RSS

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

10 Okt

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran
Sudut Pandang : Sang Bayang

“Sejak permulaan peradaban, menjadi unggul adalah cita-cita bagi setiap masyarakatnya. Siapapun pasti tergoda menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Dan keinginan itu adalah mutlak.”

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita lihat kilas balik sejarah manusia yang indah dengan lekukan seginya. Berbagai pandangan diluncurkan, dicatat dan diceritakan sepanjang jaman. Ada yang mengatakan keturunan kera. Ada pula yang berpendapat bahwa manusia adalah keturunan dewa. Ketika kajian-kajian tentang manusia terus digali. Dari waktu ke waktu manusia tak henti melanglang buana. Turun-temurun berjuang melawan kodratnya. Bertarung dengan keadaan dan mencari pengakuan bahwa dialah yang paling. Bahkan hingga menghalalkan segala cara sekedar mewujudkan sebuah keinginan. Sementara pengertian manusia yang unggul bukan dalam arti gagah, tampan perkasa seperti jagoan-jagoan yang sering kita lihat di film televisi ataupun cerita komik silat. Sebab manusia yang unggul hanyalah manusia yang bermoral, berbudi pekerti utama serta mampu menjadi pelindung bagi sesamanya.

Diantara karut-marutnya keadaan sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan faktor lingkungan dimanapun kita berada, tak mengherankan bila melahirkan tekanan-tekanan yang mempengaruhi sikap emosional siapapun yang berada ditengah-tengahnya, tanpa terkecuali anak-anak dan para orang tua. Sehingga menimbulkan pertentangan-pertentangan yang berakibat pertikaian dalam sekala kecil ataupun besar berupa tawuran. Meski tidak semua orang lahir sebagai jagoan dan memiliki nyali untuk bertarung, namun kita tidak bisa berpaling dari kenyatan bahwa, ketika seseorang dalam keadaan tertekan, bisa saja dengan mudah terpancing oleh situasi dan melakukan sesuatu diluar kendali. Mudah mengikuti arus, karena terhipnotis oleh gerak naluri bertahan yang kadang bisa lebih buas dari seekor srigala dan menggila seperti banteng terluka. Celakanya, para pelaku tawuran tidak semuanya mengerti apa yang sesungguhnya telah ia bela hingga mempertaruhkan nyawa.

Menyikapi tawuran yang sedang marak terjadi akhir-akhir ini, memang tidak segampang menelan obat atau seperti menghalau kawanan bebek yang hanya cukup dengan mengacung-acungkan galah semata. Walau secara umum, dengan tidakan tegas dan keras seperti yang selama ini dilakukan aparat penegak hukum bisa dengan cepat menghentikan aksi tawuran. Namun itu hanya sementara, terbukti dengan masih banyaknya aksi tawuran yang dipandang sebagai hal wajar dikalangan pelajar dan umum. Ini memperkuat bukti bahwa tindakan tegas dan keras selama ini belum mampu memberi sebuah solusi, bahkan kalau boleh dibilang, malah bisa memperburuk keadaan dilain hari serupa bom waktu yang bisa meledak setiap saat, mengancam siapapun dan dimanapun. Karena dengan tindakan keras tersebut dampaknya bisa menimbulkan tekanan psikologis dan dendam-dendam baru yang berpengaruh pada perkembangan mental seseorang. Lantas pertanyaanya Bagaimana Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran ini..??? Akankah kita cukup prihatin dan berdiam diri begitu saja menyaksikan aksi-aksi yang merugiakan banyak pihak, baik yang terlibat secara langsung ataupun tidak langsung ini..???

Secara rasional seseorang bisa dipastikan akan menolak sebuah kerusakan yang dapat merugikan. Bahkan cenderung menghindari serta menanggulangi adanya kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan karena tawuran. Mengingat sebab tawuran yang tidak semuanya terjadi begitu saja atau dengan tanpa rencana, pencegahanpun juga tidak semudah hanya dengan sekali tindakan dan dalam waktu yang sangat singkat. Maka sudah selayaknya bagi kita untuk mulai mengambil tindakan sejak dini dan memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan pemicu terjadinya tawuran yang tentunya juga melibatkan kerjasama berbagai pihak untuk melakukan upaya pencegahanya. Karena ini adalah tanggung jawab kita bersama.

Sebagai acuan Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran, kita bisa mulai dari :

Pembentukan Karakter Dan Penanaman Budi Pekerti.

Kita kembalikan pada dasar cita-cita manusia yang unggul seperti disebutkan pada awal. Disini mulai kita tanamkan pengertian, tentang keunggulan dan pengakuan seperti apa sesungguhnya yang diharapkan oleh manusia agar mampu meraih sebuah keunggulan dengan cara yang benar serta tidak merugikan.

Kita tidak bisa memungkiri, sebagai apapun kita cenderung lebih ingin di akui. Dalam pengakuanya inilah, kita bisa memberikan landasan-landasan lebih bermoral dengan mangajukan sikap tenggang rasa yang lebih sopan dan santun sebagai tandingan sifat keras yang sok jagoan. Sehingga akan muncul pemahaman bahwa sebuah pengakuan itu timbul bukan lantaran ditakuti, karena pengakuan yang sesungguhnya akan lahir sendiri bersama hadirnya rasa segan dari orang disekelilingya.

Kita tanamkan kembali nilai-nilai budi pekerti ketimuran yang kita miliki menjadi pembentuk karakter yang bermartabat sebagai bangsa manusia yang bermoral. Karena budi pekerti yang luhur, sopan santun dalam tutur sapa dan bergaul adalah modal utama untuk mengendalikan tingkat emosinal antar individu.

Memberikan Ruang Ekspresi, Modal Keyakinan Dan Rasa Percaya.

Dalam banyak hal, manusia memiliki banyak perbedaan, baik kemauan ataupun kemampuan. Dan dibutuhkan banyak ruang penampung untuk mengekspresikan apa saja yang sesuai dengan keinginan mereka. Dengan memberikan wadah bagi mereka, diharapkan mampu memberi solusi agar minat mereka dapat tersalur secara positif dan tepat yang membuat mereka tidak lagi lontang-lantung dan berkeliaran. Bergerombol diwarung-warung, jalanan, tempat hiburan atau tempat-tempat mangkal lainya sekedar untuk mencari teman yang bisa mendengar mereka.

Para pelaku tawuran tidak membutuhkan hal yang muluk-muluk, mereka hanya butuh teman yang memiliki kesamaan dan kedekatan emosional. Dengan celah ini kita bisa mulai melakukan pendekatan, sebab dengan adanya kedekatan emosional, seseorang akan mudah menaruh simpati/rasa percaya. Pada saat kedekatan itu ada, kita bisa berbicara dari hati kehati tentang banyak hal, mulai dari definisi rasa cinta dalam pengertian yang seluas-luasnya. Memberi pengertian makna rasa setia kawan dan harga diri. Serta memberi landasan bagaimana semestinya membangun dan mewujudkan semua itu.

Dengan dua hal di atas secara tidak langsung akan menumbuhkan kepercayaan diri yang terkendali. Karena adanya wadah yang bisa menjadi media sebagai pembangun keyakinan berdasarkan tingkat disiplin dan kesadaran akan rasa tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Contoh Teladan Yang Melibatkan Peran Semua Lapisan Masyarakat, Guru Dan Penegak Hukum.

Tawuran bisa terjadi dimanapun dan kapanpun. Kita mulai dari lingkungan paling kecil untuk tetap mewaspadai segala kemungkinan yang bisa mengakibatkan tawuran. Ini bisa kita lihat dari banyaknya contoh yang menjadi pemicu terjadinya tawuran dilatar belakangi karena pertengkaran antar keluarga. Maka kita harus berperan untuk memberikan contoh baik bagaimana menyambung tali slaturakhmi sebaik mungkin, agar tidak terjadi kerenggangan ikatan emosiaonal, sehingga tidak mudah terpecah belah dan membeda-bedakan golongan.

Terlepas dari lingkup keluarga dan lingkungan sekitar, peran guru didikpun juga diharapkan mampu memberi citra positif pada anak didik dan para wali muridnya. Sebagai teladan yang baik tentunya tidak hanya dilakukan dilingkungan sekolah, sebab sekali seseorang menyandang predikat sebutan guru, maka dimanapun ia akan dipandang sebagai guru. Disini, peran seorang guru memang tidak mudah dan mungkin hanya ada satu di antara seratus yang bisa melakukanya. Namun dengan adanya kerjasama dan kesadaran dari para guru. Diharapkan mampu membangkitkan semangat guru untuk menjadi satu diantara seratus tersebut.

Melihat krisisnya kepercayaan masyarakat pada aparat penegak hukum pastinya ini juga tidak mudah. Namun, kita tak boleh pesimis, kita masih tetap mengharap agar para aparat penegak hukum mampu memberikan contoh tindakan positif dan memberi pembinaan pada para pelaku tawuran yang melakukan kekerasan dalam setiap aksinya. Karena mereka tidak butuh efek jera seperti pada masa kolonialisme yang segala sesuatunya diselesaikan dengan hukuman fisik. Yang dibutuhkan mereka bukan tindakan dengan kekerasan, namun pengertian. Pengertian dalam arti bisa memahami dan mengerti apa yang mereka kehendaki, kemudian memberi solusi. Dengan tindakan yang tepat dan pemberian contoh tindakan yang tepat pula, diharapkan mampu memberi motivasi bagi pelaku tawuran untuk mengambil tindakan dalam kehidupan sehari-harinya tanpa harus melakukan tidakan kekerasan.

Penutup.

Semua yang tersebut diatas hanyalah beberapa sudut padang yang lahir dari pertimbangan dan pencermatan. Dengan kesimpulan, untuk mencegah dan menanggulangi tawuran sebenarnya hanya butuh mencermati keadaan, menengok kembali kearifan-kearifan lokal, membuat solusi yang tidak berpihak dan berbelit-belit. Masyarakt kita adalah masyarakat yang terlanjur memiliki kebiasaan berpikir instan dan tidak mau dibikin repot, karena kebanyakan dari mereka sudah merasa kerepotan dengan hidupnya sendiri.

—–oOo—–

Sedikit Tambahan Sebagai Media Renungan.
Sebagian besar dari masyarakat kita meyakini, jika manusia memiliki ciri watak elemen alam semesta. Maka tak ada salahnya melirik sebentar pada batu dan air yang juga menjadi bagian dari semesta yang senantiasa kita butuhkan keberadaanya.

Bagi pengagum logika, batu hanyalah penyangga jalan dan bangunan. Bagi pecinta rasa, batu bisa bermakna batin. Batin yang tenang—setenang batu. Namun memiliki sifat keras—juga padat. Bila disatukan dengan keras—ia akan bertabrakan—dan saling menendang. Lain halnya dengan air. Ketika disatukan sekeras apapun—senantiasa ia akan tetap menyatu. Saling mengisi—dengan rapi dan selalu sejajar tanpa membedakan.

Manusia; juga serupa. Kebanyakan orang; akan saling mengungguli—saling berdebat dan berbantahan. Bahkan ada yang berkelahi ketika berkumpul. Semua karena kepalanya dibuat membatu. Sehingga kepintaran-kepintaran dan keangkuhan—mengalahkan akal sehat. Lain halnya dengan orang bijaksana. Tingkah lakunya bisa selentur air. Ketika berkumpul—pastilah ia menyatu dan berpelukan. Seperti air yang mampu menyatu—dibelahan samudera manapun.

Sekarang, kembali pada diri kita masing-masing. Apakah kita akan bertabrakan karena kepintaran dan keangkuhan atau menyatu karena kebijaksanaan..???

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

 
27 Komentar

Ditulis oleh pada 10 Oktober 2012 in Sudut Pandang

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

27 responses to “Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

  1. Newbie Tora

    12 Oktober 2012 at 08:52

    Tawuran oh tawuran😀 Nice kontes bro :

     
  2. Ikakoentjoro

    11 Oktober 2012 at 12:37

    Oalah, buat ikutan kontes tow. Makane bahasa ne resmi puooollll

     
    • SanG BaYAnG

      13 Oktober 2012 at 02:10

      Hehehe.., sekedar turut berpartisipasi kq mbak..😀

       
      • Ikakoentjoro

        13 Oktober 2012 at 02:20

        Tapi bagus banget kok. Mudah2an aja dapet juara🙂

         
        • SanG BaYAnG

          13 Oktober 2012 at 02:28

          Amiin..m mudah-mudahan saja mbak.

          Sebenarnya target utamanya saya bukan pada juara atau tidak, namun hanya dengan inilah bentuk keprihatinan bisa saya ungkapkan ketika melihat tawuran yang sering terjadi di negeri; ini.😀

          Sekali lagi, terimakasih Mbak.

           
  3. мυнαмαđ яoмđoиι

    11 Oktober 2012 at 02:28

    #Info : Tulisan ini ke 10, searching pada Google😀

     
    • SanG BaYAnG

      11 Oktober 2012 at 04:25

      Terimakasih atas infonya mas.

      Tapi kita juga harus ingat, tujuan diadakanya kontes ini bukan antas dasar SEO. Kalau banyak orang memandang kontes ini dari sudut SEO, silahkan. Nanti tak coba menghilang saja dari halaman pertama.:mrgreen:

       
  4. cumakatakata

    10 Oktober 2012 at 16:43

    semoga dengan digelarnya Kontes ini bisa menyurutkan kasus2 tawuran yo Mas…

    Sukses yo Mas…

    NGAWE GAK NGOMONG2!!!!!!!!!!!!!

     
    • SanG BaYAnG

      11 Oktober 2012 at 04:17

      Amiin.. itulah tujuan utama kita ketika turut berpartisipasi mas.
      Injih Mas.. sami sami..

      Wa.., iku tah wingi bengi, timbang ndak ada sing di ketik..😀

       
      • cumakatakata

        14 Oktober 2012 at 01:12

        ngomong ae ate nilap, eh pean ngerti nilap/tilap kan Mas?

         
        • SanG BaYAnG

          14 Oktober 2012 at 06:07

          Gak.., gak nilap. Iku mung ngleno #ngindik ko mburi..:mrgreen:

           
      • cumakatakata

        18 Oktober 2012 at 21:41

        i you wish lah…

         
  5. Iwan Yuliyanto

    10 Oktober 2012 at 13:16

    Nice to read🙂
    Di forward ke Pak Nuh, mas.

     
    • SanG BaYAnG

      11 Oktober 2012 at 04:12

      Pak Nuh siapa Mas..🙄

       
      • Iwan Yuliyanto

        11 Oktober 2012 at 05:25

        Ya khan beliau Menteri Pendidikan Kabinet Reformasi II, mas.

         
        • SanG BaYAnG

          11 Oktober 2012 at 05:29

          Oh..beliau, tak kira teman blogger siapa.
          Hanya asa terucap semoga ini tercatat dalam tiap ingatan manusia yang sempat membaca, tak lain dan tak lebih mas.

          Terimakasih infonya mas..😀

           
  6. kangyaannn

    10 Oktober 2012 at 12:20

    semoga menang kontesnya gan…

     
  7. Ely Meyer

    10 Oktober 2012 at 11:17

    semoga menang kontesnya ya kang

     
  8. yisha

    10 Oktober 2012 at 09:31

    khas sang bayang, kaka sang bayang……… 😆
    *yisha ngga mungkin bisa paham

     
  9. Shohibul Kontes Unggulan Indonesia Bersatu

    10 Oktober 2012 at 06:12

    Terima kasih atas partisipasi sahabat.
    Salam hangat dari Surabaya

     
    • SanG BaYAnG

      10 Oktober 2012 at 06:15

      Terimaksih juga, karena telah mengadakan kontes dengan tema yang sangat bagus ini.
      Terimaksih karena “Sang Bayang” di izinkan turut berpartisipasi.

      Salam hangat pula dari Ambarawa Pakdhe..🙂

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: