RSS

Ziarah Cinta Di Batas Penantian

15 Okt

Ziarah Cinta Di Batas Penantian
Lirik Prosa Puisi : Sang Bayang

β€œKu mohon.., jangan tinggalkan aku..” ucapan terakhir dari bibirmu yang menelan getir. Mengiring derap langkahku keluar dari gang buntu dengan isak tangis runtuhan mendung dimatamu. Menguapkan seteguk anggur pahit dalam pahatan nisan kepedihan. Berjatuhan dalam sajak-sajak tak enak. Tertulis dalam sepenggal barisan acak. Membakar kepala para perumus tulisan yang terbahak, hingga kerongkonganya tersedak koma dan tanda baca, pada puisi yang belum sempurna. Serupa kata tanya yang senantiasa kau gemakan, ketika menyesali perpisahan yang tak bisa kau terima dengan lapang dada.

Barangkali kau pernah bermimpi memeluk bintang. Sementara aku hanyalah saturnus yang berputar dalam lingkaran belenggu batas pengorbanan yang kau keruk. Kian waktu membuatku makin bodoh. Terjerembab dalam pusaran badai pikiran berlapis. Hanya bisa bersinar. Tak mampu membebaskan diri, keluar dari lingkaran, jeruji ambisi mu yang mengurung gerak langkahku menjamah lapisan bumi. Tiap desah nafasku terhalang lamunan mewujudkan mimpimu. Sementara mimpiku tercampak, berserakan serupa rongsokan yang tercecer tak karuan. Teronggok menjadi kepingan kepingan logam kian berkarat nan rapuh. Mengelupas perlahan dalam belaian rasa kasih sayang bertuan.

Seperti yang pernah ku tegaskan. Dan kuharap. Kau mengerti. Jika aku tak bisa lagi memunguti cuplikan mimpi-mimpi. Kemudian menjadikanya sebagai duplikat anugerah nikmat yang selalu ingin kau miliki dan merengkuhnya dengan sepuluh jari.

Kejam…, mungkin itulah kata yang akan kau teriakan ketika hati tersakiti oleh rajaman kesaktian anak panah Amor. Pedihmu seperti cinta yang menghujam jadi dendam. Tak mampu mendampingi cinta dalam keabadian. Sebab sulit bagimu bisa mengerti, arti sebuah ketulusan cinta yang tidak membutuhkan banyak alasan, ketika mencapai keabadianya. Kau terpuruk kehilangan tulang rusuk yang sempat kau peluk. Menyimpan tangis dalam selokan rasa, mengecap takdir pertemuan yang tak bisa disatukan dengan sebuah ikatan.

Hari. Bulan. Tahun. Kau lalui dalam sekap derita berkepanjangan. Mendendang bersama genderang waktu. Berputar seperti jarum jam. Berputar dan kembali pada angka yang sama. Diam menekan puncak rasamu. Menyentuh selaput ujung matamu yang samar, melihat bayangan liarku berkelebat dalam gelap. Menghilang. Pergi. Kemudian kembali lagi. Sesuka hati. Sepanjang ingatan timbul tenggelam. Kau harap hadir bersama mimpi yang kau nanti. Untuk kau cumbui. Berbalas pagutan. Saling bersahutan. Sekencang mulut dan selembut rambut dalam belaian lentik manja jemarimu.

Namun sia bagimu, berdiam dikesunyian malam. Bintang yang kau harap telah menyala ditempat lain. Berdampingan dengan rengkuhan bahagia. Membawa masa lalu sebagai pengalamanpahit yang harus ditinggalkan, untuk mengarungi indahnya hari selanjutnya. Tak pernah berhenti berputar. Membelah waktu dan membalikan musim. Mengganti lembaran demi lembaran baru yang saling berkesinambungan. Menghapus namamu yang menanti dalam sepi. Terusir dari persemayaman jiwa.

Walau lima tahun bukan waktu singkat bagimu yang menanti dan bertahan dengan segumpal kesetiaan. Berdiri dibalik pintu. Mengharap sepotong bulan datang. Mengantar bejana cinta. Dimana kau bisa sematkan kembali ragamu, serupa kembalinya tulang rusuk yang sempat menghilang kembali ke panggkuan. Kemudian memeluk dan mendiaminya. Hingga kematian memisahkanya menjadi tanah yang basah oleh air mata.

Waktu berlalu dengan sendu menepuk dadamu. Terkunci rapat dalam penggalan kisah, di atas lembar-lembar catatan harian. Tentang apa yang kau rasakan. Tentang pedihnya sebuah pengorbanan. Serta penderitaan yang tak kunjung berbalas nikmat, kau wariskan dalam goresan-goresan. Bertabur air mata. Menyesakan dada ketika kubaca. Membuatku kembali, terpancang pada lingkaran cakram usang. Runtuh dalam keabadian cinta yang kau buktikan dan mempertahankanya hingga ujung usia. Mengundang sesalku datang menghujam bersama air mata. Yang terlambat kau sambut dengan pelukan mesra. Setelah jarak memisahkan nyawa dan raga, dengan sepenggal hati yang terluka.

Pada ziarah kali ini. Aku datang menemuimu tanpa peluk dan cium. Hampa mengabarkan asa yang tertunda. Bahkan tak kunjung kau temui. Membawa sepucuk surat ditangan. Kubaca dengan air mata, berderai disamping batu nisan. Bertulis namamu yang telah bersemayam dalam keabadian. Untukmu kubaca. Hanya untukmu. Kupersembahkan kata pada ziarah cinta di batas penantian. Untukmu yang tersakiti. Seiring mengalirnya syair syair doa. Mengantarmu di keabadian yang sesungguhnya. Walau kita tak bisa bersama. Semoga kebahagiaan selalu bersamamu. Semoga tak ada lagi sesal diantara kita. Sebab kematian adalah awal dari kehidupan yang sebenar-benarnya hidup.

Ambarawa, Oktober 2012

 
18 Komentar

Ditulis oleh pada 15 Oktober 2012 in Cerpen, Prosa, Puisi, Puisi Cinta, Religi, Sajak, Syair

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

18 responses to “Ziarah Cinta Di Batas Penantian

  1. mew da vinci

    15 Oktober 2012 at 23:06

    Lirik Prosa Puisi Dari Dunia Lain

    Haruskah kau menangis tatkala mengingatku? Jika aku memang pernah mengusap asa lara menjadi bahagia. Sebaiknya kau kirimi aku doa dan lantunan kasidah dari jantung yang debarannya selalu mengingat Sang Maha Kuasa. Pusara yang kau datangi adalah rupa paling sejati nan hakiki dari kekayaan manusia, dimana semua ruh akan bahagia ketika jasadnya menyatu dengan tanah. Jika engkau ada waktu tersisa, sapalah aku dengan salam dan doa.

     
    • SanG BaYAnG

      16 Oktober 2012 at 02:04

      Ketika alam memeluk kehidupan, kusapa kau dalam doa—bukan pada rupa dan pusara, sebab keabadian bukan pada jasad berkalang tanah. Walau yang lahir pasti mati, yang datang akan pergi, ada yang datang tidak pergi dalam diriku ini. Dia bernama cinta—dengan itu aku memelukmu;

       
  2. Sang Dewi

    15 Oktober 2012 at 16:44

    bintang, saturnus, uranus, neptunus…

    yuk keliling angkasa πŸ˜€

     
    • SanG BaYAnG

      16 Oktober 2012 at 02:03

      Ah.., selain saturnus kurang asik. Ndak punya cincin..πŸ˜›

       
  3. Ely Meyer

    15 Oktober 2012 at 13:33

    ngenes

     
    • SanG BaYAnG

      16 Oktober 2012 at 02:02

      Ha.., “NGENES”.
      Semoga saja bisa dibaca dari belakang jadi “SENENG”πŸ˜›

       
  4. kangyaannn

    15 Oktober 2012 at 12:39

    baca tulisan ini jadi inget sama sama orang orang terkasih yg telah mendahului kembali kepadaNya….

     
    • SanG BaYAnG

      16 Oktober 2012 at 01:57

      Hmm.., semoga saja semoga saja mereka akan selalu mendapat limpahan rakhmat dan senantiasa ada dibawah panji Alkham ya Kang.

       
  5. katrinaedwards

    15 Oktober 2012 at 12:21

    hmmm..kisah sedih menyentuh hati…

    lepas ni tulis novel pula ya..πŸ™‚ biar Na yang pesan dulu..dengan signaturenya yang khusus..πŸ™‚

     
    • SanG BaYAnG

      16 Oktober 2012 at 01:56

      Terimakasih Mbak Na.

      Waduh.., lum pernah coba nulis yang panjang-panjang Mbak. biasane cuma sebait dua bait saja dah kehabisan nafas kq..

       
  6. cumakatakata

    15 Oktober 2012 at 11:41

    Sebab kematian adalah awal dari kehidupan yang sebenar-benarnya hidup.
    ________________________________________________________________

    mantab Mas… keren lah….

    tapi yo ngunu duwowo.. lanjutkan Mas, buat yang lebih panjang lagi… OK

     
    • SanG BaYAnG

      16 Oktober 2012 at 01:55

      Mantebs tapi au ndak ngarti maksudte je..:mrgreen:

      Okey..oke.., 365 halaman kan..???

       
  7. yisha

    15 Oktober 2012 at 09:43

    kaka, maksud kalimat akhir apa? kematian yang gimana….?????? πŸ˜•

     
    • SanG BaYAnG

      16 Oktober 2012 at 01:46

      Rumit dan panjang untuk dijelaskan..πŸ˜€

       
  8. padamara88

    15 Oktober 2012 at 07:42

    Jangan jemu belajar dari pengalaman, dan tetaplah bersinar …πŸ™‚

     
    • SanG BaYAnG

      16 Oktober 2012 at 01:35

      Iya Pak.., Terimakasih atas petuah-petuahnya..πŸ˜€

       
  9. Ikakoentjoro

    15 Oktober 2012 at 03:51

    Ngomongin gang buntu jadi inget novelnya Iwan setyawan “Ibuk,”. Apa terinspirasi dari sana?

     
    • SanG BaYAnG

      15 Oktober 2012 at 03:55

      Saya malah belum pernah baca novel itu Mbak. Dan baru kali ini mendengarnya.

      Inspirasinya dari belakang besar di Kota Madiun, disana ada sebuah gang yang tidak sesuai namanya. (namanya gang buntu, tapi tidak buntu)πŸ˜€

      Dan kebetulan kisah ini adalah kisah terakhir dari beberapa rangkaian kisah sebelumnya..:mrgreen:

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: