RSS

Sarung Belati Terakhir

13 Okt

Sarung Belati Terakhir
Oleh : Sang Bayang

Tatapan manik matamu serupa embun bermahkota gundah. Mengalir basah bertanam duri gemakan tangismu memecah sunyi. Menguak rindu yang tak lagi bersuara, mengembara kuasai ruang keabadian luka. Di antara kepekaan rasa dua anak manusia. Angin membawa kita pada sebuah kisah yang tertulis dalam lirik prosa dan berhenti pada awal baitnya. Putus di tengah baris pertama. Menjelma jadi gerbang pembatas yang membuat kita tersungkur dalam dekapan senda di recah duka, hingga tak sanggup lagi melewati sambungan kisah selanjutnya.

Gerimis malam itu menyimpan dingin yang terselip diantara rindu. Timbul tenggelam dikesunyian hati yang patah menolak lantang penderitaan. Membumbung beku di langit bentangan musim, tanpa lembaran sajak berima setia menyandera jiwa kita berdua. Hanya bayangan takdir tak terlawan menjadi lingkaran cincin perjalanan yang menari dengan belati. Menyeret kita pada selarik goresan resah diputaran waktu, biaskan pijar kenangan dikebisuan cermin buram. Bertabur nganga luka diakhir kisah, sisakan tetes tetes air mata yang mengalun indah kala dipuisikan.

Di bait ketiga kita berlari dari tikaman tirani yang telak menghujam nurani. Menghibur diri dengan sejumput senyum mengusir takut, diantara dua garis berbeda yang tiap jengkalnya harus kita langkahi. Agar kita bisa saling mengerti, makna perpisahan yang selalu tinggalkan jejak dalam setiap pengembaraanya. Sebab cinta yang pernah bersemi, kau yakini sebagai bagian dari perjalanan kisah yang tertunda. Dan harus di selesaikan, hingga berhenti pada satu titik penyatuan saling menyempurnakan.

Namun.., pada pertemuan kali ini. Kita berbincang tentang rembulan yang kehilangan warna. Ketika denyut nadi tak lagi seirama walau kita cumbui dengan mesra. Pertemuan tak lagi menjadi embun yang mampu sembuhkan luka. Kehadiranku tak membawa keutuhan hati yang kau rengkuh dengan sepuluh jari. Kedatanganku kali ini, sekedar memenggal kisah dan mengakhiri penderitaan penderitaan yang selama ini menyiksa jantung kita dengan segala penderitaanya. Sebab pecahan hati yang telah terpisah tak mungkin lagi disatukan dalam sebuah ikatan. Sebagai penutup diakhir kisah ku sarungkan belati untuk terakhir kali dan dengan berat hati kukatakan “Ma’afkan aku yang telah mengecewakanmu”.

Ambarawa, Oktober 2012

CARA MENCEGAH DAN MENANGGULANGI TAWURAN

 
36 Komentar

Ditulis oleh pada 13 Oktober 2012 in Puisi Cinta

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

36 responses to “Sarung Belati Terakhir

  1. katrinaedwards

    14 Oktober 2012 at 23:45

    aku pernah merasa terkecewa…

    namun…akhh bangkit lagi..dunia belum berakhir…🙂

     
    • SanG BaYAnG

      15 Oktober 2012 at 02:03

      Uyee.., so pasti selama layar masih digelar pertunjukan akan tetap kita nikmati dengan lekukan seginya.
      Terimakasih atas penyemangatnya Mbak..😀

       
  2. aqomadin

    14 Oktober 2012 at 21:41

    mancappp….. memori yang masih kencang dalam pikiran

     
    • SanG BaYAnG

      15 Oktober 2012 at 01:59

      Begitulah Gan.., sekedar modal ingatan yang masih tersisa diantara derap langkah yang berbaur..😀

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: