RSS

Membedah Kitab Mbelgedes|Sung-Sang

20 Jan

Membedah Kitab Mbelgedes | Sung-Sang (Bicara Soal Gayus)
Cerpen : Sang Bayang

Gerimis tak kunjung henti akibat dampak dari perubahan iklim yang di tuding sebagai kambing hitam dalam cuaca ekstrim di barengi dengan berbagai bencana terjadi dalam setahun ini,diam di rumah mungkin bisa menjadi pilihan alternatif jitu untuk merilekskan otot dan otak setelah sehari di perah cuma lantaran demi sebuah tanggung-jawab dan urusan perut,maklum.. beginilah nasib saya sebagai kuli.

Malam boleh saja memberi dampak sepi bagi sebagian orang namun tidak bagi duet Saya (Sang) dan Sung yang lagi ngopi di warung Lek Ti. Yah..,itung-itung melepas kangen pada sobat karib setelah sekian waktu ada di ambarawa tak apalah toh tak bakalan abis kopi lima gelas cembung dalam semalem.
Nikmat memang..,meski nuansa malam cuma di hias oleh obrolan-obrolan serba ndobol ala warungan sambil nonton televisi yang acaranya makin njelehi tak ubahnya seperti lomba volume suara yang tampak selalu keprek dan sumbang di telinga.
Berbagai liputan headline malampun tak mau ketinggalan dan banyak menyuarakan petualang elit politik yang rupanya makin merajai topik pembicaraan antar mulut tanpa mengenal kalangan-derajat-pangkat ataupun batas ruang dan waktu meski ujung-ujungnya lazim berhenti atau terlupakan akibat kesibukan dan permasalahan-permasalahan lebih hot yang baru di up date.

“Untung gayus itu kembali,coba kalau seperti Sri yang katanya lunga neng pasar tuku trasi jebul ora bali-bali di dalam lagu campur sari Sri Minggat kae,mau di taruh mana raine wong nduwuran.”
Lha..,lak tenan to..,kata hatiku sambil ngakak-ngakak geli,namun kasihan jua melihat mimik wajah sobat kental saya itu,kok sampai sebegitunya ya olehe nggagas kondisi bangsa ini.

“Gayus itu kecil kang,ibaratnya cuma ikan teri dan di sekitare masih banyak ikan yang lebih gede” jawabku menghibur.

“Lha itu kamu tau teri..,tapi jangan lantaran karena satu teri lantas cuma bisa di bikin rempeyek yang di makan satu orangpun tak kan kenyang,mumpung ada yang ketangkep mestinya bisa di manfaatkan untuk hal lebih baik dengan harapan hasil yang lebih baik pula,misalnya gunakan ikan teri itu untuk memancing ikan gede atau kawananya”

“Ealaa..,jebule sampean ki terinspirasi dengan permohonan gayus yang katanya pernah ingin di beri kesempatan menjadi pejabat staf kepolisian atau masuk di tim Komisi Pemberantasan Korupsi Mafia Hukum dan Pajak itu tah,bukankah itu malah berbahaiya..,iya kalau ikan gedenya bisa ketangkep,lha kalau enggak..???”.

Lanjutku “Bisa-bisa lakya malah kujur,demikian pula niat untuk memancing kawanan teri,rasanya masih perlu banyak pertimbangan apakah yakin kawanan teri yang jelas-jelas tau sedang di pancing itu mau nggaglak umpan,kalaupun ada berarti itu cuma teri yang sudah menyandang predikat guoblog of record”

“Hnah..itu yang jadi masalah,terlalu banyak teri bikin rugi berkeliaran di laut endonesa ini,mungkin sudah terlanjur ada di dalam pakem kitab mbhelgedes kalau sesama teri di larang mendahului dan konon ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa kekuatan sekawanan teri mampu menggulingkan sebuah kapal,bila cerita ini benar aku cuma kawatir kalau suatu saat nanti kekuasaan di negri ini bertekuk lutut di bawah kendali korupsi”

Kembali ku di buat kagum dengan pola pikir nyemek-nyemek sobat karibku ini,spontan kemurunganku pura-pura pasang aksi wajah sedih,mengapa saya cuma pura-pura sebab bukan rahasia lagi kalau masalah korupsi sudah menjadi perbincangan membosankan di Indonesia ini,di sedihkanpun jua percuma dan tiwas nelangsa nganggur. Mungkin benar kata Kang Sung tadi siang,mengikuti perkembangan soal pemberantasan korupsi di negri ini memang njelehi dan ngguilani,sebentar-sebentar ada kabar pejabat anu di tangkap dan besoknya pejabat asu di tangkap,lhawong yang korupsi banyak kok yang ketangkep satu-dua dan akhir ceritanyapun bisa di pastikan mak pleketis persis seperti cerita lama,begitu kata kang sung tadi siang.

“Lantas sekarang enaknya gimana Kang..???”

“Jangan bertanya enaknya..,sebab tak ada enaknya di kita tapi cobalah berpikir gimana keadaan bangsa ini sekarang. Jelasnya tidak ada enak bagi kita rakyat melarat yang enak tentu saja yang korupsi lagian kita ini wong cilik,siapa tah yang percaya cangkemku karo cangkemu lawong cangkeme petinggi negri we gak di gagas..” Jawab Kang Sung yang menurut saya terlalu ndledek.

“Tapi pada akhirnya toh gayus di hukum jua meski menurut rakyat itu belum setimpal” sambungku yang jua turut prihatin setelah melihat para penegak hukum di serang balik gayus dengan seribu cerca dan tuntutanya.

“Ya..begitulah..,meski sudah jelas di katakan dalam undang-undang bahwa negara ini adalah negara hukum tapi nyatanya masih begitu mudah di perjual belikan dan ketika janji hanya bertindak sebagai motorik yang terjadi hanyalah ketidak percayaan publik pada sistem hukum yang berlaku dari waktu ke waktu. Ketika uang jadi segalanya,mampu membeli apa saja seolah melunturkan arti semboyan keadilan harus di tegakan di tengah carut marut lemahnya pengawasan pemerintah. Jangankan orang lain..,yang bersangkutanpun mampu memutar balikan fakta hingga membuat penegak hukum kelabakan bila sudah demikian siapa yang jadi teri dan siapa yang di adili sulit di bedakan sebab semua sama”

“Yang bilang semua sama itu kamu loh..,kalau ada pembaca komplin kamu yang tanggung jawab sebab menurutku apapun keputusanya itulah langkah terbaik yang di ambil oleh penegak hukum”

Kang Sung cuma manggut-manggut sambil nyaplok klenyem. Sayapun merebahkan tubuh di lincak warung. Soalnya gak bisa pulang karena hujan tak kunjung reda meski jam sudah menunjukan pukul setengah dua.

 
36 Komentar

Ditulis oleh pada 20 Januari 2011 in Politik, Prosa, Selayang Pandang

 

36 responses to “Membedah Kitab Mbelgedes|Sung-Sang

  1. H Onnie S Sandi SE

    15 September 2012 at 10:37

    Iya Mas…..memang klu orang tak punya integritas, dimanapun dia berada baik sbg politisi, penegak hukum, birokrat, pengusaha bahkan ulama sekalipun, pasti ngegrogotin dan nyusahin rakyat…..karena sila ke-1,nya…Uang yang maha kuasa…nggak punya malu

     
    • SanG BaYAnG

      16 September 2012 at 01:43

      Nah.., ini salah satunya yang membuat keadilan sosial menjadi tertindas dan terperas Om..🙂

       
  2. zasseka

    22 Juli 2012 at 22:42

    hahahhaha…
    pancen njeleih mbahas korupsi… ra ono rampunge… penyakit wes.

     
  3. Sang Bayang

    3 Februari 2011 at 11:51

    Benar sekali mas..,itulah hebatnya gayus dan pejabat di negri yang dulu pernah di segani di kawasan asia tenggara ini..
    SALAM..😀

     
  4. yeyesasa

    3 Februari 2011 at 10:40

    Gayus memang luar biasa, sampai-sampai berita saudara-saudara proletar di mesir yang diinjak-injak hosni mubarak, tak mengalahkan berita tentang si gayus itu.

     
  5. mrpall

    1 Februari 2011 at 05:19

    kitap ko mbelgedes….ki pie kang

     
    • Sang Bayang

      2 Februari 2011 at 17:56

      Tentu saja..,karena isine juga mbelgedes pula..xixixix..😀

       
  6. Penghuni 60

    28 Januari 2011 at 08:43

    wah, ceritamu itu loh bagus bgt sob!!

    tp kok aku bacanya agak puyeng ya, blh ksh saran gak?
    tulisannya diksh paragraf atau jeda sob, biar gak mepet2 gitu. trs kalo bs sih ksh gambar biarpun dikit, biar tambah seruuu…

    hehe 😀 salam knl ya

     
    • SanG BaYAnG

      28 Januari 2011 at 12:50

      Wah..,terimakasih buanyak atas saran-saranya Sob..,orang seperti sampean inilah yang saya harapkan..
      Sekali kali lagi terimakasih banyak..
      Salam kenal juga Sob..😉

       
  7. sawali tuhusetya

    22 Januari 2011 at 14:53

    hujan2 begini, enaknya memang ngobrolin si gayus yang bisa kencing di mana2 itu, mas, hehe … apalagi sambil nyrutup kopi dan klenyem. hmm …

     
    • SanG BaYAnG

      23 Januari 2011 at 07:04

      Iya pak..memang mantabs..meskipun kadang bisa jua nyeprot waktu di gigit akibat kebayakan gula..wkxkxkx..
      Eh..,di kendal namanya jua klenyem tah..???😀

       
  8. mamah Aline

    22 Januari 2011 at 13:58

    kalo soal gayus, sekarang gak bakal berhentinya jadi topik pembicaraan ya🙂

     
    • SanG BaYAnG

      23 Januari 2011 at 06:28

      Iya mah..,hal ini rupanya makin merajai topik pembicaraan antar mulut tanpa mengenal kalangan-derajat-pangkat ataupun batas ruang dan waktu..🙂

       
  9. yeyesasa

    21 Januari 2011 at 16:54

    Dan, yang lebih membikin kita geli adalah, hanya karena di sekitar gayus masih banyak yang gede-gede, persoalan gayus malah mau diangkat ke ranah politik. Ya, paling-paling nanti kayak kasus century, tak ada endingnya, tiba-tiba hilang kayak kentut. Hahahaha….

    Salam.

     
    • SanG BaYAnG

      22 Januari 2011 at 02:04

      Good..
      sebentar-sebentar ada kabar pejabat anu di tangkap dan besoknya pejabat asu di tangkap,lhawong yang korupsi banyak kok yang ketangkep satu-dua dan akhir ceritanyapun bisa di pastikan mak pleketis persis seperti cerita lama,begitu kata kang sung..kexkxkxkx..😀

       
 
%d blogger menyukai ini: