RSS

Tradisi Maskapai Yang Membumi

23 Jul

Tradisi Maskapai Yang Membumi.
Roman : Sang Bayang

Selama Pak Yohan di Taiwan, semua lancar. Susunan akal bulusku berjalan mulus. Yah., betapa hebat dan mulianya aku saat ini. Aku yang berdiri mengangkangi singgasana, diantara tiga wanita. Kebebasan yang kudapat, seolah benar-benar berpaling dari segala tatanan-tatanan yang kadang terasa konyol. Satu hal yang berubah. Malam yang biasanya kulalui di tempat-tempat hiburan, kini cukup satu langkah senang kudapat. Di rumah ini, bersama tiga bidadari, aku berkuasa. Dan aku sadar betul, kekuasaanku layaknya bermahkota api, yang tidak kekal dan sewaktu-waktu bisa membakar diriku sendiri. Sebab itulah, meski kukepal kekuasaan, aku tetap berhati-hati. Karena aku tak mau terbakar api mahkotaku sendiri.

Aku selalu berhati-hati dan berpikir apa saja kemungkinan yang akan kuhadapi dalam perjalanan hidup yang boleh dikatakan menyimpang. Menyimpang dari norma, bahkan kehilangan rasa manusiawi, itulah aku saat ini. Kembali lagi, sebagai manusia aku cukup sadar dan tahu diri. Aku mengerti apa yang kulakukan sangat salah, namun aku suka, itulah sebabnya mengapa aku selalu mengambil jalan pintas dan masa bodoh dengan segala macam urusan orang lain yang tidak berkepentingan.

Bel berbunyi pertanda jam istirahat. Kuingat hari ini Pak Yohan pulang dari Taiwan, dan aku harus menjemput di bandara semarang. Bergegas kupacu black alphart. Meski dikantor ada sopir aku lebih suka mengemudi sendiri, karena ini adalah kebiasaanku. Membawa sopir rasanya kurang nyaman, ini membuatku selalu dihantui rasa was-was. Was-was tentang rahasiaku kalau-kalau terbongkar. Cukup aku saja yang tahu rahasia kebusukan hatiku. Kalaupun ada resiko, biar itu kujalani sendiri dan tak akan melibatkan orang lain. Sebab aku bukan anjing, yang suka mencatek kawanan untuk menutupi kesalahan. Karena aku lelaki tulen, yang di didik bukan untuk menjadi pengecut, tapi untuk menjadi pria yang bisa bertanggung jawab.

Perjalanan ke Semarang sengaja kutempuh melewati jalur tembus pecangaan, ini untuk megurangi kebisingan dan ramainya lalu-lintas. Lagian pemandangan di area ini juga cukup menyejukan mata. Setelah tiba di Meranggen “Kri..ri..ri..ring-kriring..” tiba-tiba phone cell berbunyi dan suara dari seberang memberitahukan “Sekarang saya sudah di Jakarta, dan mungkin kedatanganku agak terlambat.” ini adalah suara Pak Yohan.

“Kenapa Pak..???” tanyaku yang penasaran ingin tahu sebab dari keterlambatan tersebut.

“ Biasalah, pesawat yang kutumpangi dari Taiwan terlambat tiba di Jakarta” jawab Pak yohan.

Wah hebat, pkirku. Orang sedisiplin Pak Yohan tiba-tiba saja berpandangan bahwa keterlambatan sebuah pesawat merupakan hal yang biasa. Dengan nadanya yang khas seolah ini adalah hal yang lazim bagi Beliau. Apa kiranya yang mampu menetrasi cara pandang Pak Yohan sedemikian rupa..??? Apakah selama di Taiwan Beliau bertemu dengan tukang doktrinasi otak atau ahli meditasi. Ah masa bodoh, itu bukan urusanku.

“Lantas apa hubunganya dengan pesawat arah semarang.”

“Memang tak ada hubunganya, tapi pesawat yang seharusnya membawaku ke semarang itu sudah berangkat dari tadi, jadi harus menunggu pesawat berikutnya.” penjelasan Pak Yohan.

“Lha terus, pesawat berikutnya jam berapa..???”

“Mungkin jam empat nanti, itupun kalau tidak ada penundaan jam terbang”

Waduh, belum pasti juga jawabnya. Maklum, memang beginilah keadaan penerbangan di negeri ini. Sering terlambat dengan berbagai alasan yang kadang lebih berkesan tak masuk akal adalah hal yang lumrah. Untunglah pihak maskapai selalu pinter menutupi kesalahan serupa dengan berbagai macam iming-iming layanan yang katanya memuaskan selama terdampar di bandara. Seperti pengalamanku yang pernah mengakar di bandara. Saat ini, Pak Yohan pasti lagi makan, dan dua jam lagi makan lagi dan lagi seterusnya. Itu jikalau pesawat yang di tumpanginya mengalami keterlambatan berulang kali, sebab itu adalah bagian dari pelayanan. Mungkin maksutnya biar tenang perutnya dan Pak Yohan tidak gerah otak. Padahal kita sama-sama tahu, kebutuhan utama ketika memilih sebuah kendaraan yang kita tumpangi, sesungguhnya bukan soal pelayanan ekstra dan tetek-mbengeknya, tapi ketepatan waktu dan guna.

“Baiklah Pak, nanti tolong kabari saya lagi bila pesawat yang Bapak tumpangi sudah berangkat, agar saya tidak kelamaan menunggu di bandara” sahutku setelah mendengar berbagai penjelasan dari Pak Yohan.

“Ya.., nanti saya kabari lagi kalau pesawat akan berangkat.” jawab Pak Yohan singkat yang membuatku tenang.

Dengan sedikit kesal, selama menunggu waktu kedatangan Pak Yohan, ini kugunakan untuk jalan-jalan melihat suasana kota Semaranag. Sudah lama juga rasanya aku tidak nongkrong di simpang lima. Sengaja kuparkir kendaraan agak jauh dari simpang lima, agar aku bisa sedikit santai berjalan-jalan disekitar area. Panas memang, tapi tempat ini tidak pernah sepi. Padanganku tertuju pada sebuah kedai es rumput laut ketika rasa hausku menyerang kerongkongan. Karena rasa gengsiku terlalu besar, maka aku lebih pilih menahan haus dan cari tempat lain, ketimbang harus minum di tempat seperti itu. Segera kubalikan langkah menuju tempat yang sedikit berkelas. “Mungkin disana, bisa kudapati menu kudapan yang bersanding dengan minuman lain yang hampir mirip dengan es rumput laut.” batinku berharap dengan selera yang kuingin saat ini.

Setibanya di Bar & Restaurant. Memasuki ruangan ini rasanya memang lain. Ditempat yang bersih dengan penataan interior dan aksesoris ruang yang digunakan ini lebih membuatku nyaman setelah beberapa menit yang lalu kepanasan. Semua yang ada diruangan ini, sepertinya sangat lekat dengan batinku, mulai dari aroma air fresh, gaya lukisan ornament dinding yang sepertinya kukenal, origami burung dan berbagai pernak-pernik bambu lainya. Ah.., mungkin ini cuma kebetulan, dan cocok dengan suasana hatiku saat ini. Sehingga membuatku seolah berada dimasala-lalu yang entah kapan waktunya. Sebelum aku merenungi banyak hal tentang tempat ini, seorang gadis cantik berkemeja pink dengan garis-garis merah hati mengahampiri. Dilihat dari penampilanya pastilah dia seorang pramusaji atau sejenisnya.

“Mau pesen apa Mas..???” tanyanya sambil menyodorkan daftar menu dengan sopan.

“Saya pesan nanti saja mbak. Sebelumnya, bolehkah sekarang saya minta air putih dulu” jawabku enteng, tanpa mempedulikan pria di meja sebelah tempatku berada yang sepertinya sedang melirik.

Cuek lah.., sikapku. Di resto lain, air putih sudah tersedia tanpa diminta. Dan hal serupa memang sudah menjadi kebiasaan lamaku, yang selalu mendahulukan minum air putih sebelum minum ataupun menyantap makanan lain. Aku juga lebih suka menikmati suasana sebelum menikmati menu yang tersedia di sebuah resto, sebab kenyamanan sebuah tempat merupakan bagian dari sebuah kenikmatan bagiku.

“Oh.., boleh saja mas, sebentar ya, saya ambilkan.” jawab pelayan itu sambil berlalu.

“Pesanlah apa saja yang ingin kamu pesan, dan gak usah membayar” suara tegas seorang perempuan dari belakangku tiba-tiba menyahut tanpa permisi.

Kurang ajar sekali perempuan ini. Pikirku, apa dia tidak kenal aku Halilintar paju, hingga berani berkata seenaknya. Siapa perempuan sundal berengsek ini. Batinku menggerutu, karena merasa diremehkan dan dipermalukan dihadapan umum. Terus terang aku geram, aku marah, dengan perlakuan ini. Dengan congkaknya emosiku memuncak. (Bersambung)

Cerita selengkapnya akan di update secara bertahap di dalam kategori : Roman Sang Bayang

Ambarawa, 24 July 2012
*Tradisi Maskapai Yang Membumi*
(Roman : Sang Bayang)

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 23 Juli 2012 in Roman

 

Tag: ,

7 responses to “Tradisi Maskapai Yang Membumi

  1. H Onnie S Sandi SE

    24 Juli 2012 at 06:48

    Mampir siang Gan….kelanjutannya berapa serie ?…..he…he…salam sukses

     
    • SanG BaYAnG

      24 Juli 2012 at 17:57

      Siang juga Om..
      Belum bisa memastikan berapa episodenya Om, sebab masih dalam proses..🙂

       
  2. komuter

    24 Juli 2012 at 01:59

    masih lanjut ternyata……
    mantaps..

     
  3. yudha

    24 Juli 2012 at 00:34

    salam kenal agan semua
    saya mau berbagi pengalaman seputar kesehatan
    ================================
    Propolis Brazilian
    Propolis ini berasal dari zat organik murni hasil uraian lebah madu Brazil yang dihasilkan dari substansi yang mengandung damar dari daun muda tumbuhan yang disebut Baccharis dracunculifolia (Alecrim do Campo) untuk membersihkan dan melindungi sarang lebah terhadap dingin, panas, angin, kelembaban dan penyakit.
    yang sangat membentu kita dalam menjaga kesehatan,dan luarbiasanya lagi bisa mengobati berbagai macam penyakit.
    “BUKTIKAN”
    ======================================================

    Maaaf.., Mas yuda-ngrayudan atau siapapun anda..
    Saya mengahargai kerja keras anda dalam melakukan bisnis online ataupun bisnis lain melalui media online. Seperti juga saya yang mengumpulkan recehan melalui online. Namun, kalau boleh memberi saran, bisnis anda apa tidak sebaiknya di jalankan melalui kaskus, ebay atau sosial media lain yang membayar membernya dan ini sangat menguntungkan. Sebab disini saya (pribadi) cuma ingin berkarya layaknya teman-teman lain yang suka menulis. Jadi, tolong hargai dan jangan campurkan karya-karya kami dengan kepentingan bisnis individu atau kelompok tertentu.

    Maaf..beribu maaf.., Link yang anda tanam terpaksa saya hapus, sebab itu bisa di curigai sebagai spam oleh askimed dan saya tidak menerima hal serupa.
    Selamat berbisnis dan Salam..

     
  4. Senjakala Adirata

    23 Juli 2012 at 20:05

    wah, jadi penasaran cerita kelanjutannya…..

    salam kenal😀

     
    • SanG BaYAnG

      23 Juli 2012 at 20:23

      Terimakasih dan silahkan tunggu kelanjutanya Mas..
      Salam Kenal juga Mas Adi..🙂

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: