RSS

Mahkota Api

12 Jul

Mahkota Api.

Roman : Sang Bayang.

Hari ini tak banyak kegiatan di kantor, jenuh rasanya. Membaca koranpun, beritanya malah membosankan dan bikin eneg. Sedikit iseng ngecek email. Perhatianku tertuju pada satu mailbox, setelah kubaca ternyata, sebuah undangan yang menyatakan bahwa, dua hari lagi satu atau dua orang Perwakilan dari PT.GLOBALIDO FURNITURE diminta untuk datang kekota Shinjuan-Taiwan, guna keperluan menindak-lanjuti kerja sama ekspor-impor yang dilakukan oleh PT tempatku bekerja. Berharapan dua hari lagi pergi ke Taiwan, segera kabar ini kusampai pada Pak Yohan. Langkah kupercepat, memacu Toyota Alphart kearah rumah. Dalam perjalanan yang ada dibenaku hanyalah bayangan “Kota Shinjuan yang indah ditepi sungai, dimana aku bisa shooping ke Banciao dan Thaisan. Menikmati suasana kota shancong dimalam hari sambil ngopi atau mancing di Shihlin, semua ini pasti asik” pikirku.

Dirumah setelah bicara panjang lebar, akhirnya Pak Yohan memutuskan berangkat sendiri ke Taiwan. Dengan pertimbangan, menginggat hal ini sangat penting dan kemampuanku berbahasa Hanzi ataupun Tai Yu yang masih enol. Ahh.., aku benar-benar kecewa karena harus tinggal dan mengawasi karyawan.”Sial..” batinku mengumpat. Tapi apa boleh buat. Aku maklum. Dikota shinjuan ini masyarakatnya memang lain (karena lebih sering menggunakan bahasa Tai Yu dan Hanzi), jika dibandingkan dengan orang Taipeh yang dalam keseharianya menggunakan bahasa hokkian. Maka akupun harus menyerah, sebelum semuanya menjadi runyam.

Sehari sebelum pertemuan di Shinjuan, Pak Yohan sudah berangkat. Sementara di tinggal, segala urusan perusahaan dan rumah di serahkan padaku yang menyambut amanat ini suka-cita. Untuk menyingkat cerita malam, terasa sepi sejak keberangkatan Pak Yohan, semua terlelap kecuali aku. Aku yang diliputi berbagai perasaan-perasaan tak menentu, berkecamuk dengan pikiran-pikiran buruk. Di ruang tengah, hanya sebungkus rokok dan segelas kopi menemani. Televisipun ngomong sendiri , ketika aku merangkai sajak-sajak tak enak. Entah sejak kapan aku menyukai syair, tepatnya aku hanya bisa menjawab, itu sudah sejak lama.

Dingin selimuti kulit, kulirikk sudut monitor. Ah.., 22:35 AM. Pada saat bersamaan kudengar derit pintu dibuka. “O.., si isma” pkirku sambil mengamati langkahnya yang melenggang tenang, seolah tak mengetahui kalau aku duduk disofa.

Tak lama kemudian Isma kembali membawa sebotol air putih sambil tersenyum melempar tanya “ Belum ngantuk Mas..???”.

“ Belum” jawabku sambil terus mengetik tanpa menoleh.

“ Keliatanya asik bener.., lagi bikin apa sih..???” kembali ia bertanya sambil duduk di sampingku.

Selagi Isma mengamati jajaran huruf di depanku, aku santai menyusun kata dengan harapan sajak ini cepat selesai. Sejak Isma ada disebelah, pikirku melambung entah kemana. Alhasil.., sajak ini terhenti, imagiku kandas, dan aku tak sanggup untuk menyelesaikan. Kurebahkan diri di shofa sambil merangkulkan tangan pada Isma yang sudah terbiasa dengan perlakuanku seperti ini.

“Loh.., kq malah ditutup.., aku kan belum selesai baca” protesnya manja, sambil merapatkan kepalanya kepundaku.

“Ahh.., untuk apa di baca, lawong itu juga belum selesai..???” jawabku sedikit merayu ketika tangan kananku sudah ada pada salah satu anggota tubuhnya.

“Ih.., nakal ah..” sambungnya sambil menyingkirkan tanganku dari dadanya.

“Halah, kayak gak pernah aja” timpalku yang gak mau kalah.

Eh.., entah sudah berapa lama dan apa saja yang kulakuakan bersama Isma, gak usah diceritakan. Ini sekedar intermeso untuk menurunkan grafitasi otak yang tak mau jinak, agar tak terjebak dalam obrolan seksual. Sorry.., meski sudah terbiasa ngibul, untuk kali ini jujur, angkat tangan. Lebih mudahnya, anggap saja aku ini layaknya pisang karbitan, atau anak itik baru menetas yang bisa berenang.

Dirumah ini aku menguasai dan bercinta dengan tiga wanita penghuninya. Tapi pada Isma perasaanku mamang lain. Sejahat apapun, aku tetap manusia. Dan tak bisa berpaling dari takdirku, yang memiliki rasa cinta welas-asih, serta keinginan untuk mencintai dan dicintai. Seolah aku terjebak di antara cinta dan nafsu. Ah.., entah nafsu atau cinta yang sesungguhnya, aku gak mengerti, sebab yang kutahu hanya, aku menikmati.

Selama Pak Yohan di Taiwan, semua lancar. Susunan akal bulusku berjalan mulus. Yah., betapa hebat dan mulianya aku saat ini. Aku yang berdiri mengangkangi singgasana, diantara tiga wanita. Kebebasan yang kudapat, seolah benar-benar berpaling dari segala tatanan-tatanan yang kadang terasa konyol. Satu hal yang berubah. Malam yang biasanya kulalui di tempat-tempat hiburan, kini cukup satu langkah senang kudapat. Di rumah ini, bersama tiga bidadari, aku berkuasa. Dan aku sadar betul, kekuasaanku layaknya bermahkota api, yang tidak kekal dan sewaktu-waktu bisa membakar diriku sendiri. Sebab itulah, meski kukepal kekuasaan, aku tetap berhati-hati. Karena aku tak mau terbakar api mahkotaku sendiri. (Bersambung.., mudah-mudah bisa lanjut lagi setelah pulang dari di solo).

ISI CERITA :

1.Bayangan Tak Bertuan.

2.Halilintar Paju.

3.Mahkota Api.

Ambarawa, 13-Jul-12

*Mahkota Api*

(Roman Kehidupan : Sang Bayang)

 
24 Komentar

Ditulis oleh pada 12 Juli 2012 in Cerpen, Roman

 

Tag: , , ,

24 responses to “Mahkota Api

  1. H Onnie S Sandi SE

    26 Juli 2012 at 07:51

    Ha..ha…betul Gan, nyata ditulis dan diceritain…salam sukses

     
  2. cumakatakata

    23 Juli 2012 at 04:45

    bgus sang..
    kira2 ampe berapa episod???

     
    • SanG BaYAnG

      23 Juli 2012 at 19:35

      Terimakasih Om..
      Saya sendiri juga belum bisa memastikan Om.., karena ini akan terus berkembang, dan biarkan waktu yang akan menjawab.🙂

       
      • cumakatakata

        23 Juli 2012 at 19:36

        assiiikkk

        saya suka gaya ini…

         
        • SanG BaYAnG

          23 Juli 2012 at 19:45

          Seiring perjalanan waktu, semoga kisah ini akan tetap mengalir.
          Terimakasih atas dukunganya

           
  3. Sawali Tuhusetya

    16 Juli 2012 at 18:33

    konon “roh” sebuah cerita fiksi terletak pada jalinan konfliknya. saya lihat konflik dalam sequel ini makin menguat. semoga masih bisa terus berlanjut.

     
    • SanG BaYAnG

      16 Juli 2012 at 22:03

      Terimakasih banyak atas petuah-petuahnya Pak.., semoga ini akan bisa saya ingat dan “roh” itu akan tetap bersemayam dalam kisah-kisah selanjutnya.
      Salam..😀

       
  4. yisha

    15 Juli 2012 at 06:36

    wow, yisha serem bacanyaaaaaaaaaaaaaa………………..hiks! 😦

     
    • SanG BaYAnGng

      15 Juli 2012 at 22:34

      Ahh.., ene kan cuma cerita, napa mesti takut..
      Tak temenein aja yuk..😀

       
  5. jayputra9

    14 Juli 2012 at 08:50

    cerita fiksi yang keren.

     
  6. uyayan

    14 Juli 2012 at 04:31

    jadi inget seorang teman… sudah saya peringatkan jangan bermain api, kalau tidak mau terbakar… eh malah menggila main apinya….jadinya ya terbakar hehe

     
  7. Dewi Fatma Permadi

    13 Juli 2012 at 09:04

    Kirain kisah nyata…….😀

     
    • SanG BaYAnG

      13 Juli 2012 at 18:12

      Loh.., ini kan juga nyata.., nyata diceritakan..:mrgreen:
      Terimakasih Mbak Dewi..😉

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: