RSS

Mengupas Asa Yang Terlupa

29 Sep

Mengupas Asa Yang Terlupa
Cermin Sajak : Sang Bayang

Masih kuingat diamu di labirin malam yang menerima dengan lapang dada. Lepaskanku membawa denyut rindu berkelana kelain jiwa, melewati sejumplah pintu, diantara indahnya permata. Bersama deretan kisah berarak awan, matamu menatap rembulan semu, berwajah setengah waktu aku meninggalkanmu. Di tepi lingkaran teka-teki yang hanya terjawab oleh kesetiaanmu dilain waktu.

Tahun berganti, ketika kau pertaruhkan kesetiaan pada tajamnya duri yang tak pernah berjanji. Asa kau biarkan menggantung, dibawah kelopak mawar yang tak kunjung mekar. Dengan sengaja kaubunuh bintang dimatamu, menepis hembusan angin pagi yang seharusnya lebih mampu membuatmu berseri, dalam mengarungi bahtera sesungguhnya. Namun tak bosan kausimpan rahasia, walau terkatung ditengah lautan karang yang dalam diamnya, bisa mengoyak perahumu sewaktu-waktu.

Sementara aku telah mengubur jarak duka dengan segala nikmat. Saat tak kudapati lagi wajahmu seperti dulu, diantara celah-celah ibukota. Aku telah lupa pucuk-pucuk pinus, gunung warak yang senantiasa lukiskan keteduhanmu, diantara daundaunnya. Menyapa akhir pekan dengan gemuruh rindu bertalu diatas batu cadas, dimana kautuliskan nama kita yang mungkin masih abadi disana, melewati hari-harinya dalam dera guyuran hujan, dibakar terik sekuat keyakinanmu.

Aku tak pernah sadar dan mengetahui, bahkan tak mengerti. Besarnya arti dan berharganya diriku bagimu. Hingga betapa bodohnya, aku; yang tiba-tiba saja datang membawa pedang. Kemudian meletakanya dilehermu yang selama ini telah pasrah dipundaku. Tersenyum lemah, menatap langkah sukmamu yang tak pernah menyesal, karena telah meletakan igaku diantara sela ragamu. Menjaganya sepanjang waktu, bersama lilin hatimu yang menyala, dengan pengorbananya.

Mungkin aku terlalu pengecut, untuk mengucapkan dua kata waktu itu. Hingga kepalaku mengeras, seperti batu, tempat nama kita tersemat. Merentangkan perjalanan kisah yang kusadari, ketika semua telah terlambat. Meninggalkanmu jauh diujung dusun, sendiri dikesunyian lereng lawu. Diatas tirani cinta tak bertepi. Dalam selembar permadani yang masih hangat kau peluk erat. Kau lepas rindu, disamping tidurmu yang terbangun. Kala mendengar kabar dalam sebuah sajak, ditempatku mengupas asa yang terlupa.

Ambarawa, September 2012

 
20 Komentar

Ditulis oleh pada 29 September 2012 in Cerpen, Puisi Cinta

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

20 responses to “Mengupas Asa Yang Terlupa

  1. uyayan

    1 Oktober 2012 at 10:35

    setiap baca post seperti ini ada keraguan untuk komen gan… takut salah menangkap pesan yg tersirat…

    tapi maksa komen

    lagi galaukah gan ? dan penyesalan emang datang menyusul belakangan.

     
    • SanG BaYAnG

      2 Oktober 2012 at 01:36

      Gak apa-apa Kang.., bukankah setiap orang memiliki banyak perbedaan. termasuk dari sisi sudut pandang..hehehe..

       
      • uyayan

        2 Oktober 2012 at 12:37

        hehe iya sih gan tapi kalau komen sama isi tulisan gak nyambung kurang sedap juga hehe

         
        • SanG BaYAnG

          2 Oktober 2012 at 12:53

          Eh, bener juga ya Kang. Tp tak apalah kang.., itu wajar juga kq bagi saya..hehehe..

           
  2. cumakatakata

    30 September 2012 at 01:52

    lanjutkan….

    tulislah apa yang ingin kau tulis, jangan kau tulis apa yg tak ingin kau tulis…………….

     
  3. Sawali Tuhusetya

    29 September 2012 at 22:05

    wah, ini model kisahnya mirip seperti gumam asa-nya bang ali syamsudin arsy. kalau dlm versi sastra ada kemiripan dengan prosa lirik “pengakuan pariyem”-nya linus suryadi ag. prosa yang dipuisikan atau puisi yang diprosakan.

     
    • SanG BaYAnG

      30 September 2012 at 01:36

      Waduh.., apa kira-kira karena saya sering baca Gumam Asa-nya Pak Ali Samsudin Arsy diblog Pak Sawali yang kadang membuat saya cemburu, kapan bisa menulis seperti Gumam Asa..???:mrgreen:
      Sedangkan untuk Linus Suryadi AG, rasanya terlalu jauh bagi tangan saya ini untuk menjangkaunya Pak.

      Harapan saya selama ini hanya, semoga saja bisa belajar dari Panjenengan dan Beliau-beliau ini.πŸ™‚

       
  4. Ely Meyer

    29 September 2012 at 11:47

    mending tulisannya ttg asmara saja

    dua kata waktu itu apa ya ?

     
    • SanG BaYAnG

      30 September 2012 at 01:22

      Maunya sih gitu. Tapi kadang macet dan buntu mbak.

       
  5. yisha

    29 September 2012 at 10:49

    dalemmmmmmmmmmm………………deh πŸ˜€

     
    • SanG BaYAnG

      30 September 2012 at 01:21

      Oh.., sedalem apakah gerangan..πŸ™„

       
      • yisha

        30 September 2012 at 10:28

        sedalem jurang pemisah di antara kita…….. :mrgreen:
        *plak!

         
        • SanG BaYAnG

          1 Oktober 2012 at 02:02

          Semoga pemda segera membangun jembatan untuk kita..πŸ˜†

           
          • yisha

            2 Oktober 2012 at 09:34

            eh iya, ka, 2 kata yang kaka maksud kata apa, ka? beneran deh,, yisha ngga tau…………

             
            • SanG BaYAnG

              2 Oktober 2012 at 10:30

              Ah..kamu. Ntar juga tau lah.
              Sekarang masih dirahasiakan..πŸ˜†

               
  6. achoey el haris

    29 September 2012 at 09:19

    kau memang puitis
    blogger puitisπŸ™‚

     
    • SanG BaYAnG

      30 September 2012 at 01:17

      Terimakasih mas Achoey.., sudah sudi mampir kemari..πŸ™‚

       
    • cumakatakata

      30 September 2012 at 01:50

      setuju Mas……….

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: