RSS

Bayangan Tak Bertuan

03 Jul

Bayangan Tak Bertuan
Cerpen Dan Roman : Sang Bayang

Bayangan Tak Bertuan

Selvinia Nilamsari yang tidak terlalu cantik, tapi juga tidak jelek. Anak pertama dari tiga bersaudara yang tinggal di sebelah kontrakan ini memiliki perawakan ceking mboys. Maaf.., sengaja dibuka dengan kata seperti ini, sebagai permulaan cerita yang wajar, agar pembaca dapat dengan cepat memulai fantasainya sendiri. Okey.., silahkan.

Selvinia Nilamsari dan dua saudaranya yang kukenal akrab lantaran hampir setiap hari aku bertandang kerumahnya, sekedar membaca Koran, minum kopi, ngobrol dan mendengarkan mereka bercerita dengan sabar ini cukup baik, saking baiknya hubungan kami boleh dibilang layaknya seperti adik-kakak. Kedua orang tuanya meninggal tujuh tahun lalu akibat kecelekaan tunggal.  Latar belakang kehidupan mereka gelap, memorie seorang bapak yang menjadi tempat bernaung anak-anaknya, perhatian dan belaian kasih-sayang seorang ibu yang dulu senantiasa mereka dapat setiap saat harus meninggalkan mereka ketika masih berumur belasan tahun.

Seluruh hidup Selvi dicurahkan untuk mendidik dua orang adik dan untuk hari depanya. Dengan harta kekayaan yang diwariskan orang tuanya, Selvi bersaudara bisa hidup layak dan berkecukupan. Namun seperti yang kita tahu, bahwa kebahagiaan seseorang tidak bisa diukur hanya dengan kebendaan semata. Karena itulah, Selvi harus berjuang mati-matian untuk adik-adiknya. Sementara ia sendiri tidak mengharap apa-apa, seolah membiarkan dirinya terbengkalai dan rela mati dalam segala derita kepahitan hidup, demi adik-adiknya agar bisa memiliki masa depan yang baik.

Selain manis, ia juga sabar dan sangat ramah. Ini yang kadang membuat hati kecilku khawatir, kalau kelak gadis ini sampai mendapat suami yang kasar atau lebih celakanya lagi jahat. Maka.., alamat kehancuranlah bagi keluarga ini. Kuakui sangat dekat dengan mereka, namun tidak terkilas setitikpun dihatiku untuk memiliki apalagi menikahi Selvi. Aku sadar, keadaan pribadiku sangat tidak sebanding, belum tentu aku bisa membahagiakan dan menjamin masa depan selvi beserta adik-adiknya. Aku miskin dan terlalu meredeka. Jujur saja, andai hidup bersamanya, aku tak mampu bekerja dengan penghasilan yang cukup untuk menghidupi sebuah keluarga. Disampingku ia hanya akan menjadi wanita rendahan, karena ia harus rela membantuku jadi babu agar kebutuhan hidup kami tercukupi. Itu gelisahku, dan sebagai penghibur diri, aku hanya bisa berdoa, aku hanya bisa berkata “Sabar.., mungkin esok atau lusa Tuhan pasti membawa jodoh yang baik untuknya”.

Esok atau lusa bukan kata yang pasti, sebab bisa saja berlaku satu tahun atau sampai beberapa tahun kedepan. Kian hari Selvi makin rapat denganku. Sepulang kerja, aku selalu disuruh kerumahnya. Dan kalau kebetulan ia ada di belakangku, aku merasa matanya makin tajam meneliti tiap jengkal lekuk tubuhku. Sore ini tanpa bicara, ia menatap mukaku seolah hendak menitihkan air mata, jelas tergurat dalam dirnya seakan mengeluh, “SanG.., kira-kira bagaimana nasib adik-adiku kelak..???”.

Sebagai orang yang suka meniru ucapakan orang lain, segera aku membual berbagai hal. Agar hatinya senang, agar ia tak sedih. Aku tak ingin melihat orang lain sedih, sebab perjalanan hidukupun sudah cukup sedih untuk diceritakan.

Mereka bertiga bukan keluargaku, tapi lambat laun kurasakan seolah mereka telah menjadi tanggungan batinku. Ketika aku pergi keluar kota atau pulang kampung, rasanya begitu berat meninggalkan mereka. Keadaan ini membuat diriku, kadang harus berhenti dalam meniti karier, langkahku untuk menjangkau dunia rayapun juga turut terhambat. Diriku menjadi manusia yang defensive terhadap semua kemungkinan, tidak agresif, dan rasa ambisiuskupun menjadi mati.

Karena kepahitan-kepahitan hidup yang kami alami bersama, menimbulkan perasaan tiga saudara ini telah mengganggap aku sebagai anggota keluarga. Jika salah satu anggota keluarga sakit, seringkali aku diminta untuk tidur dirumahnya. Semua tetangga mengira, bahwa Selvi jatuh cinta padaku, atau aku yang jatuh cinta pada si Selvi. Dan sikapku yang selalu sopan, malah membuat dugaan para tetangga semakin kuat.

Pada suatu hari Selvi jatuh sakit, aku dipanggilnya kemudian berbisik sambil memegang tanganku, lirih katanya: “ Kalau terjadi apa-apa, adik-adik kutitipkan padamu, kurasa tak ada orang lain yang bisa kuserahi dan kupercayai selain dirimu”.

Aku hanya diam, andai benar terjadi sesuatu pada dirinya, derita apalagi yang akan kutanggung. Bukanya aku egois, tapi tak bisa kubayangkan, betapa kacaunya aku yang hidup serba papasan ini harus menanggung dua orang manusia, yang mana mereka juga butuh makan, sekolah dan berbagai kebutuhan lain. Jujur saja.., secara mental aku belum siap.

“Dik.., jangan berpikir terlalu jauh. Aku yakin Tuhan pasti melihat dan mendengar deritamu, sebab engkau adalah wanita yang soleh. Tidurlah dan banyak istirahat, kamu pasti akan segera sembuh.” jawabku meyakinkan ala seorang dokter untuk menghibur.

Apabila ia sedang sehat, dengan Selvi aku bisa bicara banyak hal, sebab ia menyukai sastra dan seni. Dalam urusan berbagai seni ia sukai, bahkan seni lukis dan pahat sekalipun. Banyak buku yang sudah ia baca, pengertianya tentang sastra dan kebudayaan tak diragukan lagi. Selvi bisa dikatakan gadis pilihan, kecuali rajin ia juga pandai memasak, sangat ideal jika menjadi istri dan seorang ibu bagi anak-anaknya kelak.

Sebagai anak perantauan, aku tak tahu banyak tentang keluarga ini. Ternyata, eyangnya yang tinggal di Semarang bukan orang miskin. Di Jepara, Selvi dan adik-adiknya tinggal semata-mata karena orang tuanya dulu hidup dan akhirnya meninggal di sini. Berbagai kenangan akan hidupnya, pekerjaanya, pekarangan dan sawah yang luas, serta tempat-tempat yang dilalui bersama orang tuanya adalah peninggalan berharga bagi Selvi dan dua saudaranya. Selain mendapat hasil panen yang lumayan, rupanya eyangnya Selvi juga menyokong kehidupan mereka.

Pada suatu hari Selvi pergi ke toko, entah apa yang akan di beli. Ketika aku datang ke rumahnya untuk mengambil beberapa buku, kulihat sebuah buku yang masih terbuka. Rupanya ini buku harian. Kuberanikan diri untuk lancang membuka dan membacanya beberapa lembar. Di tengah lembaran, sebuah catatan yang masih kuingat : “ …..inilah hidupku, Aku dan adik-adiku layaknya tiga bayangan tak bertuan, bayangan yang selalu pasrah terombang-ambing di tengah lautan, tanpa nahkoda dan tanpa pelindung. Seharusnya kutulis empat bayangan tak bertuan, sebab masih ada orang lain yang hampir setiap hari ada di dekatku.

Sang Bayang.., dialah orangnya..!!!
Yah.., Sang Bayang yang aneh, sang Bayang yang sulit aku mengerti apa yang di ingini. Aku kenal serasa tak kenal. Ia tak ubahnya bayanganku sendiri, selalu ada di dekatku, bahkan lebih dekat dari bayanganku sendiri. Sebagai bayangan, rasanya ia tak mau merebut dan memiliki hatiku, tetapi selalu ada di sampingku dan selalu ada saat aku butuhkan. Yang membuat perasaanku tak menentu, setiap kali ia jauh, hatiku galau, aku gamang, seolah tak mau kehilangan.

Sebagai gadis yang hampir tua, aku dan adik-adiku seperti tiga bayangan tak bertuan, yang terjebak di tengah lautan. Diderai deburan ombak, menghantam ribuan karang, dan terhempas di sepanjang jalanya. Perjalananku ketepi terlalu lamban. Aku penat, aku bosan. Aku terluka oleh ribuan karang, dan aku selalu ingat.

Bukan tiga bayangan yang tak bertuan. Tapi.., empat bayangan tak bertuan. Tuhan.., jika benar nasibku dan adik-adik harus selalu menderita seperti ini, aku tak ingin ada orang lain di samping kami. Jangan.., sebab ia tak pantas menemani kami di tengah gelombang lautan hidup ini. Ia harus hidup bebas seperti cita-citanya, agar dapat merangsang kebahagian dan hari depanya sendiri yang lebih gemilang. Tapi bagaimana.., dengan kata apa aku musti mengusirnya, mengusir Sang Bayang yang menjadi bayanganku sendiri. Pikiran-pikiran ini memberatkan hatiku, membuat porak-poranda seluruh jiwaku, dan…..”

Aku diam.., pikirku kacau setelah membaca. Aku mengerti Selvi sangat menderita sekali, dan ia ingin aku tidak ikut merasakan segala penderitaanya. Subkhanallah..

Rupanya Tuhan selalu adil pada hamba-hambanya. Hingga pada suatu hari eyang Selvi datang bersama seorang jejaka yang gagah. Tutur bahasanya halus, tingkah lakunya sopan dan banyak memiliki sifat-sifat pria idaman yang baik. Ia seorang pemilik sekaligus manjer sebuah perusahaan terkenal di Semarang. Dan atas kehendak eyangnya, akhirnya Selvi menikah dengan sang manajer, yang kemudian hari Selvi dan dua orang adiknya akan di boyong ke Semarang dimana sang manajer ini memimpin perusahaanya.

Pagi ini, pelan kudengar ketukan pintu kamar kontrakan ketika mata serasa seperti salak muda. Kubuka pintu, dan kudapati Selvi yang telah berdandan rapi seperti layaknya hendak bepergian. Sebelum kesadaranku bangkit dari kebingungan, ia langsung memeluk dan menciumiku sambil menitihkan deras air matanya. Beberapa saat setelah kami berpelukan, tanganya memeluk erat lenganku sambil berkata : “Selamat tinggal Sang Bayang.., selamat tinggal bayanganku yang setia. Kau akan selalu ada dihatiku dan kami takan pernah melupakanmu. Sebelum aku pergi, kuingatkan sekali lagi bahwa kau punya bakat menulis dengan narasi-narasi liarmu, maka setelah kepergianku, tulislah cerita-cerita yang indah, agar kau tak melupakan kami dikemudian hari.”

Sebagai seorang pria perasaanku terlalu lemah, ini berarti air mataku bukanya tak bisa menetes. Cengeng.., mungkin sebutan itulah yang pantas. Ketika mataku benar-benar basah, ketika tak kuasa membendung rasa haru yang terlalu berlebihan. Aku usap mataku dan air mata Selvi dengan ikat kepala usang, sambil berkata : “Aku turut bahagia dengan apa yang kau rasakan, dan akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu dan adik-adik. Percayalah.. Setelah kepergianmu, akan kucoba menulis sebuah cerita indah, tentang satu bayangan tak bertuan, yang pergi kelautan bukan untuk pasrah dan terombang-ambing oleh gelombang, namun untuk mengarungi dan menaklukanya. Yah,, Bayangan Tak Betuan. Dan itu.., hanya untukmu. .” (Bersambung).

Ambarawa, 04 Juli 2012
*Bayangan Tak Bertuan*
(Untukmu Yang Pernah Kukenal)

 
11 Komentar

Ditulis oleh pada 3 Juli 2012 in Cerpen, Roman

 

Tag:

11 responses to “Bayangan Tak Bertuan

  1. cumakatakata

    23 Juli 2012 at 04:43

    hampir saya tanya ini fiktif atau bukan,,,

    eee udah ada jawabanya di “halilintar paju….

     
    • SanG BaYAnG

      23 Juli 2012 at 19:33

      hehehe.., terimakasih gan, sekarang sudah tahu jawabnya kan..???😀

       
      • cumakatakata

        23 Juli 2012 at 19:35

        hmmm…
        iya gan… saya mengikuti terus gan…

         
        • SanG BaYAnG

          23 Juli 2012 at 19:43

          Terimakasih Om..
          Semoga tidak semoga jari ini kan bisa selalu menorehkan kata meskipun cuma beberapa baris.

           
          • cumakatakata

            23 Juli 2012 at 20:13

            y dah, pokoknya ditunggu terus….

             
            • SanG BaYAnG

              23 Juli 2012 at 20:26

              Waduh.., saking dinginya tempat ini, ngetiku sampai gak karuan bunyinya pas membalas:mrgreen:
              Okey mas.., terimakasih sudah besedia menunggu..

               

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: