RSS

Bunga Bunga Retorika

27 Agu

Bunga Bunga Retorika
Sajak Sumbang : Sang Bayang

Senja di padang gersang kepala,
ketika kambing kambing digiring,
pak sekretaris seperti ahli geologi.

Dibawah kemiringan matahari,
isi tengkorak kepala sesak.

Lebih hebat dari dukun ramal mengintip,
berbekal logistik menghitung
berapa banyak jumplah suara di kandang.

Di panggung singgasana ini,
jangan bicara benar ataupun salah,
sebab benar salah hanyalah taburan bunga bunga retorika,
media penyungging topeng keagungan
dari para badebah negeri bayangan.

Ketika nyanyian nyanyian sumbang di perdengarkan
mulut mulut berkumur
semburkan air sebening ludah anyir berbau.

Ketika janji palsu tak lagi menjadi tabu,
tak asing lantang lolongan srigala
dikawal auman segalak harimau
dalam kandang laci tikus tikus ber-arsip.

Panji panji tak lagi suci,
panji panji hanyalah aib,
ternoda disudut kota.

Sementara kambing-kambing buta tertawa,
girang disuguh nikmat sesaat,
dengan selembar amplop tipis berbunga.

Sayu mataku menatap para cengoh,
bersuka sebagai calon korban
kemunafikan kemunafikan para bangsat.

Lihat..,
betapa malang kambing kambing itu.
Menjadi budak pengusung tandu satu nama,
tak lebih baik dari kerbau kerbau budak pembajak.
Demi satu nikmat
sekedar hendak membeli garam dan terasi.

Ambarawa, Agustus 2012
*Bunga Bunga Retorika*
(Sajak Sumbang Negeri Bayangan)

 
38 Komentar

Ditulis oleh pada 27 Agustus 2012 in Puisi, Sajak, Sajak Sumbang, Syair

 

Tag: , , , , , , , , ,

38 responses to “Bunga Bunga Retorika

  1. Ely Meyer

    27 Agustus 2012 at 21:09

    aku ikut nyimak aja ya

     
    • SanG BaYAnG

      27 Agustus 2012 at 21:12

      Silahkan mbakyu.., tentu senang sekali hati ni ketika mbakyu sudi nyimak coretan ini.. :)

       
  2. kakaakin

    27 Agustus 2012 at 17:49

    Hanya demi garam dan terasi, mereka rela menjual harga diri. Begitu kecilnya…

     
    • SanG BaYAnG

      27 Agustus 2012 at 18:49

      Yah.., begitulah faktanya.
      Dengan selembar rupiah berbunga mampu membeli butiran garam tak terhitung jumplah, begitu remeh tak ubahnya sperti terasi dari ribuan rebon yang di tumbuk dan tergilas. :mrgreen:

       
  3. izzawa

    27 Agustus 2012 at 13:59

    saya nggak pandai bikin puisi mas, tapi saya suka bacanya ;-)

     
    • SanG BaYAnG

      27 Agustus 2012 at 17:56

      Terimakasih mbak Izzawa.., semoga embak bisa menikmati.. ;)

       
  4. Senjakala Adirata

    27 Agustus 2012 at 12:35

    kami bukan gerobak
    mengangkat bangsat menggapai kepak
    menuju altar pelangi kelopak
    lantas di giring menuju tengkulak di pasar loak

     
    • SanG BaYAnG

      27 Agustus 2012 at 17:43

      Benar katamu.., namun ketika satu lidi tanpa sapu yang ada hanyalah individualisme cemo’ohan. alangkah indah andai banyak kabar tersiar tentang rebon dan terasi yang mampu menelanjangi makelar panji panji.

       
  5. pena usang

    27 Agustus 2012 at 06:54

    Tikus-tikus berarsip hahaha, ane sangat suka sajaknya mas, ada kepekaan sosialnya, mantapsss gan

     
    • SanG BaYAnG

      27 Agustus 2012 at 17:50

      Terima kasih telah sudi menyukai coretan iseng dari apa yang saya lihat ini mas.. :)

       
  6. Ceritaeka

    27 Agustus 2012 at 05:16

    Pak Sekretaris itu sekdes ya?
    Kalau Carik apa ya? *serius nanya*

     
    • SanG BaYAnG

      27 Agustus 2012 at 17:33

      Wah.., bukankah mbak eka lebih tau pengertian umum tentang sekretaris ne.. :roll:

      Mungkin Carik juga sekretaris tapi cuma tingkat desa dan kelurahan.. :mrgreen:

       
  7. Triyoga Adi Perdana

    27 Agustus 2012 at 04:05

    Saya jadi inget novelnya Tere Liye, negeri para bedebah. Ceritanya di jaman sekrang topeng2 itu sudah menjadi satu kebiasaan orang2 buat nutupin busuknya mereka. Ya mungkin sekarang sudah sering menemukan hal tersebut kali ya. :D

    Mhon maaf lahir batin mas e. Wah, baru berkunjung ke blog ini dari sekian lama pertapaan di kampung. hehehe :D

     
    • SanG BaYAnG

      27 Agustus 2012 at 04:25

      Lah.., ternyata ada novelnya juga tah, ane cuma tau puisinya “Adhie Massardi” aja :D Makasih atas infonya mas.

      Wah.., ‘Minal Aidin Wal Fa’idzin’ jua mase..
      Sama mas, ane jua abis bertapa di kamphlan..hahaha.. :lol:

       
      • Triyoga Adi Perdana

        27 Agustus 2012 at 04:35

        Ada mas. Baru terbit Juli 2012, jalan ceritanya mangstab, bener2 negeri entah dimanapun isinya ‘bedebah’ semua. :D

        Wadew. Mudik atau pergi kemana gak nih mas e?

         
        • SanG BaYAnG

          27 Agustus 2012 at 04:54

          Wah.., seperti entri lama blog ini. Okey mas.., ntar coba cari review-nya aja lah :mrgreen:

          Mudik n jalan-jalan dikampung mase, soale sodarane mutering gelang lawu..wkxkxkx.. :D

           
          • Triyoga Adi Perdana

            28 Agustus 2012 at 02:21

            Ibarat motor, sekarang yang dicari malah yang entri lama mas e. Enjoy aja, belanda masih jauh. hehehe

            Lah gak sekalian lebaran di puncak lawu mas e? :mrgreen:

             
            • SanG BaYAnG

              28 Agustus 2012 at 17:35

              wag.., unik.., okey lah mase.. :D

              Ah.., enggak ah.., waktunya mepet.. :mrgreen:

               
              • Triyoga Adi Perdana

                28 Agustus 2012 at 22:57

                Hehehehe. . Ojo mepet-mepet mas, hayaba. :D

                 
                • SanG BaYAnG

                  28 Agustus 2012 at 22:59

                  Kan anget.. wkxkxxkxkx :lol:

                   
                  • Triyoga Adi Perdana

                    28 Agustus 2012 at 23:26

                    Waduuuuuuuuuuuuuuuhh
                    Tutup mata, tutup hati, tutup pikiran, ojo mikir aneh-aneh. :D

                     
                    • SanG BaYAnG

                      28 Agustus 2012 at 23:40

                      Mbakar jagung manis sini mase.., pagi pagi mantabs sambil ngangetin badan di cuaca yang lumayan dingin ambarawa ini.. :lol:

                       
                    • Triyoga Adi Perdana

                      28 Agustus 2012 at 23:45

                      Itu baru jelassssssssss mas. hehehe
                      Emang ambarawa dingin ta? Kalau jalan Semarang Jogja atau Solo, ngelewatin gak to?

                       
                    • SanG BaYAnG

                      29 Agustus 2012 at 00:01

                      Ahahaha.., coba kalau gak pake ‘S’ :lol:

                      Ngelewati mas, kebetulan saya tinggal di desa yang dataranya tertinggi di sepanjang jalur semarang-jogja mase.. :D

                       
                    • Triyoga Adi Perdana

                      30 Agustus 2012 at 01:39

                      Wew, kagak ngikut2 aja. :D

                      Weh, pas kebun teh po pye mas?
                      Opo pas bakul panci-panci ngono? hehe

                       
                    • SanG BaYAnG

                      30 Agustus 2012 at 18:36

                      Disini adanya cuma kebun kopi mas.., kalau kebun teh di tempat saya Ngawi sana.,hehehe..
                      Itu “Tuntang” jalur Semarang-Solo (terminal bawen kekiri) mas, saya ada dijalur Semarang-Jogja (terminal bawen kekanan).. :lol:

                       
                    • Triyoga Adi Perdana

                      31 Agustus 2012 at 09:04

                      Oalahhhhhhhhhhhhh, gitu to? hehe. .
                      daerah dingin po gak ki mas?

                       
                    • SanG BaYAnG

                      2 September 2012 at 08:39

                      Loh, kalo ndak dingin knapa musti di angetin.., biar gosong kali ya mas.. Wkxkxkx..

                       
                    • Triyoga Adi Perdana

                      2 September 2012 at 09:49

                      Nek gosong kan punya sensasi tersendiri mas. hehehe :D

                       
                    • SanG BaYAnG

                      3 September 2012 at 03:53

                      Lha.., ternyata suka yang gosong-gosong toh..??? :roll:
                      Nek gosonge kopi enak mas.. :mrgreen:

                       
                    • Triyoga Adi Perdana

                      3 September 2012 at 13:29

                      Nek sego, ono intip e masbro. Gurih e, koyo suara mba2 sing pas wingi hajatan nembang dangdut. hehe :D

                       
                    • SanG BaYAnG

                      4 September 2012 at 01:59

                      Guyih mas.., njuk ndang.. :mrgreen:

                       
                    • Triyoga Adi Perdana

                      4 September 2012 at 09:37

                      Ndang opo mas? :D

                       
                    • SanG BaYAnG

                      5 September 2012 at 02:30

                      Kirimi intip.. :D

                       
                    • Triyoga Adi Perdana

                      5 September 2012 at 10:32

                      *eaaaaaaaaaaaaaaa :D

                       
  8. mintarsih28

    27 Agustus 2012 at 00:17

    pemimpin adalah cerminan rakyat yang dipimpin. tetapi klo rakyatnya bodoh mau dikibuli pemimpin simbolisnya kok kambing ya bukan kerbo. padahal banyak hikma knapa rasulullah sblm jdi pemimpin ia mengembala kambing slah stuany timbul sifat sabar krna kambing sulit di atur.

     
    • SanG BaYAnG

      27 Agustus 2012 at 03:39

      Kambing = hewan yang gampang merumput dilapangan hijau namun akan berlarian kesana-kemari bila telah bosan pada tempatnya akibat ‘anut grubyuk’ atau kehabisan rumputnya.

      Rasanya terlalu kebagusan andai di simbolkan dengan kerbau.

      Simbol ini sengaja dipakai sekedar menelisik realita kambing negri bayangan yang gampang merumput di lapangan cuma lantaran amplop tipis untuk menggadaikan nasibnya dalam beberapa tahun kedepan. Namun setelah gebyar pesta rumput demokrasi itu usai, kambing kambing cengoh bisa dipastikan akan mengeluh dan mengumpat seenaknya bahkan sampai aksi demo menyulut balehonya sendiri dengan dalih tuntutan akan kenyataan seperti tertaburnya bunga bunga retorika dimasa kampanye. Pada saat inilah simbolis kambing itu berperan. :mrgreen:

      Terimakasih banyak atas masukanya.. :)

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 547 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: