RSS

Dua Bait Sebuah Rasa

16 Agu

Dua Bait Sebuah Rasa
Sajak Berantai : Sang Bayang

Lima tahun di pembaringan asing
sia-sia kesendirianku menempuh sepi
kau rangsek bunga-bunga yang tak kuncup sirnakan duri
kala udara kamar, memar tanpa selaput ruang
membuat paruku mengeluh penuh batu
serasa sempit rongga liang lahat kuhisab
seakan siap menimbun dengan segunduk tanah

Di luar sajak dan puisiku
mungkin.., aku menangis tanpa nada jelas
tak pernah menjelaskan hidupku yang berputar-putar
dalam lingkaran bait sajak tanpa sudut
sedangkan hidup kuharap indah, dengan lekukan seginya
hingga kau bilang iya dalam rasa yang menggema
ketika cinta terucap tak lagi sumbang

Ambarawa, Agustus 2012

 
22 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Agustus 2012 in Puisi, Sajak, Sajak Berantai, Syair

 

Tag: , , ,

22 responses to “Dua Bait Sebuah Rasa

  1. shortpend

    17 Agustus 2012 at 05:50

    puisi ini menjelaskan tentang suasana hati sang penyair, dimana dirinya seolah tak mengerti dirinya/ tak mengenal dirinya(pembaringan asing..) namun berharap ada seseorang yang mengisi celah-celah di lubang hatinya(sia-sia kesendirianku menempuh sepi
    kau rangsek bunga-bunga yang tak kuncup sirnakan duri). Ini dibuktikan dengan munculnya kata tokoh ‘kau’ di sini. Kau boleh jadi adalah teman, keluarga atau kekasih..

    lebih jauh penyair berusaha menggambarkan betapa dirinya benar-benar diliputi kegundahan dengan kalimat yang manis sekali(kala udara kamar, memar tanpa selaput ruang
    membuat paruku mengeluh penuh batu
    serasa sempit rongga liang lahat kuhisab
    seakan siap menimbun dengan segunduk tanah)

    Paragraf kedua lebih menjelaskan tentang pelarian sang penyair, dimana ia melarikan segala rasanya yang berkecamuk itu. Puisi, syair adalah jawabannya. meskipun syairnya itu tidak bisa menjelaskan tentang kepedihannya secara utuh(Di luar sajak dan puisiku
    mungkin.., aku menangis tanpa nada jelas
    tak pernah menjelaskan hidupku yang berputar-putar
    dalam lingkaran bait sajak tanpa sudut
    sedangkan hidup kuharap indah, dengan lekukan seginya)

    Lalu penyair menutup dengan kata kunci ini(hingga kau bilang iya dalam rasa yang menggema
    ketika cinta terucap tak lagi sumbang..). penutup yang manis, bahwa ada sesuatu yang paling diharapkan oleh penyair untuk bisa mengatasi kegundahannya/kepedihannya itu, yaitu ketika cinta terucap tak lagi sumbang….thanks.

    saya berusaha menikmati puisi anda, salam

     
    • SanG BaYAnG

      17 Agustus 2012 at 17:51

      Hehehe.., Pinter sekali si Om ni.. :D
      Andai disuruh menjabarkan seperti sampean ini, yakin deh kalau saya pasti tak bisa :mrgreen:

      Salut.. salut.., jempol dua deh pokoknya..unutk si Om..
      Terimakasih sekali Om.., selamat menikmati.. :)

       
      • shortpend

        17 Agustus 2012 at 18:25

        hikz..ternyata ente keponakanku yang tercecer y

         
        • SanG BaYAnG

          17 Agustus 2012 at 18:29

          Mungkin juga Om.., saya kan juga salah satu manusia yang tak pernah tahu sejak kapan menjadi benih tertanam kemudian hidup.. :mrgreen:

           
          • shortpend

            17 Agustus 2012 at 20:55

            haha,, jangan-jangan kamu bukan berasal dari benih dari seseorang yang kamu anggap sebagai orang tuamu…bisa dicek tuh…heheheh***senang bercanda dengamu

             
            • SanG BaYAnG

              17 Agustus 2012 at 21:01

              Iyah.., sebelum di cek tak fermentasine dulu :mrgreen:
              adakah manusia yang tahu sejak kapan ia menjadi embrio.. :roll: wkxkxkxkx..

               
  2. Ni Made Sri Andani

    17 Agustus 2012 at 04:41

    “hidup yang berputar-putar…” mungkin serupa dengan putaran-putaran yang juga dimiliki oleh orang lain,namun tak terkspresikan..

    Nice poetry..

     
    • SanG BaYAnG

      17 Agustus 2012 at 17:46

      Terimakasih Mbak Andini.. :)
      Semoga akan banyak putaran yang terekspresi ya mbak.. :D

       
  3. yisha

    17 Agustus 2012 at 03:13

    hmmmmmmm…………………

     
  4. bintangtimur

    17 Agustus 2012 at 02:21

    Ehm, ehm…cinta memang punya banyak rasa…dua bait sebuah rasa ini salah satunya…
    Romantiiiiis :)

     
    • SanG BaYAnG

      17 Agustus 2012 at 17:44

      Hehehe.., Mbak er..
      Pa kabar mbak..???
      Terimakasih sekali dah sudi mampir.. :D

       
  5. Ely Meyer

    16 Agustus 2012 at 19:02

    suit .. suit .. akhirnya bersatu

     
    • SanG BaYAnG

      16 Agustus 2012 at 19:27

      Semoga harapan itu terpenuhi.. :D

      E’eh.., ini piantun putri kq yo pinter men suit suit :mrgreen:

       
  6. zasseka

    16 Agustus 2012 at 18:12

    wah wes… tambah jero tulisane.. tambah angel aku ngoyok… :(

     
    • SanG BaYAnG

      16 Agustus 2012 at 18:39

      Weh.., ngenyek.. :P

       
      • zainal

        16 Agustus 2012 at 20:18

        hehe..
        Bandem kupat wae..

         
        • SanG BaYAnG

          16 Agustus 2012 at 20:44

          Wkxkxkx.., aku ya cocok kih
          Gaweken kupate ndang.. :D

           
      • zasseka

        17 Agustus 2012 at 16:43

        halah… malah di omong ngenyek.. :D hahahahha

         
    • zainal

      16 Agustus 2012 at 20:20

      ngoyok’e numpak sepur,sob..
      Hehe..

       
      • SanG BaYAnG

        16 Agustus 2012 at 20:45

        Halah.., berapa skala rigther kih :D

         

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 547 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: