RSS

Pengabdi Panji-Panji

23 Jan

Meloncatlah bola mataku seolah lari saksikan tanah geni langit yang becek dan lembek,tanpa arah membujur..pandanganku kaku menatap hancurnya nasib rakyat yang tak mujur,tunduk ratapan mukaku melebihi rendah tunduknya kepala wong cilik pada para penguasa yang senantiasa menjaga gengsi di dalam tangsi-tangsi dengan penjaga berseragam hitam dan panji-panji.

Yah..,dahaga itu menghadang tiap derap langkah di tengah musim hujan,mengalir deras ribuan pasang air matapun mungkin tak kan sanggup mencukupi kebutuhan minum anak kambing yang selalu hanya bisa mengembik ketika di jadikan kambing hitam di dalam kandang sang tuan.
Haus itu menghujam..,menghantui malam-malam itik kecil yang tak lagi bisa merenangi takdirnya sejak belaian mesra sang penguasa hanya tinggal cerita di balik selimut putih berlobang bekas luka sulutan rokok.

Daun-daun bersemi namun ranting tetap kering dan bertengger di atas bukit bersama sejuta pesoalan yang menggunung,beban itu berat menumpuk di punggung hingga tak mampu membuat kau berkutik,mulutmu terbungkam rapi membuat sepi dusun seperti tanah kuburan hingga tak sempat lagi berpikir seperti apa nasib rakyat yang makin jebat tak mampu menahan sekarat akibat ulah pejabat-pejabat bejat.
Itulah..yang terjadi..,itulah..kenyataan yang harus di jalani..,,seperti layaknya petani melenggang di atas pematang tetap asik mencangkul ladang walau tak panen bila kemarau menjelang.

Sementara di bawah sana,para penguasa asik bertengkar dalam sidang pleno di gedung agung dengan tuksedo mewah,selembar kain menggantung di leher sebagai simbol posisi seolah tak berarti,semua menatap atas..semua mendongak tiada yang terbahak,wajah-wajah muram merah padam..emosi tak mampu sembunyi,teriakan-teriakan khas yang takan pernah mampu menyamai seorang Adolf Hitler ketika sedang berorator itu mencoba menguasai keadaan namun yang terjadi sekedar mirip preman-preman berjubah lintah darah.
Faktanya kursi empuk bikin mabuk,meja-meja kantor pecah,kursi jadi barang rongsokan dengan harga kiloan akibat di hantam gagang panji-panji geram yang berebut posisi saling menguasai.

Di bawah kaki kupandang ilalang dengan sembulan kepala akar gersang,pilu saksikan keangkuhan moral abdi pengibar panji-panji,demi ego kantong dan kuasa tinggalkan kewajiban,sumpah janji tercampakan tetap tertanam di tonggak perjuangan yang telah terlupakan.
Sampai kapan kemaksiatan atas nama bendera panji berakhir dan tersingkir tanpa ego yang menguasai pengibar panji.

*Sepintas Kata Dalam Canda*
(Geni Langit,22 Januari 2010)

 
29 Komentar

Ditulis oleh pada 23 Januari 2010 in Jalan Jalan, Sajak, Selayang Pandang, Sosial, Syair

 

29 responses to “Pengabdi Panji-Panji

  1. budies

    25 Februari 2010 at 15:10

    sampean rung taudolaneng omahku sing anyar yo Sang

     
    • SanG BaYAnG

      27 Februari 2010 at 12:18

      Ngendi mneh nuh kih..
      umahe kq ukeh men..,tur koneksiku lg ilang ki Om..,modeme jatuh ilang neng dalam perjalanan..🙂

       
  2. Riyadi

    13 Februari 2010 at 14:49

    “… petani melenggang di atas pematang tetap asik mencangkul ladang walau tak panen bila kemarau menjelang …”
    nek takwalik piye ya… ‘petani meladang tanpa lenggang lompati pematang, meski panen tak juga datang, jelang kemarau banyak piutang ckckckckck….’ *Undo ae ah* apik nggon gurune ok.

     
    • SanG BaYAnG

      15 Februari 2010 at 05:33

      Nek di walik jangan-jangan marai kapok poro petani anggone meladang pak..???
      Halah..,monggo kerso sing menilai wae lah..,sing penting podo apik lan enak di nikmati..ckxkxkxkx..😀

       
  3. Pojok Pradna

    10 Februari 2010 at 01:45

    selama panji menghasilkan uang, disayang
    panji-nya kekeringan ditinggal, sayang

    mesakno mas Panji

     
    • SanG BaYAnG

      15 Februari 2010 at 05:26

      Lha kalo keringnya yang terbuat dari tempe mungkin pasti kan langsung di makan..ckxkxkxkxkx..:D

       
  4. trinil

    4 Februari 2010 at 11:43

    rata2 yang udah dapet kekuasaan lupa akan rakyatnya….

     
    • SanG BaYAnG

      6 Februari 2010 at 06:47

      mungkin itu karena sudah di atas tapi masih mendongak mas..hehehhe..😀

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: