RSS

Matinya Seorang Penulis

11 Sep

Matinya Seorang Penulis
Sajak Cermin : Sang Bayang

Mengenang tragis matinya seorang kawan dengan sadis, kaku membisu tak mampu mendengar getar. Tanpa rasa sajikan niat elok, agungkan congkak kemampuan menulis syair mantra. Dikalahkan tinggi rasa gengsi, tuli dari lantunan kidung sejati. Mengangkang dengan jari terkepal, mengaku cenggkeram milyaran kata. Namun buta sejuta kata menari indah diluar sana, sebab rengkuhan bebal akalnya tak menjangkau. Sungguh kasihan..!!!

Kehebatan melukis dikandang sendiri, selaksa mengembik diantara kambing pengecut. Sajikan lemah kekerdilan ego, terkurung maksud memeluk guling. Lelap seperti bayi, terkubur puas dipembaringan asa. Tertikam keangkuhan kecambah muda, tanpa daun dan kelopak, berkehendak mekarkan bunga disudut kamar. Namun terlanjur mabuk, menelan biji kecubung malam. Hingga gelap dunianya, segelap matanya memandang.

Kalau boleh kutanya seberapa luas mata, sebatas mampu menyentuh ejaan. Bukan jawab kera menghafal gerak topeng monyet, yang malu dipanggung sirkus sesungguhnya. Rasa mudah mengusung mahkota adalah penahbisan bodoh dimuka pemegang pena. Tak ubahnya sebutir pasir dimata, satu berarti timbullkan sakit dan enggan menatap.

Kawan.., untuk apa kau berlari memburu angin. Sementara tatapanmu kosong, palingkan muka memandang pekarangan. Entah.., hendak kemana kaubawa nama, tak lain hanyalah tong sampah. Sebab sandungan membuat sebelah sayapmu patah, terjungkal bersama rasa malu, nestapa menatap dunia tak mampu mengeja. Menyerah dalam bayang-bayang jelmaan lain, yang datang dan pergi sesuka hati tak pernah kaumengerti.

Hari, bulan, tahun, dan seterusnya. Berdiri dalam bayang-bayang lamunan, abadi menjadi pengingkar nurani. Mati dihati, membunuh inspirasi yang terkubur dalam jasadnya sendiri. Menganggap gancu tumpul seperti belati, lupa sanjungan adalah pedang tajam pembunuh masal, dan akan menelanjangi kepongahan.

Ambarawa, September 2012

 
62 Komentar

Ditulis oleh pada 11 September 2012 in Cerpen, Prosa, Puisi, Sajak, Selayang Pandang, Syair

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

62 responses to “Matinya Seorang Penulis

  1. Sang Dewi

    14 September 2012 at 14:48

    waah bahasanya halus mulus mas, bikin saya tergelincir dan jatuh terjerembab.

    mantaph

     
    • SanG BaYAnG

      16 September 2012 at 01:47

      Wah.., maaf bila telah membuat anda terjatuh dan selamat bangun kembali😛

      Terimakasih mbak Dewi..🙂

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: