RSS

Selendang Sampur

19 Okt

Mentari senja masih cerah warna langit belum memerah,ketika jiwaku melayang di atas indah suara sabetan gendang di terpa badai terperosok di ngarai bersama arak tradisional yang bebalkan akal.
Limbung anganku setengah sadar,gontai langkahku bergoyang laksana teratai di tengah kolam bersama katak-katak yang berpijak dan mengikuti alur kehidupan yang tak pernah membujur.
Lengking nyanyian mungil usil,membakar dada gejolakan jiwa bah bara pemanggang berondong,mempesona jiwa-jiwa lapar dan rasa haus yang telah terbius.

Selendang sampur..kecil pupil mataku beralas bantalan langkah sinden lesehan berpoles gincu yang menebar madu,maka terpautlah anganku dengan anggukan kepala sang pemuja kata.
Langkah dan paras seiring laras gamelan pelok slendro sampak wolu sepuluh,mengayuh langkah di antara riuh penonton gaduh luluh-lantahkan jiwa dalam peluk dengan sekuntum seyuman menghantam.
Datangnya selendang sampur terus menggempur,memburu jiwa-jiwa rapuh hingga tak mampu kabur,kemudian mencampakan dan menguburnya bersama impian-impian yang telah lenyap dari pandang mata mengabur.
Riang langkah manis senyum selendang sampur menggoda tanpa iba,bergoyang lihai runtuhkan kejantanan,hingga terpelanting dan tersungkur di tumit sinden lokal bertubuh sintal.
Apa daya kejantanan ketika etika berbicara..,apa daya ketika sejuta pesona tersaji senantiasa mengelabuhi..???

Ah..dan uh..aku mengeluh..,saksikan harga diri di pertaruhkan dan di pertontonkan dengan jurus-jurus mabuk cap kerupuk,linglung sikapi langkah sempoyong sambil menari gambyong,berpayung emas membeli harga diri dengan nilai sebuah tradisi.
Ah..apalagi..,jenggot beruban tampil berlonjak acak dengan senyum menepis kesadaran angan,baringkan penat di peraduan dan lari dari kenyataan sebagai manusia silam agar mimpi di telan waktu.
Ah..ketiga kali..,ketika keterpurukan moral sengaja di pamerkan,mencongkel mata bayi-bayi pewaris tradisi yang buta dari birahi terselubung di antara tradisi tari.
Dengan bangga berkata..di antara ludah pujian..,saksikanlah tubuh-tubuh mulus berkepala bulus,menjejali mulut dengan tai budaya masa kini dalam sebaskom arak tradisional dan adat tradisi yang telah beralih fungsi.

Sejenak anganku terhenti berpatik ceceran api berselimut sampur,di antara bau arak jawa sisa kesadaranku terbangun dari mimpi senja hari,ketika langit pesta warna mencibir penari cengkir yang mati gaya di pangkuan janda seribu manusia.
Luntur sudah rasa sopan..,seperti bedak di sapu keringat dalam hangat pelukan pejantan,jebol sudah kehormatan di tendang pengap nafsu alkohol,runtuhlah kemaluanmu di caci sejuta janji dan mimpi yang tak pernah terbeli.
Perjelas mata kusaksikan mayat hidup terengah menyembul dari balik baju jasad setengah sekarat,terperosok dalam lubang nikmat surga dunia sambil mengangkang kusyuk berdoa di atas tubuh dan ranjang sewaan.

Selendang sampur..,kemana pergimu harga diri..ketika pesta usai..,sepi masih tersisa dalam kerumunan birahi,membunuh mimpi menguak birahi yang mudah di jual beli dan terselip di antara cuilan mitos sebuah tari.
Di antara pahitnya hidup,tak muntah kau telan malu..,puji-puji meludahi ketika kau beraksi,cacian menggunung kala indah tubuh menjadi tawar dari rasa dan pandangan mata.
Malang nasib selendang sampur..,berjuang di panggung singgasana singa-singa pemangsa betina,dengan tajam sorot mata abaikan kehormatan,bersaing menelan tubuh di atas pembaringan atau terkucilkan.

Selendang sampurku.. basah oleh ludah cemooh,lugu menari warisan sebuah tradisi yang di anggap kuno pada abad ini.
Mungkin kau tak kan tahan dan berhenti..,seiring terputusnya silsilah adat dan warisan sebuah tradisi yang tertanam dan kau geluti.
Atau..barangkali..,kau harus terpaksa menjual selendang sampur beserta tubuh di atas kasur..agar kelangsungan hidupmu tetap mujur dan makmur.

(Ngawi,Oktober 2009)

 
22 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Oktober 2009 in Budaya, Selayang Pandang, Syair

 

Tag: , , ,

22 responses to “Selendang Sampur

  1. Handhika Alfarizi

    3 April 2013 at 06:59

    dalam sebuah kata romatika kehidupanšŸ™‚

     

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: