Lupa Asal Mutiara Kertas
Pusisi : sang Bayang
Secarik pikiran tergantung
bimbang membelai airmata usang.
Membunuh sepi
bulan mengambang dihadang beku
kaku menghunus parang.Mutiara mutiara sirna melepas rintih,
terlena dipangkuan ego manusia kayu
menyungging pesona bijak
tanpa kata mengusung waktu.Hambar..
setawar asa memburu pelangi
bocah bocah pencari seserpih imaji,
lemah diantara puing terbengkalai
sedih menatap sanjungan
membakar isi kepala
berlari mengusung keagungan.Kepongahanya menyungging kata
tak menatap mata lain menyala,
bisu mengarti akal jangkauan tangan
mati diatas selembar kertas
lupa sejengkal mutiara berasal.
Ambawarawa, September 2012


pena usang
5 September 2012 at 09:01
Halah, diksinya itu loh mas, ga tahan. Keren!
Seperti biasa, mas yg satu ini selalu membungkus sajak dengan gaya lama, tapi ini mungkin yg namanya nyastra
SanG BaYAnG
5 September 2012 at 13:52
Wah.., bukan nyastra mas, ini biasa saja. sekedar iseng ngisi waktu sambil ngetik
Riyadi
4 September 2012 at 22:35
Yang ini lebih galak ahh. Sampai – sampai begitu tega membunuh sepi. Mudah-mudahan tidak sampai mengubur waktu. Clxlxlxlxlxlxlx. Salam hormat buat semata wayang dari Timur.
SanG BaYAnG
5 September 2012 at 02:35
Macak galak.. (clorengan angus kwali) sambil ketawa agar tak kesepian dalam sepi ketika mengabarkan malam kepada kawan dibelahan bumi selatan..
Salam hormat dan sejahtera selalu pada junjungan di dibelahan bumi selatan..
Gen Puisi
4 September 2012 at 19:08
dalam,, dengan logat sang penyair tulen,,, hehehhee…
salam sapa senja sobat maya ku,,,
SanG BaYAnG
5 September 2012 at 02:30
Wah.., ndak segitunya ah..
Salam saudaraku..
Gen Puisi
7 September 2012 at 19:10
keep writing
semangat nulis ae sobat… ^__^
SanG BaYAnG
9 September 2012 at 06:24
Terimakasih atas suport-nya..
Ely Meyer
3 September 2012 at 12:47
sependapat dengan Kangyaanna
SanG BaYAnG
4 September 2012 at 01:55
Wah.., mbakyu melu kancane..
Ely Meyer
5 September 2012 at 02:16
podo soale mas
SanG BaYAnG
5 September 2012 at 02:26
Ahahaha.., syukurlah..
kangyaannn
3 September 2012 at 11:47
saya hanya seorang awam gan, gak bisa mencerna apa yg di maksud dalam puisi ini…
SanG BaYAnG
4 September 2012 at 01:55
Gak dicerna juga gak apa apa kq mas.., biasa saja lah..
Sang Dewi
3 September 2012 at 08:32
Puisi yang indah..
Bahasanya setingkat dewa..
Ahh..aku hanya peri kecil
Tak mampu mencerna..
Terimkasih sudah mampir di blog saya mas..
Salam kenal..
SanG BaYAnG
4 September 2012 at 01:54
Wah.., jangan merendah gitu lah Mbak..
Sama sama..
Salam kenal juga Mbak Dewi..