Binatangku Manusia
Cermin : Sang Bayang
Sebagai manusia kadang aku tak mengerti, tentang perilakuku yang menyukai kebersihan, tanpa terkecuali bersihnya tindakan dan sikap yang terlalu baik dan kubuat tampak baik dimata orang lain, semua itu cuma untuk mendapat sanjungan, menjadi pahlawan atau di anggap dewa bagi sesama. Di lain hari bisa saja aku berubah menjadi pemuja kegelapan dengan segala hal yang aku sukai, termasuk menyukai najis dan kotoran sekalipun yang membuat diriku tak ubahnya seperti hewan, sehingga yang kulakukan tak beda jauh dengan apa yang dilakukan oleh binatang.
Bicara soal keberanian, bisa saja aku lebih berani dari banteng. Tak peduli walau luka-luka. Tetap maju, mengamuk, menghancurkan musuh-musuh. Namun satu hal yang tidak kusadari, lama-lama aku bisa mati kehabisan darah, dan bila sudah begini keberanian yang kumiliki juga tidak mampu menolong jiwanku. Mungkin benar juga kalau aku hanyalah binatang yang memakai ratio dan memiliki akal. Celakanya.., andai akal itu kucopot maka tinggalah binatangnya saja, dan ini berarti tidak ada bedanya antara aku dan binatang.
Ngrambe, Agustus 2012
*Binatangku Manusia*
(Dalam : Sepenggal Nurani Yang Hilang)


Ummu El Nurien
13 Agustus 2012 at 21:16
Manusia memang mempunyai dua unsur sifat,, malaikat dan hewani,, yang keduanya pasti terjadi tarik menarik, beruntung bila sifat malaikat yang menang pada jiwa seseorang..
didalam alquran bahkan dijelaskan ; ada manusia yang lebih rendah dari pada hewan ,, yaitu mereka yang punya hati tapi tak memahami, punya mata tapi tak melihat ,, punya telinga tapi tak mendengar ( tak mengambil ibrah dari berbagai ciptaan Tuhan, dari berbagai kejadian dan berbagai kebaikan2) Allahu a’lam
Terimakasih telah mampir kegubukku ..
salam …
SanG BaYAnG
13 Agustus 2012 at 21:28
Iya mbakyu.., dua sifat yang terpecah menjadi empat dan kemudian terpecah lagi menjadi 25 sifat wadak manusia yang hanya di lawan oleh satu kekuatan.., sungguh luar biasa andai kita bisa mengalahkan semuanya..
Terimakasih kembali mbakyu..
sama sama..