RSS

Kusuma Bantala

05 Agu

Kusuma Bantala
Sajak Berantai : Sang Bayang

*
Masih kuingat, peristiwa malam di perbatasan,
pesawat-pesawat tempur itu
membombardir, memporak-porandakan kampung
serata tanah bergenang darah,
mayat-mayat bergelimpangan
di antara lengking menyanyat
jeritan-jeritan meratap resah,
berbaur tangis,
kala bocah-bocah mendekap, jasad-jasad sekarat.

Ketika dukaku menyeruak,
jiwaku berkalang tanah
tanganku penuh darah, semerah bara dendam
di persimpangan setasiun gemawang.
Simbahan darah dalam peluku,
berjibaku, dengan kesumat jiwa
untuk melumat sepasukan kompeni
yang bercokol di ambarawa ini.
Janjiku suatu saat nanti, pasti
akan kuhancurkan
segala bentuk kuasa penindasan
pasti, kuremuk tulang-tulang mereka
laksana menggenggam arang.

**
Mataku nanar,
menembus malam setajam pedang
menyusuri tangsi-tangsi,
menelusup markas-markas persembunyian,
dari post satu yang kosong, langkahku mencari kawan
di post empat, kepalaku ditodong senjata,
sebelum mampu memegangnya,
untuk perang melawan penjajahan.

***
Tak bosan hijrah,
dengan rasa was-was
berpindah dari satu kota ke kota lain
telusuri desa-desa, mengawal bahaya
menembus bukit-bukit,
dengan tandu di pundak,
membelah rintangan
dalam asuhan panglima sudirman
yang tak pernah lelah,
menggempur tangsi-tangsi,
menggedor benteng-benteng pertahanan
menyulut kobaran api, di hati generasi
yang tersudut dalam ruang kekerdilan.

****
Disini,
atas nama kemanusiaan,
membangun asa
membunuh dendam dengan kata merdeka
demi nama sebuang bangsa
demi kemerdekaan seutuhnya,
tanpa campur tangan pemerintahan
kolonialisme yang menindas, memeras
menguras hasil bumi negeri ini.

*****
Ambarawa sepi
dan Jogja, harus kembali
kala langkah-langkah tenang
berwibawa
memanggul senapan rampasan,
membuka jalantembus
di sepanjang rel kereta arah Jogja.

Tenang dan sunyi
setenang langkah sebuah perjuangan
sesunyi jiwa-jiwa yang telah mati.
Di tengah kekacauan
rasa was-was mengahantui
di atas butiran-butiran kerikil.

Entah, berapa puluh senjata
mengintip langkah tanpa sadar, dan..
DOR..
dor.. seterusnya tak terelakan
tak henti menembaki
seperti lapar mencari mangsa,
peluru itu nyasar
menembaki kami, seperti menembak babi,
memberondong ratusan peluru
hingga tak satupun,
tertahan dalam selongsong.

Di atas bantalan rel ini aku tersungkur,
melukis abstrak batuan kerikil dan rel
dengan ceceran-ceceran darah,
hingga aku terbaring lemah,
memegang dada
yang penuh luka-luka
menjadi sarang peluru.

******
Lihatlah.., darah-darah segarku
yang mengalir
membasahi bumi
dimana kelak kau tinggali.
Mengalir
menjadi ujung tombak sebuah perjuangan,
menjadi korban sebagian kecil keganasan,
yang bukan sekedar tumbal sebuah kemerdekaan
yang bukan cuma harus diraih pada hari ini.

Bantalan rel kereta api ini
menjadi saksi sebuah pengorbanan
di antara gerigi
kerikil-kerikil saksi bisu kematian
kala tiada isak menyeru dalam jiwa
tiada kata
selain kata merdeka
dan merdeka
walau harus mati
dan tak terkenang lagi.

*******
Hari, bulan dan tahun
lewat begitu cepat
setenang malam
di bawah payungan sinar bulan
angin,
menderu laksana nyanyian hantu
di atas batalan rel bergerigi,
langkahmu kian sunyi
meninggali jejak,
yang kelak kami temui
dalam sebuah perjuangan
menuju kemerdekaan yang hakiki,
hingga suatu saat nanti,
tanpa nama ku kenali
ketika yang ada
tinggalah sisa-sisa
benih api masa silam
yang masih terpendam
di antara rindu
dan cinta para penyayang negeri
yang menemukan muaranya sendiri
untuk melanjutkan perjuangan
yang tidak harus dengan perang.

Ambarawa, 05 Agustus 2012
*Kusuma Bantala*
(Dalam Bait : Detik-Detik Perjuangan)

*@_@*
Sajak berantai : Sang Bayang
Dalam coretan iseng refleksi detik-detik perjuangan dimasa kamerdekaan.
Untuk mengenang para pahlawan yang telah gugur dan dimakamkan di taman makam pahlawan ‘Kusuma Bantala’.

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 5 Agustus 2012 in Puisi, Sajak, Sajak Berantai, Syair

 

Tag: , , , ,

8 responses to “Kusuma Bantala

  1. Senjakala Adirata

    6 Agustus 2012 at 13:54

    jadi teringat sajaknya Soebagyo Sastro Wardojo yang berjudul Daerah Perbatasan. Kita memang selalu diantara dua hal, antara menang dan mati. :)

    sajak perjuangan ini terkesan humanis dan heroik. :D

     
    • SanG BaYAnG

      6 Agustus 2012 at 18:33

      Wah.., malah belum pernah baca yang itu mase.. :D

      Itulah makna dari sebuah perjuangan, tapi ini sekedar ngawur untuk mengenang saja kq, kalau mase pernah naik kereta Ambarawa-Bedono pasti melewati lokasi TKP-nya..
      #halah.., malah dadi promosi.. :mrgreen:

       
      • Senjakala Adirata

        8 Agustus 2012 at 11:56

        dari dulu wira-wiri di ambarawa, tapi belum pernah naik kereta di situ :mrgreen: hahahahaha, aneh aku iki

         
        • SanG BaYAnG

          8 Agustus 2012 at 17:46

          Lah.., pripun tah sapean iki wkxkxkxkx..

           
  2. Ilham

    5 Agustus 2012 at 20:40

    membaca ini saya terbayang pembantaian di mesuji… :(

     
    • SanG BaYAnG

      5 Agustus 2012 at 20:48

      Tapi ini bukan pembantaian loh mas.. :mrgreen:

       
      • Ilham

        5 Agustus 2012 at 20:50

        ya makanya itu. jaman penjajahan dulu mungkin lebih sadis lagi.

         
        • SanG BaYAnG

          5 Agustus 2012 at 20:58

          Kurang lebihnya begitulah mas.., perjalanan pasukan yang terjebak di antara dua tebing dan dalam kepungan pasukan musuh itu.. :D

           

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 547 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: