Pasar Projo Kobong
Puisi : Sang Bayang
Nasib malang berserakan
senasib pemilik kios
pedagang pedagang asongan
berlari
berteriak
di iring tangis
tercabik jerit rintihan-rintihan menyayat
terbakar bersahut letusan
kayu patah
asbes-asbes retak
pecah berantakan
runtuh satu persatu
bergelimpangan
serpihan-serpihan
terlempar
bara arang berserakan
hancur lebur
tumpang tindih
dengan secuil asa tak mujur
Di samping jembatan penyeberangan
dinding-dindingĀ gosong
terkelupas
dagangan ludes
raib di lalap api
di antara sisa puing tangisan
wajah wajah murung
bingung
berkalang kabut
menjemput mimpi
menjelang lebaran ini
Mendung seraut wajah
di hadang sedih seburam esok
jawabmu adalah separuh badan jalan
yang biasa macet
terganti kesibukan baru
di jalan itu
tak enggan memanggul matahari
tak segan terbentur langkah
lalu lalang melaju tenang
kala pembeli mengeja harga
menabur senyuman paksa
bercanda dengan duka yang belum terkubur
Ambarawa, Agustus 2012
*Pasar Projo Kobong*
(Pasar Projo Ambarawa)


violetcactus
17 Agustus 2012 at 17:27
musibah apa cobaan? kobong opo diobong?
pernah kejadian di daerah saya pasar kobong, tapi dari tanda2nya, sangat banyak yg curiga kalo itu cuma akal2an pihak penguasa untuk membangun pasar baru yg lebih wah…
SanG BaYAnG
17 Agustus 2012 at 17:57
Begitulah ketika sebuah fenomena tak mampu mewakili sebuah fakta, semua hanya menjadi teka-teki dalam batasan praduga.
Semoga saja kita semua bisa berfikir jernih dalam menyikapi segala hal.
Terimakasih mbak..
Selamat atas pembangunan pasarnya yang lebih wah..
pena usang
16 Agustus 2012 at 03:00
Puisi yang ditulis berdasar kejadian real itu emang lebih mengena ya, hebat
SanG BaYAnG
16 Agustus 2012 at 17:48
Terimakasih mas..
Semoga saja banyak kejadian real yang terus terungkap dalam sebuah karya seni berbohong yang indah
pena usang
16 Agustus 2012 at 21:22
Amiiin mas, karena susastra atawa sastra memang jalan yang tepat untuk menyampaikan realita yang selama ini terselimuti, dan sudah saatnya dunia literasi kembali seperti dulu, kembali pedas menyikapi kondisi negeri
SanG BaYAnG
16 Agustus 2012 at 21:30
iyah mas..
hehehe.. mengingat kata pedas jadi ingat masa lalu
kakaakin
14 Agustus 2012 at 17:52
Innalillah…
Banyak terdengar kejadian kebakaran di bulan Ramadhan ini…
SanG BaYAnG
14 Agustus 2012 at 18:02
Begitulah mbakyu.., entah musibah atau obaan kah..??? hanya Tuhan yang tau..
mew da vinci
14 Agustus 2012 at 15:04
Awalnya ingin membalasnya dengan puisi juga..
tapi sehabis membaca puisi ini, kok rasa-rasanya puisi saya melayang entah kemana ya?
SanG BaYAnG
14 Agustus 2012 at 18:01
Lah.., kemana jatuhnya mbakyu..
#berharap puisi itu jatuh disini..
Mila
14 Agustus 2012 at 12:38
ya ampun, jadi inget berita di tv tadi siang … anak 2 tahun tewas terpanggang di rumahnya yg kebakaran, ngeriii
SanG BaYAnG
14 Agustus 2012 at 18:04
Hiii.., jadi merinding ah..