Aku Dan Sang Bayang : Sepeser Kata Tanpa Makna.
Selayang Pandang : sang Bayang.
Diantara keremangan lampu tidur yang dibalut kain biru, dan rendaya yang juga berwarna biru. Sayup kulihat lukisan lawas hadiah dari seorang kawan. Entah mengapa aku menyukainya. Padahal aku tahu betul, jika lukisan ini tak begitu istimewa. Mungkin, karena komposisi warna roman mukanya menggambarkan kepura-puraan seperti diriku yang tidak terkenal inilah, yang membuatku terpikat. Lukisan itu memang mirip sekali dengan diriku. Maka akupun memakai nama samaran sebagai ‘Sang Bayang’ atau mungkin suatu saat nanti dengan anonymous lain yang sama sekali tak mencerminkan kepribadianku. Agar aku bisa menulis semua yang keluar dari lubuk hatiku, tanpa harus tunduk pada syarat-syarat terpenuhinya standarisasi layak atau tidaknya sebuah tulisan. Dengan begini, mungkin aku bisa sembunyi dari para algojo-algojo kata yang seenaknya menghakimi sebuah karya. Sebab aku tak pernah mengerti dari kelompok atau golongan mana orang-orang ini datang, dan tiba-tiba saja mengklaim beraneka macam ketentuan.
Di bagian bawah lukisan itu tertulis jelas “Sepeser Kata Tanpa Makna”. Ini cocok sekali dengan apa yang kutulis. Sebab aku menulis tanpa patokan atau rumus-rumus yang bisa membuatku gila. Oleh sebab itulah, karangankupun tak bermutu dan tak berarti, persis seperti kata “Sepeser Kata Tanpa Makna” di dalam lukisan itu. Tulisanku tidak ada nilainya, tidak artistik, tidak ada stijl dan tidak ada pula strekkingnya. Karena aku memang asal menulis. Asal hatiku terbuka untuk menulis, maka akupun langsung menulis kalimat-kalimat itu layaknya menjala ikan di tambak. Seperti biasa, aku pasti akan menuliskanya tanpa aturan, tanpa metode dan urutan-urutan alurnya yang orang lain bilang flash back atau flash back-back lainya. Sebaliknya, jika hatiku sedang terkunci, seorang pengacara paling hebatpun tak akan mampu mengeluarkan inspirasi dari hatiku, dan Polisi paling berpangkatpun juga tidak bisa mengatur lalu-lintas imajiku. Sebab saat itu, hati dan imajiku sedang tersimpan rapi didalam gantungan lemari yang terkunci, sehingga isi hati dan imajiku sulit untuk di raih dan diketahui.
Selama aku menulis jangan pernah bertanya apa hasilnya..???
Karena aku menulis bukan karena upah dan pamrih. Meskipun aku mengarang sampai bertele-tele, tidak ada yang kuinginkan selain adanya suatu keyakinan. Keyakinan atas diriku, keyakinan akan sebuah kebenaran bahwa hidup ini hanyalah seperti bayangan. Bagai mimpi yang tak bisa diatur, hidupkupun tak beraturan. Melalui keyakinan inilah aku bisa menulis sambil tertawa dan bersedih dengan segala penderitaanya. Ketika menulis, kadang aku ingin seperti ‘Pak Sawali Thusetya’ yang menjadi ‘Guru sastra Untuk Semua’, namun aku terlalu miskin kata dan gagap dalam berbahasa. Kadang juga terlintas dalam pikiran, bagaimana kalau aku jadi penyair saja, agar bisa mengikuti jejak ‘Mbah Hardo Sayoko’ menjadi “Penyair Negeri Rembulan”, yang melanglang buana sampai ketanah seberang, dengan rangkaian kata indah dan sejuta kiasan kisahya. Ahh.., itu tidak mugkin jika aku harus meniru dan berpura-pura menjadi Mbah Hardo. Diriku sudah cukup palsu dengan berbagai karakter anoniem, dan aku tak ingin menambahinya lagi dengan berbagai kepalsuan sebagai manusia yang tak pernah diketahui persisnya seperti apa. Namun, walau sedemikian rupa palsunya, aku tak bisa menanggalkan begitu saja nama “SanG BaYAnG” yang bisa menjadi aku dan juga bukan diriku. Itulah sebabnya, mengapa ‘Aku’ dan ‘Sang Bayang’ selalu bersama dan menjadi satu kesatuan yang sulit di pisahkan, apalalagi dibedakan.


Hardho Sayoko SPB
31 Juli 2012 at 21:42
Betul, jangan pernah meniru simbah yang hanya seorang pengamen sajak jalanan, tetapi jadilah diri Sang Bayang sendiri, yang gagah dan percaya diri serta tak pernah jeda berkarya untuk bangsa dan negeri yang dicintainya.
SanG BaYAnG
31 Juli 2012 at 22:01
Terimakasih sekali atas petuah-petuahnya simbah.., semoga semua karya-karya simbah langgeng dan kan selalu memberi inspirasi bagi kami yang muda-muda ini..
Salam Karya..
Salam Puisi
tiara
30 Juli 2012 at 07:13
setiap orang memang punya ciri khas masing-masing ya dalam menulis
SanG BaYAnG
31 Juli 2012 at 18:10
Begitulah mbak kiranya.., sebab pada dasarnya manusia memiliki berbagai banyak perbedaan dalam segala hal..
yisha
30 Juli 2012 at 03:17
hmmmmmm………..pening, yisha pening………..
SanG BaYAnG
31 Juli 2012 at 18:09
Mimik ubat lah mase..
Triyoga Adi Perdana
30 Juli 2012 at 03:05
Wah mantap masbro.
Gak ada yang ngalahin ama suara hati deh, dan gak akan ada yang bisa menilai suara hati, yang bisa kita lakukan mungkin hanya ‘mengira-ngira’ suara hati kali ya.
Judul comment: Suara Hati.
SanG BaYAnG
31 Juli 2012 at 17:46
Aha..hahaha.., terimakasih kembali mase.., begitulah kiranya apa yang ane rasa,,
Lah.., comment-nya berjudul euy.. wkxkxkx
Triyoga Adi Perdana
31 Juli 2012 at 21:41
Wah, gundah gulana ketoke ki. Hehehe
Comment 2012 mas e, wes kyo ngirim email ae.
SanG BaYAnG
31 Juli 2012 at 21:49
Kurang lebihnya begitu mase.., karena gudahku merindukanmu..
Iyah.., setelah ngirim email trus SMS : Mas gambare tak kirimken emailmu, wis mbok buka urung #pengalaman di email temanku..
Triyoga Adi Perdana
1 Agustus 2012 at 06:08
Wakakakakak. Gombal gambel gitu ujung2nya mas.
Buahaaaa. . Pengalaman menarik.
SanG BaYAnG
2 Agustus 2012 at 01:16
Sekali-kali ngegombal lah mase..
Triyoga Adi Perdana
2 Agustus 2012 at 01:22
Haha. . Sing penting enjoy wae massssbroh.
SanG BaYAnG
2 Agustus 2012 at 01:24
Begitulah mase.., Joyen..
fannynovia
30 Juli 2012 at 00:26
Menulis itu menurut aku bebas berkreatifitas Mas..dan masing2 orang punya cara dan gaya tersendiri dalam menulis…
terus menulis yo Mas…:-)
sangbayang
30 Juli 2012 at 00:58
Hyah.., menulis tanpa batas.
Okey lah mbakayune.., terimakasih atas dukungan semangatnya..