RSS

Surga Di Tapal Batas Kota

06 Okt

Surga Di Tapal Batas Kota
Sajak : Sang Bayang

Diantara remang lampu temaram, jalanmu melenggang. setenang air dalam tampungan—menampung nama, ditapal batas kota.

Aku; menyapa—sebagai ujung tombak. melepas jalannmu dari barisan urat—nadi yang menggelincir singgah tak cuma melintas—lalu pergi.

Meninggalkan sepenggal kisah yang menggelinding, begitu saja—seperti butir butir kenangan yang bergulir, pada bola mata luarmu.

Datang, dan ingatlah. aku pasti menyambutmu—serupa peluk mesra seorang ibu. Sebab aku—adalah tempat tujuan, dimana perahu ragamu berlabuh.

Kemudian tertambat erat, didermaga kota, pelosok desa—sekedar memungut cuilan nikmatnya surga, yang tercecer diantara tamantaman, tempat wisata.

Ambarawa, Oktober 2012

 
39 Komentar

Ditulis oleh pada 6 Oktober 2012 in Cerpen, Prosa, Puisi, Puisi Cinta, Sajak, Selayang Pandang, Syair

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

39 responses to “Surga Di Tapal Batas Kota

  1. katrinaedwardsyusof

    7 Oktober 2012 at 14:21

    membaca komentar aja sudah bisa bikin saya senyum sendiri…hihihi

    ternyata beda orang yang membaca, beda huraian yang terlihat ya…
    tetapi…
    kalau saya yang kurang mengerti ni bagaimana nak huraikan ya?…apa minta penjelasan penulis lagi?

    *belajar tersenyum dalam kekurangan..🙂

     
    • SanG BaYAnG

      8 Oktober 2012 at 01:56

      Biasa lah Mbak.., di dalam koment isinya lebih sering bercanda.

      Untuk mengurai makna dan menemukan detilnya. bisa melalui media lain mbak. Dan bila ada yang berkenan untuk membangun komunikasi saya akan sangat senang sekali.🙂

       
  2. Senjakala Adirata

    6 Oktober 2012 at 20:32

    pilihan diksi yang ber-rima membuat puisi ini lebih ritmis dan sejuk di baca….

     
    • SanG BaYAnG

      7 Oktober 2012 at 03:53

      Ini sekedar coba-coba bikin puisi mas, siapa tahu kelak bisa membuatnya..:mrgreen:

       
  3. mintarsih28

    6 Oktober 2012 at 20:12

    aku liriknya kok kontradisi Sang, menyapa sebagai ujung tombak dan meyambut serupa peluk mesra ibu

     
    • SanG BaYAnG

      7 Oktober 2012 at 03:38

      Sepintas memang iya Bu. Namun bukan berarti tanpa alasan saya tuliskan demikian.

      Ketika menyapa, mengapa selaksa ujung tombak..???
      Karena disaat kita datang ditantang untuk melangkah lebih jauh dikedalamanya, sehingga tidak sekedar lewat begitu saja..:mrgreen:

       
  4. Ceritaeka

    6 Oktober 2012 at 19:19

    Jadi plesiran terus jadi cinta-cintaan gitu yah?😀

     
    • SanG BaYAnG

      7 Oktober 2012 at 04:10

      Hehehe.., iya Mbak Eka.., tapi ini cinta beneran mbak..:mrgreen:

       
  5. Ely Meyer

    6 Oktober 2012 at 12:31

    nyambut sopo kang?

     
    • SanG BaYAnG

      7 Oktober 2012 at 03:19

      Sumpah Pemuda..:mrgreen:

       
      • Ely Meyer

        7 Oktober 2012 at 03:21

        tak kiro si nyai

         
        • SanG BaYAnG

          7 Oktober 2012 at 03:23

          Nyai..???

           
          • Ely Meyer

            7 Oktober 2012 at 03:24

            contohne nyai loro kidul
            wanita gitu lho

             
            • SanG BaYAnG

              7 Oktober 2012 at 03:25

              Nyai itu kalau disini Mbah Putri Mbak. Sementara, mbah saya sudah pada meninggal..😦

               
              • Ely Meyer

                7 Oktober 2012 at 03:31

                wah berarti salah mengartikan aku ya

                 
                • SanG BaYAnG

                  7 Oktober 2012 at 03:36

                  Ya ndak juga Mbak. Sebab di beberapa daerah, bisa juga berarti istri atau pujaan hati (perempuan)..:mrgreen:

                  Lagian, kenapa mesti menyambut pujaan hati mbak. lawong dianya sudah ada ndak jauh dari tempat berada je..:mrgreen:

                   
  6. Sang Dewi

    6 Oktober 2012 at 11:38

    di batas kota..kunantikan acarmu mas bayang

     
    • SanG BaYAnG

      7 Oktober 2012 at 03:19

      Okey.., pasti lah aku datang. Dan itu hanya untukmu.
      Acarnya mau dipake keramas kan..???😛

       
      • Sang Dewi

        8 Oktober 2012 at 09:03

        pedes kaleeeeeeee mas😀

         
        • SanG BaYAnG

          8 Oktober 2012 at 09:43

          Loh.., kq tau pedes.
          Hmm.., dah penah nyuba yea..😛

           
  7. kangyaannn

    6 Oktober 2012 at 09:21

    merindukan siapa ne gan ?

     
    • SanG BaYAnG

      7 Oktober 2012 at 03:16

      Wah.., buanyak ini Kang.. hehehe..😀

       
  8. мυнαмαđ яoмđoиι

    6 Oktober 2012 at 04:57

    sajak rindu🙄

     
  9. cumakatakata

    6 Oktober 2012 at 04:39

    dibatas kota, aku kan kembali, meraih cuilan nikmatnya surga yang tercecer.

     
    • SanG BaYAnG

      6 Oktober 2012 at 04:42

      Oh.., cepatlah kembali, sebab ku selalu menentimu dengan segudang oleh-olehnya..😛

       
      • cumakatakata

        6 Oktober 2012 at 04:54

        kok akhire “oleh2” seh???

        gak romantis Blass..
        menatimu dengan harap cemas atau dengan penuh harap kan lebih enak.. kok malah oleh2…

         
        • SanG BaYAnG

          6 Oktober 2012 at 05:00

          Loh.., pie tah iki. jare nek gak matre dan galau ketinggalan jaman..

           
          • cumakatakata

            6 Oktober 2012 at 05:25

            sopo seng muni koyok ngunu iku Mas?

             
            • SanG BaYAnG

              6 Oktober 2012 at 05:27

              Emboh.., wingi kae nek ra salah. Keto’e bakul jamu sing biasane liwat ngarep omah..

               

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: