RSS

Tak Ada Yang Perlu Di Tertawakan

25 Sep

Tak Ada Yang Perlu Di Tertawakan
Cerpen : Sang Bayang

Hujan tadi malam mampu membuat udara pagi di lereng lawu terasa sejuk dan segar. Angin menabuh daun pinus ciptakan gemuruh sambil tebarkan wangi kembang kopi kesudut-sudut dusun. Saifun melangkah dengan semangat pantang menyerahnya. Meski jarak sekolah dan rumah cukup jauh dan kadang harus berjalan kaki karena telah ketinggalan bus terakhir, namun hari-hari dilalui tanpa keluh dan resah sedikitpun. Dihari pertama masuk sekolah setelah libur satu minggu, saifun tampak santai melenggang diantara sisa hujan deras tadi malam yang membuat jalanan digenangani air dimana-mana.

Wilis yang sedang menyetir mobil sendiri, terlihat gugup dan ragu memasuki halaman parkir. Kalau tidak salah lihat. Orang yang jalan dengan berjingkat-jingkat menghindari becek didepanya itu adalah pria yang menggodanya dihalte bus kemarin. Wilis semakin gelisah bercampur kesal. Gelisah karena ini adalah hari pertama masuk disekolah barunya. Dan kesal karena harus bertemu lagi dengan pria yang sempat membuatnya jengkel dengan apa yang telah dilakukan padanya. Haruskah aku memakinya? Atau, haruskah aku menyapanya? Wilis bingung. Sementara mobilnya terus melaju. Ketika hendak melewati Saifun. Cowok itu meloncat kepinggir. Namun sayang, terlambat. Hingga percikan air yang terlindas ban mobil itu telah mengotori celana abu-abunya.

Saifun terperangah. Ia marah. Matanya manyala dan nyaris emosi. Namun dengan cepat ia mampu menahan dan menguasai diri. Bukankah itu gadis yang ia goda kemarin. Pikirnya setelah melihat Wilis yang duduk dibelakang kemudi itu menjulurkan wajah kearahnya tanpa menunjukan keramahan. Wajahnya masih sinis seperti kemarin. Huft.., Sombongnya. Apakah gadis itu sengaja melakukan ini untuk membalas perlakuanku? Dalam benaknya terlintas kembali bayangan wajah sinis gadis itu. Ah..!!! Saifun memandang celana abu-abuunya yang kotor sambil berjalan memasuki gerbang. Dan langsung berlari kearah ruang kelasnya.

Wilis juga menyadari hal itu. Ia kaget setengah menyesal. Rasanya ingin turun dari mobil dan meminta maaf. Namun dia ragu-ragu. Sementara roda mobilnya terus bergulir mencari tempat parkir yang kosong. Ketika ia keluar dari mobil, langsung menoleh kesana-kemari. Rupanya cowok itu sudah tak terlihat lagi disekelilingnya. Karena perlakuanya itu ia tampak merasa berdosa dan sangat menyesal.

Wilis bergegas menuju ruang yang ditunjukan oleh Pak Wahyu (kepala TU) kemarin. Setibanya disana, ia melihat Saifun sedang membersihkan celananya. Wilis terdiam dengan perasaan gundah. Hatinya semakin merasa berdosa dan kasihan. Sungguh aku tidak tahu diri, gumamnya resah. Lalu, dengan lemas ia meneruskan langkahnya menuju ruang TU. Setelah bertemu dengan Pak Wahyu, Wilis diajak keruang kepala sekolah. Setibanya disana keduanya langsung bersalaman.

“Selamat datang disekolah ini. Selamat belajar dengan rajin dan baik-baiklah selama menuntut ilmu di sekolah ini.” pesan kepala sekolah yang disambut Wilis dengan anggukan kepala.

***
Bell tanda masuk berbunyi. Pak Wahyu segera mengantar Wilis ke kelas 2E 5 yang letaknya tidak jauh dari ruang perpustakaan dan UKS yang tampak sepi. Wilis berjalan dibelakang Pak Wahyu dengan hati yang masih gelisah dan kesal teringat apa yang terjadi didepan gerbang dan kejadian dihalte kemarin. Hatinya menyesal dan kesal, kadang juga mengumpat, berkecamuk jadi satu. Pikiranya was-was, takut kalau pria yang tadi akan membalas perlakuanya.

Ruang kelas 2E 5 seketika menjadi berisik saat Pak Wahyu muncul dikuti oleh gadis cantik. Mereka saling berbisik dan memberi komentar. Pak Wahyu menepukan tanganya tiga kali sebagai pertanda mohon perhatian dari para murid kelas 2E 5. Serentak mereka diam dan suasana sedikit sepi.

“Para pelajar sekalian. Hari ini kalian kedatangan teman baru.” kata Pak Wahyu, memperkenalkan Wilis.

“Gadis cakep dan manis ini, namanya Wilis. Dia baru kembali dari Pekan Baru-Riau dan hendak meneruskan sekolah disini.” Pak Wahyu berhenti sejenak karena suasana mulai riuh kembali. Dan setelah reda.

“Baiklah, Wilis. Silahkan perkenalkan dirimu agar kalian bisa lebih akrab” Lanjut Pak Wahyu.

Tanpa rasa ragu gadis bernama Wilis itu mengangguk dan maju, menggeser tempat berdirinya tepat didepan kelas. Senyumnya mengembang membuat para murid pria terpesona.

“Nama saya Wilis Kridaningsukma Kelana. Cukup panggil Wilis saja. Saya lahir di Pekan Baru karena waktu itu ayah saya yang seorang kolonel sedang bertugas disana sebagai Komandan di TNI-AU. Kedua orang tua saya asli Ngawi. Baru beberapa minggu, kami kembali ke Kota kecil Ngawi karena ayah saya sudah pensiun dan tertarik dengan home industri disini.” cerita Wilis panjang.

“Apa hobimu, anak manis?” tanya seorang murid dengan nada kocak. Suasana spontan menjadi gaduh penuh tawa. Wilis yang terlihat grogi menjawabnya sambil menenangkan diri.

“Hobi saya banyak. Dianataranya, main musik, berenang, nonton film, nonton konser, bilyard, naik kuda dan..”

“Wah, banyak amat sih” celetuk seorang murid yang memotong pembicaraanya. Ruangan mendadak sepi karena banyak murid perempuan yang mencibir sinis pada kesombongan gadis itu.

Wilis tidak peduli, dan dia melanjutkan perkataanya, “Bintang saya Aries..”

”Sama donk. Bintang saya juga aries.” potong seorang murid berambut ikal dan panjang dipojok ruangan sambil berdiri.

“Maaf ya sayangku.” karso mulai bicara dengan nada kocak sambil lenggak-lenggok dan menggerak-gerkan tangan.

“ Pertama, kenalkan dulu. Nama saya Karso Wiguno. Karena rambut seksi saya yang kayak Mie keriting mengembang ini, membuat orang lain memanggilku dengan sebutan Kribo.” gayaKarso mengacak-acak rambutnya.

“Begini, aku senang bintang dan kegemaran kita ada yang sama. Siapa tahu saja nanti kita berjodoh” lanjutnya yang mulai ngaco yang di ikuti dengan guyonan-guyonan siswa kelas 2E 5 lainya.

Setelah berbicara panjang lebar dalam perkenalan yang diwarnai gaduh dan tawa itu, Wilis diantar kebangku nomer empat. Sebangku dengan Wigati.

“Semoga kau senang duduk sebangku denganku” kata Wilis ketika menjabat tangan Wigati untuk berkenalan. Wigati pun mengangguk dan tersenyum dengan ramah. Sambil melirik seorang siswa yang sejak awal kedatanganya tampak hanya diam. Sikapnya dingin, seolah tak menghiraukanya.

Setelah duduk dibangku perasaan Wilis bertambah galau, mengingat dua peristiwa yang dialami bersama Saifun. Kekesalanya pada cowok yang kini duduk dibelakangya itu makin menjadi-jadi. Sementara Saifun tetap diam. Tampak tenang-tenang saja menyikapi kegaduhan dan kedatangan Wilis. Seolah ia tak tertarik dengan tawa teman-temanya dan menganggap semua yang terjadi ini adalah hal biasa yang tak perlu ditertawakan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 September 2012 in Cerpen, Sudut Pandang

 

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: