Sajak Yang Kesepian
Sajak : Sang Bayang
Malam demikian samar wajahmu tergambar, sesamar mimpi yang tak pernah kuakui, bahwa aku mencintai sepinya malam ini.
Separuh bulan di atas langkah malam terbelah, menyisir ingatan peta dalam sebuah sajak, ketika raga tak lagi bersua.
di palung palung rindu kucari nama, diantara karang yang tak lagi indah, dimana lagi tempat cinta di tempa..???
Kemana rahasia sembunyikan tanur tanur asa, aku senantiasa mencari jawab atas sebuah tanya, oh..kemana..???
Entah berapa kali ku eja waktu, yang kutemui hanyalah teka teki sepanjang jejak, sejauh mana kaki melangkah.
Ambarawa, Agustus 2012


guru satap
30 Agustus 2012 at 18:17
Sajak yang indah. Namun bahwa setiap penanda memiliki makna. Maka aku bertanya;
apa maksud dari elipsis dan tanda tanya yang jamak itu?
salam.
SanG BaYAnG
30 Agustus 2012 at 18:26
hehehe., sekedar penulisan jamak atas tanya dan pencarian tak terhitung jumplah sepanjang waktu yang ditegaskan pada kalimat akhir pada sajak pak..
guru satap
30 Agustus 2012 at 18:39
Baik, terima kasih atas keterangannya Mas. Tetapi lazimnya, terlepas dari kaidah licentia poetica, bahwa elipsis mestinya sejumlah 3 titik atau 4 titik jika di akhir kalimat. Lalu sudah ada tanda elipsis yang menandakan “sangat” tapi mengapa tanda tanya mesti ada sejumlah 3? he.he..
Maaf lho Mas, saya banyak bertanya. Yah, mumpung ada nara sumbernya.
SanG BaYAnG
30 Agustus 2012 at 19:01
Mengapa ada banyak..??? cuma kebiasaan menulis (.., ..???, ..!!!) agar lebih enak dilihat dan penggambaran tanya yang tak terhitung seperti kata “hahaha..ha”
Berjumplah tiga sekedar cara saya untuk menarik perhatian tanya yang belum pernah saya jumpai pada penulisan syair pak, dan tanda “.., ..???, ..!!!) sering kali ada pada tulisan saya..
Hehehe.., Ah.. Bapak Guru ini ada-ada saja, seharusnya saya yang harus bertanya kepada Bapak.
Ndak apa-apa Pak, mudah-mudahan ada jawab atas segala pertanyaan.
Wah.., maaf juga Pak, jangan terlalu berlebihan, saya bukan narasumber seperti yang Bapak ungkapkan. Lbih baik saling berbagi daripada saling memuji Pak
itatea
26 Agustus 2012 at 11:01
sing:kemana kemana kemana…?
)
(biar nyambung ama puisinya….
nb.maaf lahir bathin yo mas bayang hehe
SanG BaYAnG
26 Agustus 2012 at 17:20
Anggap aja nyambung mbakyu.., kalau gak nyambung ntar kita lem pake upo..
Hehehe.., maaf lahir bathin juga mbakyu.. salam untuk sikecil yah..
flanelimutku
26 Agustus 2012 at 03:30
suka puisi ya mas? salam kenal, saya juga sangat suka dunia kata-kata
Puisi ini bagus!
SanG BaYAnG
26 Agustus 2012 at 09:36
Kebetulan sedang iseng saja kq mbak..
Wah.., suka duni kata brarti kata katanya pasti hebat donk..
Terimakasih mbak imutku..
flanelimutku
29 Agustus 2012 at 15:08
hm.. gk hebat juga
masih terus belajar kok
SanG BaYAnG
29 Agustus 2012 at 17:52
SIPS.., selamat belajar bersama..
prih
26 Agustus 2012 at 02:43
Pencarian jawab atas tanya dari palung hingga tanur, selamat terus berkarya
SanG BaYAnG
26 Agustus 2012 at 09:31
Begitulah mbak ketika malam hanya memberikan sepi dalam sebuah sajak..
Terimakasih mbakyu..
evi
25 Agustus 2012 at 23:08
Sepi tak merenggut rindu dari jiwa
Malah membahana sebab malam menyimpan cerita
Tentang duka, tangisan cinta dan terputusnya asa
Salam bagimu yg menikmati tepi malam
Bercumbu di sepi tembulsn
..
haha..maksa banget komennya ya Mas…
SanG BaYAnG
26 Agustus 2012 at 09:27
Dipaksa tambah sik asik..mbak evi..
Terimakasih telah mengabarkan nikmatnya tepi malam dalam baluran sepinya rembulan mbakyu..
Ely Meyer
25 Agustus 2012 at 18:00
apakah tanur itu ?
SanG BaYAnG
25 Agustus 2012 at 18:40
Perapian atau “Pembakaran (untuk membakar batu kapur)”
niqué
26 Agustus 2012 at 01:21
untung mbak Ely udah nanya, saya pun tertanya2 tadi tuh
SanG BaYAnG
26 Agustus 2012 at 09:08
Hehehe..
Maka beruntunglah mbakyu..