RSS

Rangkaian Status Facebook Yang Konyol : Jejak Setatus Facebook Sang Bayang 2

05 Okt

Angin selatan bertiup, mengantar awan dan kabut
titik-titik embun seolah mengantar nikmat
sawah-sawah basah, tanah retak terkatup
giliranmu berkata telah tiba, membawa kabar
biar lusa lewati waktu, kembali bersama harapan dan mimpi
Sang Bayang
26 Februari melalui iGoogle Gadget

Berpasang mata tak kedip memandang dentang jarum jam, menunggu malam kedatangan iblis serupa malaikat dari langit menenteng berkah ditengah malam terbelah di awal pesta pergantian tahun kematian.
By : Sarwono Al-syarweq// Di edit oleh Sang Bayang
Sang Bayang berbagi tautan.
2 September

Memapah malam setawar asa memburu pelangi bocah bocah pemburu sesuap imaji.
Sang Bayang
1 September melalui seluler

Matahari kehilangan taring, dipenggal dingin menusuk jengkal lekukan raga. Tembus menghujam tulangtulang, didalam gigil selembek jenang sumsum.
Sang Bayang
3 September melalui seluler

Meretih basahnya tahun raga tak bersua, mengelupas gantungan setumpuk rindu beradu didasar dasar kolam kesibukan, tenggelam dikedalaman samudera raya
sejernih pikiran menabur garam dilautan lama.
Sang Bayang
4 September

Malam kukabarkan kepada tuan, tentang setitik asa bergumpal rindu. suara suara kaku berjalan menyeberang kota, diburu detik mengeja waktu, memetik luang tak bertepi diujung batas kesempatan raga, menyulam benang benang misteri simpul unik maya.
Sang Bayang
4 September

Dua bayangan tak gentar beku membelah tengkuk gelombang jalanan ular, di saji bukit hijau permadani menyembul dikawal gunung gunung.
#go to mboja.., uademe rek.. :brrr:
Sang Bayang
4 September melalui seluler

Okey.., mas bro dan mbak bro sekalian. Aktifitas adalah jawab atas tanya harus mengapa..???
Met pagi dunia miniku..😉
Sang Bayang
4 September melalui seluler

Wengi kelangan sepi, anyurup ing siji demit lan setan.
Danyang-danyang prayangan ngrasuk sukma ngganti jiwa, raga tanpa lingsem kelangan daya jisim jati.
Ganda-ganda sirna kabuntel wangi menyan, raga amblas kayadening wadak tanpa rai.
Sang Bayang

4 September melalui seluler

Basis basis bahasa serasa sesak tak mampu menampung ledakan kata menyala-nyala, sebagian runtuh, mengungsi ke markas daerah asal. Dan aku.., nulis sak karepku. #sah..!!!
Sang Bayang

4 September melalui seluler

Tali-tali gergaji
mengikat mantra mantri
alas-alas tak berambut,
bertali di atas seutas kertas
bersaing panjang cuilan kulit kayu.
Lantas
siapa peduli tangismu anak cucu,
toh mata pasti merah
semerah warna pintalan rupiah
ketika disogok blandong ndlogok.
Sang Bayang
5 September

Oh..mengapa..???
tanyaku, pada perawan pinsan dipelataran materi. mati pangku rayuan, berlari tinggalkan gusar dengan limaunya.
Sang Bayang
5 September melalui seluler

Kenapa malam begitu sepi, seolah dalam kerumunan setan-setan biadab yang mungkin lebih beradab, jika di bandingkan dengan kelakuan konglomerat lokal, berdasi dan jas mewah jatah dari pemerintah. #gak ngeh..
Sang Bayang
6 September

Pagi dikabarkan kokok pejantan ayam yang mulai kehilangan nyali dihadang knalpot.
Sang Bayang
7 September

Kala rindu mengantar pesona bayangan masa silam, kabut mutiara terlena tetabuhan mulut yang tersaji dalam keremangan simpang-siur logika.
Sang Bayang
7 September melalui seluler

Kekes ati tanpa pedut, nalika swara manuk tan bisa nglelipur ati. Aja gumun, lamun lena nganti mbengok anyebut asma kinanti. Aja gumun lamun asmaraku tanpa saloka lan sesanti.
#nyot-nyit..geguritan lebay..
Sang Bayang

8 September melalui seluler

Kematian adalah cinta
seperti ibu yang membuka jalan untuk anaknya.
Rasa sakit dan penderitaan.
Kematian adalah kehidupan.

*BUKANKAH*
Oktarano Sazano (OS)
Sang Bayang
8 September melalui seluler

Seperti mimpi kau kembali, berkisah tentang gelintiran-gelintiran resah. Kau kecap getir tak berujung, dalam badai pelupuk mata yang basah.
Sang Bayang
8 September melalui seluler

Mendayung simfoni senja sambil memandang cermin akhir pekan yang mulai menjadi gaya hidup keagungan alay alay lebay.
Sang Bayang

8 September melalui seluler

Ganjil merenggut indah manikam indera. Nafas-nafas diburu tumpukan jejak. Terlena kabut mutiara kertas, lupa menyambut pagi. Ah..!!!
Sang Bayang

9 September melalui seluler

Diujung bait sebuah kata memapar, menghantar kirimanpun telah kelar, kini tinggalah waktu mengelekar.
#NETRAL..
Sang Bayang
9 September melalui seluler

Lelah bertautan sedikit pusing, raga lemah seolah berada ditempat asing. Malam tersingkir dari sepi menjadi bising, jangkrik bersuarapun seolah terdengar melengking. Ah..!!!
Sang Bayang

9 September melalui seluler

Kota demi kota kulalui, sisakan nyeri pada lekukan-lekukan raga. Mungkin.., raga dan otaku lelah, atau kelelahan akibat kuperah. Ah..!!!
Sang Bayang

9 September melalui seluler

Gegojekan punggawa bangsa pada adu kasekten nyanding ageman drajating pangkat lan jimat tumbak cocotan. Satria-satria pada muluk ngumbulake swara mangku wicaksana, kanmongko ora bisa njugil krikil sing nyandung lakune sikil. Njur, kudu pie..???
Ah.., gak sah di gagas, mending turu wae..!!!
Sang Bayang
10 September melalui seluler

Ketika buletin, tabloit, koran dan berbagai sumber bacaan lain isinya lebih berkesan didominasi dan dimonopoli oleh pihak tertentu, jawabnya adalah blog.
Mengapa demikian..???
(gagasen dewe kebenerane)
Sang Bayang
10 September melalui seluler

Siap menjelajah malam dengan hujatan.
Sang Bayang
10 September melalui seluler

Kembang duren menyela kemuning bersolek, dipelataran menyengat wangi memikat, menusuk jantung hidung yang terpancung. Ah..!!!
Sang Bayang
18 September melalui seluler

Kalau boleh mengupas dengan bebas, pastilah jujur kataku sehati. Biarkanlah pangkal terlempar tanpa alas sejuta pikiraan, bila hanya untuk menabur benih stress. Ah..!!!
Sang Bayang
18 September melalui seluler

Seribu kunang laksana bintang menghias malam di pos kampling. Bersekutu imaji mengusir sepi, kala gerbang lamunan tak terdobrak. Dalam diam, menyusun cerita, tentang malam dan keindahan.
Sang Bayang
18 September melalui seluler

Aku datang ketika lidahmu bertulang. Dalam derap kusapa lingkaranmu seperti batu. Mungkin aku salah pakai jam tangan, hingga detiknya tak mampu membangunkan lelapmu.
Sang Bayang
19 September

Kokok ayam pelung disamping rumah mununjukan lengkingan panjangnya. Dan aku mulai sadar, bahwa siang telah beranjak dari tempatnya.

Sang Bayang

19 September melalui seluler

Kala rindu menyala kembali, sepi permainkan warna. malam mengoyak kesucian yang terluka, dibujuk rayu lepaskan rindu.
Sang Bayang
21 September

Keagungan bukan kebohongan ruwet yang memasung pikiran dalam kabut kekalutan. Kebijaksanaan tak pernah lebay deng lmauny, tak pula takjub saksikan keajaiban. Sebab ia tak kenal takut dan heran ketika menghadapi hidup yang kadang begitu latah.
Sang Bayang berbagi tautan.
21 September

Secawan nikmat kopi hangat berkawan malam yang kian pekat, namun aku terlalu munafik untuk mengakui nikmat tubuhmu dalam ikatan sebuah rasa. Ou..yeah.. *BULL..*
*.¥.* ROKOK : Rosone sing Pokok. (kerata basa)
Sang Bayang
22 September melalui seluler

Menyayat guliran gita lampau dalam kepingan cakram galau. Lamban mencabut nadi, alirkan kenangan sederas hujan air matamu kala itu.
Sang Bayang
22 September melalui seluler

Ketika belaian tangan punggawa tinggal cerita dibilik bilik telinga. Igaunya hanya menjadi hantu bagi ribuan itik kecil yang tak lagi mampu merenangi takdirnya.
Sang Bayang
22 September melalui seluler

suara suara kaku berjalan menyeberang kota, diburu detik mengeja waktu,
memetik luang tak bertepi, diujung batas kesempatan raga bertemu, menyulam benang benang misteri dalam seikat simpul unik, maya dan nyata tanpa pranala.
Sang Bayang
23 September

Dalam sendu kupuisikan namamu, bersama jejak rindu sulaman bintang. menunggu langit yang menggantung, runtuh dimatamu.
Sang Bayang
23 September

“Semakin banyak menulis, semakin tajam pula kepekaanya.”
Sang Bayang
23 September melalui seluler

Bila palu tak cukup mampu memecah batu dikepalamu, bisa saja kupakai pedang dan parang. Namun, itu juga tak lebih baik dari pecundang.
Ada jalan lain bro. Usahlah bersikut bila tak mampu menggulingkan. #piss..
Sang Bayang
24 September melalui seluler

Ujung senja makin runcing di asah tajam wangi kembang kopi yang menendang paru sepanjang jalan ngasinan-njenganti.
Sang Bayang
24 September melalui seluler

Kembali pada malam tempatku nongkrong. Berkawan pekat didepan sebidang kotak kaca yang tak bosan kujenguk setiap saat, sekedar sampaikan salam untukmu, kawan..
Sang Bayang
25 September

Masih pada sekotak kaca buram dan hanya memandang yang bisa kulakukan. Cuma itu yang tak terlewatkan. Ketika nasib aspirasi anak-anak negri di tepis, di gilas roda birokrasi, menyatu dengan mimikri neo kolonialisme liberal-liberal brutal. Mungkin, sudah saatnya aku harus menyerah pada serangan getah di mataku. Ahem..!!!
Sang Bayang
25 September

Daun-daun bersemi, namun ranting tetap kering bertengger di atas bukit pikiran dengan segunung pesoalan. Mungkin.., beban itu terlalu berat menindih pinggangmu sehingga bahumu kesakitan ketika memanggul jagad yang kadang membuatmu harus bertindak seperti bangsat dibalik laci lemari tak terkunci.
Sang Bayang
25 September

Tangismu menjawab sebuah perjalan yang mengalir tak sederas air matamu. Dan aku tertawa menjadi saksi atas kelatahan individualita cemoohanmu yang terlanjur menjadi candu.
Sang Bayang
25 September melalui seluler

Di atas daun muda yang bergerak membuka. Aku terlalu munafik untuk mengakui bahwa aku tak memiliki lemari pendingin untuk bekukan akar dibawah pusar. Rasanya ingin kukenali kau dengan akrab sepanjang umur lebah yang mati setelah tinggalkan sengat didekat pantat. Ah..!!! #dis dan fatal
Sang Bayang
25 September melalui seluler

Oh.., betapa terkejutnya aku ketika menyadari rakus mulutku serupa iblis lepas dari belenggu dua bulan kemarin. Wareg..!!!
Sang Bayang
25 September melalui seluler

Rasanya ingin kukepalkan tangan dan meninju muka matahari yang menunggang tepat di atas kepalaku. #es mana..es
Sang Bayang
26 September melalui seluler

Tak pernah kubayangkan, betapa nikmatnya duduk dikamar basah sudut rumah. Ternyata didunia ini, terlalu banyak nikmat yang terlupakan diantara celah-celahnya. Maklum lah lawong ini cuma ampas. Ah..!!!
Sang Bayang

28 September melalui seluler

Tahun berganti, ketika kau pertaruhkan kesetiaan pada tajamnya duri yang tak pernah berjanji. Asa kau biarkan menggantung dibawah kelopak mawar yang tak kunjung mekar. Dengan sengaja kaubunuh bintang dimatamu, menepis hembusan angin pagi yang seharusnya lebih mampu membuatmu berseri, dalam mengarungi bahtera sesungguhnya. Namun tak bosan kausimpan rahasia, walau terkatung ditengah lautan karang, yang dalam diamnya bisa mengoyak perahumu sewaktu-waktu.
Sang Bayang
29 September

malam terkulai lemah,
menyerah pada sunyi
ditikam sepi
menusuk jantung puisi.

berlari melawan kisah
sumbang mata menatap arah,
serak dan pecah, terbelah
suarakan rindu takhlukan bunyi,
gelisah dalam isyarat bertanda

dibalik diamnya semesta
tersembunyi diujung bait
sendiri dalam sebuah puisi.
Sang Bayang

29 September

Apakabar; cerit liar..!!! Masih kah kausambut pagi dengan galau, seperti candu dimatamu. Oh.., betapa malang nasibmu yang pliket.
Sang Bayang
29 September melalui seluler

Purnama membawa ingatan dalam belenggu lara dan rindu, selaksa makna perjumpaan dan perpisahan yang menunggu untuk dikabarkan.
Sang Bayang
30 September melalui seluler

Maaf.., bila selama ini kubiarkan air matamu berpesta untuk menyembuhkan dirinya dari luka.
Sang Bayang
30 September melalui seluler

Melawan gigil dengan selembar kain sarung bersama rindu yang beriak seperti ombak melandai lalu pergi.
Sang Bayang

1 Oktober

Walau dingin menjabat erat seglintir ragaku yang terbelenggu kerumunan kabut-kabut, dan menyudutkanku pada sejengkal nyanyian bosan. tak gentar kulawan gigil bersama rindu yang beriak seperti ombak, melandai datang dan pergi, menyentuh pantai. tak gentar, walau harus kulamar duka, diatas duri setajam belati. sebab kepingan asa harus disatukan demi sebuah nilai harga diri yang tak terbeli.
Sang Bayang
Selasa

Ah.., gelindingan itu membuatku cemburu karena tak mampu melukiskan keindahanya. Serasa ingin kuciduk dan menyiramkanya diladang liarku yang terbakar oleh seribu harapan yang tertukar.
Sang Bayang
Selasa melalui seluler

Detak lingkaran waktu memasung kepala setengah berputar seirama getar dawai gitar, serupa lambai daunan pantai membelai mata yang menjelma jadi rindu pada sekian waktu.
Apakabar Pagi..???
Sang Bayang
Rabu

Panas dari semangat-semangat itu membakar dada hingga membuat lalai telah menginjak mataharinya sendiri. Esok, sebagian diantaranya pastilah lupa dan kembali di tempat semula. Kembali menjilat, kembali dijilat dan saling jilat seperti anjing, karena tak mengerti untuk apa menabuh genderang hari ini. Sementara aku lebih suka duduk ditangga tua candi ceto sambil menutup rapat hidung dan mulut, seperti pada profilku.
Sang Bayang
Rabu melalui seluler

Pada detik kisaran waktu sembilan dua puluh. Kuangkat bambu runcing yang tak pernah tau dari mana asalnya runcing. Padahal musuh dihadapanku telah bersenapan peluru tempoyak, siap mengoyak telinga dengan setetes rayuan kental yang tak diketahui asal buahnya.
Sang Bayang
Rabu melalui seluler

Kemana perginya hujan selama ini, hingga ia tak kunjung kembali.
Mengapa kiranya, cairan nikmat hidup ini mengucur lamban dari perut bumi.
Oh.., mungkin bumi terlalu banyak minum darah hingga ia menjadi anyang-anyangen.
Sang Bayang
17 jam yang lalu melalui seluler

Hari sudah mulai panas, maka izinkan aku untuk galau barang sebentar, sebab aku hanya ingin tempat yang tak ada lapar, haus, panas dan dingin. Yang ada hanyalah kedamaian tanpa keinginan, bebas berbuat, bebas menggunakan semua indera, bahkan bebas mengganti hati dengan hati binatang agar bisa lebih jujur selama menjadi manusia.
Sang Bayang
14 jam yang lalu melalui seluler

Okey.. coy..// Ku akui, kalau malam ini memang dingin.// Namun, dinginya tanah dimana darahku mengalir// tak sedingin isi kepalaku yang selalu ingin membalikan musim seperti// membalikan semangkok soto kwali dan menumpahkan kuahnya.// Kemudian–kubuka mulut lebar lebar untuk menelan seluruh isinya.
Sang Bayang

5 jam yang lalu melalui seluler

***
*Seperti halnya Rangkaian Setatus Facebook Yang Konyol terdahulu. Semua setatus ini bisa dilihat DISINI dan sebagian diantaranya telah diedit.

**Dengan setatus-setaus ini saya mencoba kumpulkan kepingan-kepingan kata agar tidak terlupa dan lewat begitu saja. Maka tak mengherankan bila sebagian besar diantara kata pada setatus ini telah terupdate dalam blog ini.

**Semua setatus ini adalah buah karya iseng sebagai pengganti jenuh diantara kesibukan sehari-hari. Dan dengan setatus ini pula saya mulai mengerti bahwa sebuah perenungan bisa lahir dimanapun. Entah di kantor, warung, perjalanan, bahkan di WC sekalipun.

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

38 responses to “Rangkaian Status Facebook Yang Konyol : Jejak Setatus Facebook Sang Bayang 2

  1. jarimanisindonesia

    17 Oktober 2012 at 21:42

    moce

     
  2. Mayya

    6 Oktober 2012 at 20:01

    Aku gak ngertiiiii T____T
    Otakku ternyata gak nyampe, mas! Huhuhuhu….

     
    • SanG BaYAnG

      7 Oktober 2012 at 03:29

      Astaga.., dari sekian banyak, masak ndak ada yang ngarti..🙄

       
  3. Ceritaeka

    6 Oktober 2012 at 19:16

    Wah, update banget ya FBnya🙂
    Aku malah pindah lapak ke twitter sekarang😀

     
    • SanG BaYAnG

      7 Oktober 2012 at 04:12

      Malah bagus itu Mbak. Saya jusutru jarang mbak..😀

       
  4. cumakatakata

    6 Oktober 2012 at 04:44

    hanya membaca sekilas lalu, tanpa bisa meraba-raba apa kiranya yg telah terjadi..

     
  5. Katrina

    6 Oktober 2012 at 01:08

    Sudah datang lagi ni..🙂 wahh sudah lewat jam 1 disini…

    mencuba…
    bacaan demi bacaan..
    mencuba lagi untuk mengerti..
    bait2 penuh kata misteri (buat saya yang kurang mengerti)

    namun yang pasti..
    semuanya terlihat luahan dari hati yang terinspirasi…
    dengan hal2 dunia sekeliling yang membebani perasaan dan hati…

    *mencuba belajar lagi… tersenyum sendiri😀

     
    • SanG BaYAnG

      6 Oktober 2012 at 02:36

      Semuanya tertulis sepontan Mbak. Kalaupun memang ada yang berat dan membebani hati dan perasaan. Mungkin karena ada sesuatu yang saya pikirkan dalam renunganya atas kejadian tersebut..😀

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: