rinduku terobati.., walau itu cuma sesaat. Biarkanlah aku menikmati. Sebelum kau pergi.., sebelum aku kehilanganmu kembali..”

Bisikan lembut itu lamban terdengar penuh dengan pengharapan.

Mendengar ini, sesak rasa dadaku. Setiap desah nafas yang kuhirupun terlalu berat untuk kuhembuskan. Aku hanya bisa berkata lirih dengan mata terpejam selama ada di dalam pelukanya.

“Sel.., andai benar kau mengerti dengan apa yang kurasakan. Mungkin kita dipertemukan, dalam keadaan tidak seperti saat ini. Sekarang, biarkanlah semua ini berlalu dan menjadi penghias isi lembaran-lembaran,di dalam buku harianmu. Kita mesti sadari. Bahwasanya.., semua kerinduan-kerinduan itu, kini sudah tak berarti lagi, bagi dirimu, dan juga aku.”

Semakin berat rasanya ku ungkapkan kata-kata. Aku begitu hanyut. Aku larut dalam suasana kesyahduan dan terbawa pada romantisme situasi yang tidak sengaja tercipta ini.

“Biarkanlah.., semua menjadi kenangan yang indah. Dan menjadi bagian dari sebuah perjalan. Perjalanku.., juga perjalanmu. Jalan berbeda yang membentang diantara kita. Jalan yang tak bisa kita lalui bersama. Biarkanlah kelak.., ini menjadi bagian dari sebuah kisah, yang akan kita ceritakan bersama. Kepada anak-anaku, juga kepada anak-anakmu.”

Perkataanku yang terus mengalir terputus-putus ini, mengiringi ritme sebuah simfoni yang mengalun lamban. Notasinya yang indah menyadarkanku akan arti sebuah cinta. Menyadarkan diriku, siapa sesungguhnya yang kucintai dan abadi dihati. Satu jam dari pertemuan empat jam setengah ini membuatku mengerti, siapa sesungguhnya orang yang mencintaiku. Siapa sesungguhnya, yang dengan tulus menerima aku apa adanya sejak pertama kali bertemu. Keadaan-keadaan hatiku yang seperti inilah yang membuatku tak mampu berpaling dari kenyataan, bahwa saat ini aku menikmati. Hyeah.., aku menikmat. Menikmati pelukan Selvi yang ‘mak nyus..’ :mrgreen: (Bersambung)

Cerita selengkapnya akan di update secara berkala di dalam kategori : Roman Sang Bayang

Ambarawa, 38 July 2012
*Empat Jam Setengah*
(Episode : Roman Sang Bayang)

 
37 Komentar

Ditulis oleh pada 27 Juli 2012 in Cerpen, Roman

 

Tag: ,

37 responses to “Empat Jam Setengah

  1. Dian

    21 September 2013 at 00:14

    ditunggu lanjutannya mas..

     
    • SanG BaYAnG

      21 September 2013 at 03:14

      Hehehehe.., terimakasih banyak karena kesudiannya untuk membaca karya sederhana dan masih belajar ini Mbak Dian. Setelah puisinya jadi, doakan saja mudah-mudaha roman ini bisa segera terselesaikan ya Mbak.

      salam santun selalu.. :D

       
  2. Yohanes Andika

    29 Juli 2013 at 19:54

    Reblogged this on Yohanes Andika Eka Putra and commented:
    keren blognya :)

     
  3. dany_capri

    15 Juli 2013 at 01:37

    “ini menjadi bagian dari sebuah kisah, yang akan kita ceritakan bersama. Kepada anak-anaku, juga kepada anak-anakmu……”, wah cerita pelukan paska nikahnya mau diceritakan juga kah?? nice post gan

     
    • SanG BaYAnG

      15 Juli 2013 at 01:49

      Hehehe.., cerita ini masih senantiasa ditulis dalam sebuah dokumen yang tidak dipublikasikan Mas. Mudah-mudahan saja tetap menjadi sebuah rahasia yang suatu saat nanti akan terungkap kebenaran dari semua cerita itu.

      Terimakasih atas apresiasinya Mas Dany.
      Salam santun dan takzim selalu.. :)

       
  4. fhie3a

    19 Mei 2013 at 19:28

    ini… seperti kisah kekasih saya dg mantannya..
    dan saya… bagaimanakah nasib saya selanjutnya??

     
    • SanG BaYAnG

      20 Mei 2013 at 01:17

      waduh.. *garuk-garuk kepala yang gak gatal*
      gimana yea cara yang lebih simple untuk menyelesaikan kisah selanjutnya..hehehe ;)

       
      • fhie3a

        21 Mei 2013 at 19:30

        What a poor girl I am.. hikz,, hikz,, :p

         
        • SanG BaYAnG

          26 Mei 2013 at 02:03

          Hehehe.., sebenarnya ini masih ada beberapa lembar. Namun sengaja disimpan.. :D

           
          • fhie3a

            28 Mei 2013 at 20:01

            may i know why??

             
            • SanG BaYAnG

              15 Juni 2013 at 04:03

              Hehehe.., udahlah tak usah digagasa.. :mrgreen:

               

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 547 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: