RSS

Sikap Yang Tak Pernah Berubah

25 Sep

Sikap Yang Tak Pernah Berubah
Cerpen : Sang Bayang

Bell keempat telah berbunyi sebagi pertanda jam istirahat. Murid kelas 2E 5 serentak menyambut dengan bergembira. Ada yang diam dikelas dan sebagian lainya berhamburan keluar. Wigati berdiri dan mengajak Saifun ke kantin. Namun Saifun lebih memilih diam dikelas membaca buku yang dipinjamnya kemarin dari perpustakaan.

“Ayo lah Fun. Ntar aku yang bayar dah” ajak Wigati setengah memaksa.

“Enggak ah. Kamu kesana sendiri saja, atau ajak teman barumu itu.” jawab Saifun lirih.

Wigati yang tidak sabaran itu tetap ngotot mengajak Saifun. Dia menghampiri saifun dan langsung menarik-narik tangan saifun memaksanya untuk pergi kekantin bersamanya. Setelah Saifun berdiri, Wigati terkejut melihat celana bagian paha kebawah yang dipakai Saifun penuh bercak kotoran.

“Kenapa celanamu bisa sekotor itu?” tanya Wigati yang terheran-heran melihat keadaan celana cowok itu.

Saifun melangkah dan menuruti kemauan Wigati sambil mengarahkan pandanganya kearah Wilis yang sejak tadi masih duduk didekatnya dengan perasaan gelisah.

“Tadi pagi aku jatuh didepan gerbang. Bukankah disana sangat becek” jawab Saifun berbohong.

Wilis yang sejak tadi diam. Tersentak setelah mendengar jawaban Saifun. Hatinya tertusuk kaharuan, karena cowok itu telah mengorbankan perasaanya sendiri, meskipun Wilis telah bersikap tidak baik padanya. Wilis merasa malu. Dengan mata berkaca, dia menatap kepergian Saifun yang digandeng Wigati keluar dari ruangan kelas.

***
Hujan turun rintik-rintik siang itu. Keadaan sekolah mulai tampak sepi dan hanya beberapa siswa yang berjalan dipintu gerbang sekolahan. Namun Wilis sengaja berhujan-hujan. Perasaanya sangat yakin jika Saifun belum pulang dan pasti akan melewati gerbang itu. Ia harus bertemu, untuk berbicara sebentar dan minta maaf.

Duagaan Wilis benar. Tidak lama kemudian ia melihat Saifun berlari-lari kecil menembus gerimis yang masih turun. Dengan penuh gejolak Wilis segera menghadang Saifun yang terkejut ketika laju langkahnya terhalang Wilis yang sengaja mencegatnya.

“Mengapa kau hujan-hujanan, kq kayak anak kecil saja?” tegurnya ramah.

Tapi Wilis malah tersinggung karena dianggap seperti anak kecil. Wilis lupa pada niat awal yang sebenarnya hendak minta maaf pada Saifun. Ia langsung bertolak pinggang dan menyerang Saifun dengan ucapan.

“Dasar berengsek. Sikapmu masih juga seperti kemarin. Kalau tahu begini, aku tak akan berhujan-hujanan menunggumu” suara Wilis yang penuh dengan emosi.

“Loh, siapa yang suruh nunggu. Emang situ emaku.” sahut Saifun enteng.

“Syit. Sialan kamu” Wilis mengumpat sambil berlalu dari hadapan Saifun.

Saifun melangkah pulang. Dalam hatinya bertanya-tanya. Sebenarnya ada apa dengan gadis itu? Mengapa sejak awal bertemu, sikap dan kelakuanya masih saja sombong seperti itu.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 25 September 2012 in Cerpen, Selayang Pandang, Sudut Pandang

 

Tag: , , , , , , ,

2 responses to “Sikap Yang Tak Pernah Berubah

  1. katrinaedwardsyusof

    7 Oktober 2012 at 14:43

    memang sukar menilai tingkah seorang perempuan yaa..? hehehe😀

    *lebih sukar menilai ketulusan hati seorang lelaki…

     
    • SanG BaYAnG

      8 Oktober 2012 at 02:03

      Hmm.., tapi ndak semua lelaki begitu kan mbak..:mrgreen:

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: