RSS

Masih Ada Cinta Di Hatiku

08 Okt

Masih Ada Cinta Di Hatiku
Cermin : Sang Bayang

Aku sudah terlalu tua untuk turun dijalanan. Tubuhku semakin lemah. Tulang dan lidahku kaku, bosan mencaci. Lambat laun, suaraku mulai serak. Tanganku tak lagi mampu lemparkan batu. Menggenggam bambu dan sebilah kayu. Menerjang pagar kawat berduri. Menjebol gerbang gerbang besi. Membongkar jajaran laskar berseragam hitam.

Aku, tak kuat lagi. Berlari. Menyeret spanduk, tunggang langgan dikejar peluru senapan. Dan akhirnya ambruk. Mengerang. Meraung. Seperti babi tertembak. Di injak-injak. Tanpa harga diri. Diseret. Ditendang seperti binatang.

***
Serupa hujan tadi sore, ingin kucurahkan mendung menggantung dimataku. Ketika hati nurani tak mampu berdiri sendiri, para orang tua mulai pikun. Bocah-bocah sariawan—menelan makna sebuah perjuangan. Pengorbanan tinggalkan kenangan yang dirayakan dengan pesta pesta. Tumpahan darah hanyalah kekacauan sejarah silam. Kelam dalam riwayat-riwayat—sekarat ditangan penguasa. Sebab sejarah adalah milik penguasa bersama citranya.

Sungguh malang ingatan-ingatan—sebatas tangan megenggam pedang. Serupa kawanan iblis berbaris disuguh asap kemenyan. Kemana arah mata memandang, menyantap rakus. Buas dan haus, laksana serdadu—Buyar dari tangsi tangsi, selepas tunaikan tugas mulia dari mata kepala yang menggelinding kebawah dada.

Mataku lelah menjadi saksi mengalirnya darah—beberapa tahun lalu. Bersama darah darah yang meresap kedalam retakan tanah—delapan windu—lamanya menjadi angker. Menorehkan sejarah panjang dalam catatan catatan yang mulai dilupakan.

Kini biar kutempuhi jalan diam dijeruji hati. Tak lagi ahli strategi atau—tukang teriak di garda depan demonstran. Biarlah aku menjadi petani—yang masih tetap mencintai negeri ini. Dengan sepenuh hati.

Ambarawa, Oktober 2012

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

12 responses to “Masih Ada Cinta Di Hatiku

  1. katrinaedwards

    15 Oktober 2012 at 12:41

    apapun messagenya…Na nikmati saja penulisan yang bagus ini..🙂

    selalu harus lebih belajar…

     
    • SanG BaYAnG

      16 Oktober 2012 at 02:01

      Amiin.., semoga selalu bisa dinikmati
      begitu juga saya (pribadi) yang masih belajar dan membutuhkan saran dari mbak Na dan teman-teman semua.

       
  2. kangyaannn

    9 Oktober 2012 at 15:29

    keren gan, jadi petani setiap pagi pergi ke sawah, hirup segar udara desa bebas polusi…
    moga saja tak habis lahan tergusur oleh ke angkuhan atas nama pembanunan…

     
    • SanG BaYAnG

      10 Oktober 2012 at 03:26

      Amiin.., semoga selalu ada jalan keluar dan kebijakan ya Kang..

       
      • kangyaannn

        10 Oktober 2012 at 11:09

        benar gan itu harus, jangan inimah lahan pertanian malah di serobot perusahaan hehehe

         
        • SanG BaYAnG

          11 Oktober 2012 at 04:01

          iyah Kang.., terlalu banyak kisah yang membuat sebagian raga tergusur dan tersudut tanpa harapan..😀

           
  3. Sang Dewi

    8 Oktober 2012 at 13:17

    kalo uda tua yo istirahat ae lah mas…
    jgn keluyuran di jalan, nanti nyasar ndak bisa pulang heheee

     
    • SanG BaYAnG

      9 Oktober 2012 at 04:37

      Wa.., lha au malah berharap nyasar dirumahmu e..😛

       
  4. pitaloka89

    8 Oktober 2012 at 12:43

    Kenapa ya puisinya Mas Bayangan ini selalu sulit mira mengerti..

    Mira yang ga nyampe nalarnya, atau mas bayang yang mengangkat temanya terlalu berat ya? hehe…

    #pertanyaangapenting

     
    • SanG BaYAnG

      9 Oktober 2012 at 04:53

      Lawong saya yang nulis aja juga ndak paham kq mbak..:mrgreen:

      Kita kembalikan pada prinsip dasar puisi yang merupakan pemadatan bahasa, dimana ada point (garis besar) tertentu didalamnya. mungkin kita bisa mulai membaca dari sana.
      Sementara bila soal membaca sebuah puisi, memang tidak semudah membaca koran atau novel pop. Seperti halnya bila kita membaca karya seni lain, entah seni pertunjukan-teatrikal, lukis atau yang lainya, tetntunya juga dibarengi dengan pengertian dasar kita pada apa yang kita baca.

      Dekian saja, semoga bisa membantu..
      Terimakasih atasa kunjunganya Mbak Pitaloka..😀

       
      • pitaloka89

        9 Oktober 2012 at 10:49

        Wah, penjelasannya mantap…
        Sepertinya saya yg memang kurang nyeni.hehe..
        bisanya nyengir😀 *ganyambung

        Terkadang mengerti, tapi kalau suruh menceritakan ulang maksudnya itu yang susah.hehe…

        Kecuali puisi buatan sendiri😀 (ngaku2 bisa bikin puisi, padahal cuma rangkaian kata2 galau)
        hehe….

        kembali kasih Mas Bayang🙂

         
        • SanG BaYAnG

          10 Oktober 2012 at 03:27

          Wa.., sama Mbak. Saya juga ndak bisa nyeni dan menjelaskan puisi..:mrgreen:

          Sama sama Mbak..🙂

           

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: