RSS

A Besar Dan Kecil

19 Agu

A Besar Dan Kecil
Sajak : sang Bayang

A besar melintas
a kecil membesar di tengah pasar
Krisis moral melanda dunia
Rasa malu, lambat laun mulai sirna
Kesempatan publikasikan diri tak menghinggapi
Membuat aib menjadi sesuatu yang ajaib
Sensasi perawan tua saat menabur cinta di alam semesta
Berganti pasangan memuaskan birahi yang gampang di beli
Membius media tak berdaya untuk berkata lain..
Selain kata a kecil yang di besarkan.
Pamer payudara dengan BeHa
Pamer isi selangkangan atau paha
Menjadi trend di depan mata
Merasuki sukma-sukma balita
Merangsang
pertumbuhan gigi dan tulang maupun yang tak bertulang
Membongkar penjara-penjara kata
Hingga terlontar kata tanya : “Kenapa mereka sering berganti pasangan???”
“Mungkin mereka ingin anak-anaknya memiliki banyak ibu atau bapak”

Inikah yang di namakan silih bergantinya sebuah kehidupan
Dengan gonta-ganti pasangan tanpa batasan
Mencipta suatu tradisi buruk baru
Yang berkembang bebas di sebuah negri
Tumpang tindih sering ganti pasangan
Bebas dengan putusan resmi sebuah pengadilan
Kenapa harus tanpa batasan..???
Kenapa selalu di ijinkan kawin-cerai..cerai-kawin seperti kambing kawin
Mungkin..,inilah aturan yang paling memanjakan
Mungkin..,inilah aturan yang paling membingungkan
Atau mungkinkah ini..???
Akibat dininya sebuah pernikan..???
Atau mungkin..,karena nafsu birahi yang terlalu tinggi..???
Atau..karena..,kebutuhan batiniah yang tak lumprah dalam sebuah kiprah..???

Kebebasan dan kekayaan fasilitas publik di sebuah republik
Jangan jadikan sarana pemuas layanan
Seperti pelayanan lonte-lonte yang merasa haus bah kere
Dengan induk semang anak ayam
Mengkarbit pisang-pisang anak bawang setengah matang
Bikin hancur mental-mental bau kencur
Membuatnya harus terpaksa onani di depan sebuah mimbar

Kemewahan megah menyerang..
Runtuhkan blokade barisan perwira-perwira media
Menusuk nurani bayi muntahkan ejakulasi dini
Membentur lentur imaji ngawur
Membelah angan bocah menjadi bagian dari bajingan
Limbungkan cita-cita generasi bangsa yang merdeka
Mencemari otak dengan polusi sensasi
Menyudutkan sang pemburu kata
Hingga tak memiliki banyak kata selain kata a kecil yang di besar-besarkan
Mengarahkan perhatian lebih pada imformasi tentang tai
Menyampingkan informasi sehat bermanfaat
Sekedar memburu sesuatu yang hangat
Yang baku di lumat..,perilaku bangsat di bikin hebat
Membimbing pribadi berkhianat pada diri
Membentuk jiwa-jiwa jadi lemah syahwat
Bangkitkan pamor pemuja manusia jadi terangkat
Mengelabuhi dengan jejalan-jejalan tai birahi

Lihat mereka di trotoar atau kolong jembatan yang menderita
Gema lapar meregang nyawa
Lihatlah gepeng yang selalu di buru
Tengah malam berpacu dengan derap sepatu
Berakhir dimanakah mereka..???
Di dalam berkas sebuah data
Di tempat pembinaan ataukah sekedar denda..???
Kemudian..bebaslah engkau..
Dan..,kembali bah penyakit kambuhan
Berkepanjangan menggerogoti mental dan moral
Mencolok mata tanpa rasa
Meludahi lemparkan tai tanpa sembunyi
Dengan jelas menampar muka
Namun..,tiada kau merasa terhina
Bukan mereka hina..
Bukan merekalah yang terhina..
Selama jalan keluar belum terhampar
Tabu menyelimuti benak malamu
Selama tabiatmu itu masih palsu
Tak kan pernah hancurkan kemalasan dan sialmu
Masih adakah tempat untuk mereka..???
Agar mereka bertahan hidup..!!!
Masih adakah tempat..???
Untuk memberdayakan hidup mereka..!!!
Masih adakah tempat untuk mereka..???
Agar mereka bisa bersenggama dengan kata mulia..???
Mereka bukan sesuatu yang harus di buru
Mereka bukan sesuatu yang harus di hina
Mereka hanyalah soal yang butuh jawaban
Jawaban yang benar di jawab dan di kerjakan
Bukan sekedar pe-er yang tertimbun oleh gunungan bekas-bekas berkas
Kemudian lusuh dan terpuruk dalam brankas
Berkumpul dengan sobekan-sobekan kertas
Terlupa tak sempat terpikirkan dengan tuntas
Hingga mereka benar-benar sudah tak mampu lagi untuk membeli beras
Dan..kehabisan nafas..

 
39 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Agustus 2009 in Sosial

 

Tag:

39 responses to “A Besar Dan Kecil

  1. nDa

    29 Agustus 2009 at 03:14

    Bait terakhir mengingatkan saia pada puisi Pengemis milik Gus Mus……
    ah, ironis sekali bangsa ini….
    matursuwun kang, dah mampir ke tempat saia ….
    salam kenal….:D

     

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: