RSS

Menerobos Barisan Dosen

29 Okt

Menerobos Barisan Dosen
Cerpen Pendidikan Dan Sastra : Sang Bayang

Pagi dilereng lawu ditebari dingin dalam basuhan selimut kabut. Menusuk tulang. Bekukan nadi merambah alirkan darah. Sedangkan otaku masih mengalami kekrisisan untuk berpikir tentang keindahan bukit yang menjulang diantara jajaran gunung Warak dan Liliran, sebab pikiranku masih terpancang pada sebuah materi seminar dengan tema menariknya. Siapapun pasti tergoda. Siapapun pasti ingin mengikuti seminar bertaraf internasional yang akan menghadirkan nara sumber beberapa sastrawan dan dosen dari fakultas ternama itu.

Seminar dengan tema sastra ini sangat menarik bagiku. Karena kehadiran karya sastra merupakan simbolisasi dari pemikiran spekulatif pengalaman manusia atas diri, bangsa dan dunianya.

Dengan segumpal tekad akhirnya aku berangkat. Menyusuri area persawahan. Menyusup diantara sekumpulan pohon yang daunya masih terlihat basah oleh bintik-bintik embun dan sesekali menetesi tangan seolah tembus ketulang.

Sepeda motor biru tak henti kupacu dijalanan aspal. Melaju dengan semangat bisa mendahului para panitia tiba dilokasi tempat diadakanya seminar. Karena aku sadar. Biaya untuk mengikuti seminar itu terlalu mahal untuk ukuran kantongku yang sedang melanjutkan kuliah hanya dengan bermodalkan bea sisiwa dari sebuah departemen pendidikan dan beberapa program yang sengaja ku ikuti agar bisa meringankan biaya selama menuntut ilmu yang bagiku bukan sekedar untuk mendapatkan selembar kertas atau sematan gelar didepan nama. Karena tekadku melanjutkan kuliah hanyalah ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan mengamalkanya kepada sesama, terutama kepada kaum miskin sepertiku.

Setibanya dilokasi rasa kecewa itu begitu mendalam. Ternyata seminar telah dimulai dan disana telah banyak para dosen, mahasiswa serta perserta seminar lain yang lengkap dengan berbagai atribut kampus kebanggaan mereka. Karena ketidak mampuanku untuk membayar biaya pendaftaran, aku datang bukan sebagi mahasiswa. Aku datang hanya sebagai kuli yang ingin belajar dan siap memetik biji selama seminar berlangsung. Sedang kekecewaan ini, hanya bisa bisa membuatku meringkuk didepan sebuah warung makan depan gedung sambil berpikir, usaha apalagi yang harus kulakukan agar bisa masuk keruangan itu.

Hanya segelas es-teh, itulah yang saya pesan. Dan ketika menikmatinya, kepalaku terus terngiang pada apa kira-kira yang akan dituturkan oleh para pembicara dalam seminar. Pikiranku bertanya-tanya. Bagaimana karya sastra yang berupa bahasa para sastrawan itu, berusaha merefleksikan pikiran dan berabstraksi terhadap realitas manusia-bangsa dengan segenap permasalahannya. Bagaimana proses refleksi diri bisa menghasilkan sebuah kerangka pemikiran filosofis untuk mengungkapkan fakta atau realitas hidup secara lebih komprehensif dan utuh.

Mungkinkah sastra mampu berbicara dan mampu berperan dalam upaya pencarian diri dan penyosokan identitas manusia dan identitas bangsa, sekaligus berperanan sebagai sebuah wahana intropeksi dan motivasi diri. Lantas dalam kerangka refleksi diri seperti apakah seharusnya para sastrawan melakukan otokritik terhadap identis dirinya, identitas bangsa dan identititas budaya.

Sejuta pikiran itu melayang-layang. Cemas dan penuh tanda tanya. Seperti apa kiranya sosok seorang Maman S Mahayana dari UI itu bila sedang bertutur. Dan wajah-wajah lain seperti Prof. Koh Young Hun dari Hankuk University. Emilia Maglione dari Italia-Staf Ahli Kedubes Italia dan Dosen Tamu FIB UI. Serta Datok Kemala dari Universitas Selangor Malaysia itu, begitu membayangi seluruh jiwaku yang duduk terpuruk didepan warung makan. Petuah apakah yang akan diberikan disini, hingga Beliau-Beliau ini sudi datang ke kota kecil yang kudiami.

Akhirnya kuberanikan diri untuk masuk keruangan itu walau dengan perasaan was-was. Jantungku berdebar kala jalan mendap-endap coba masuki ruangan. Namun malang. Pundaku tiba-tiba dicengkeram dengan keras oleh seseorang yang setelah kulihat ternyata tangan petugas satpam. Tatapan matanya tajam. Wajahnya tampak merah seperti habis terbakar. Aku diam. Jantungku semakin kencang berdegup. Dan hanya pasrah menerima apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Siapa kamu?” bentaknya dengan nada menghardik.

“Kedatangan saya tidak bermaksud buruk Pak” spontan jawabku yang kaget dan setengah tergagap.

“Kamu siapa?” tanyanya sekali lagi dengan keras, seolah tidak puas dengan jawaban yang kuberikan. Hardikanya begitu keras hingga membuat para peserta seminar lain menoleh. Mengarahkan pandanganya padaku yang berwajah pucat ketakutan bercampur malu.

Tak lama berselang beberapa dosen datang untuk memastikan, apa sebenarnya yang tengah terjadi. Sebagian diantara mereka saling berbicara dan akhirnya aku dibawa ketempat panitia. Ditempat itulah aku didudukan dan disidang sebagai terdakwa layaknya seorang maling. Harga diriku hilang. Didera pertanyaan dari sekian banyak mulut dari berbagai kepala. Sedang aku harus menjawab sendiri, hanya dengan kemampuan pikir seorang kuli.

Salah seorang dosen bertanya “Untuk apa kau mau masuk kedalam ruangan?”.

“Saya hanya ingin duduk didalam bersama mereka” jawabku.

“Bukankah kamu tahu. Didalam sedang diadakan seminar?”

“Karena itulah, saya hanya ingin masuk dan mendengarkan”

“Bukankah kamu tahu bagaiman aturanya untuk bisa duduk seperti mereka?” sela seorang yang ternyata setelah kutahu adalah dosen bahasa itu, dengan sopan bertutur.

“Iya.., saya tahu”.

“Lantas kenapa kamu masuk begitu saja?” sahut dosen lain menghardik.

“Karena saya tidak punya uang untuk membayar”.

“Semua orang pasti bisa mengatakan alasan seperti itu dengan mudah. Apakah kamu memang sengaja datang kemari dengan niat lain. Atau.. barangkali, kamu kemari mau mencuri” pernyataan dosen satu ini begitu sisnis dengan nadanya yang nyelekit. Andai tidak sedang dalam posisi bersalah pastilah kutonjok itu mulut dan pikiran kotornya.

“Pikiran saya, tak seburuk isi kepala anda Pak. Dan itu harus anda ingat selamnya” agak kuperkeras suaraku, agar mereka tidak asal bicara ketika berhadapan dengan orang lain, meski seburuk apapun kelakuan lawan bicaranya. Terus terang aku marah dan bosan didera pertanyaan-pertanyaan tidak bermutu, lebih berkesan mendiskriminasi penampilan dengan pikiran-pikiran kotor para dosen yang seharusnya tidak berpikiran dekil, yang mungkin sama dekilnya dengan tubuh kampunganku. (Bersambung)

***Maaf.., pagi ini saya begitu lelah. Jari-jari tanganku serasa tak sanggup lagi untuk mengetik.
Entah kapan lanjutan kisah ini tersambung, atau hanya akan berhenti sampai disini, sayapun juga tidak bisa berjanji… Goodbye all my friends..

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada 29 Oktober 2012 in Cerpen

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

10 responses to “Menerobos Barisan Dosen

  1. violetcactus

    10 November 2012 at 06:35

    andai seminar2 seperti ini ditayangkan langsung di tivi atau di radio… pahala bagi2 ilmunya akan semakin besar =)

    semoga bisa dilanjutkan ceritanya Mas..

     
    • SanG BaYAnG

      11 November 2012 at 01:53

      Sebagian kan sudah. Kadang juga live streming jua loh Mbak..

      Terimakasih Mbak..

       
  2. DM Asmed

    29 Oktober 2012 at 23:27

    Hmmm, plot tradisional yang menawan. Tidak Mas Bro bayang lajutkan pun sudah cukup dikatakan sebagai Cerpen kok…… dan saya sebagai pembacanya merasa terhibur🙂 bagi saya Tema, setting, konfliknya jelas, dan unsur plotnya pun lengkap,
    Yang jadi pertanyaan saya *boleh dong nanya…..🙂 *Protagonis di cerita ini apakah ada “model” nya ya mas brow?🙂 klo ada boleh dong kasi tau siapa😀 sebab saya yakin sudut pandang “Meng–Aku” di cerpen ini bukan berarti ini pengalaman pribadi mas brow.😀

    Salam kagum dan Istimewa

    NB: “Goodbye all my friends” itu maksudnya nggak ngeblog lagi kah?

     
    • SanG BaYAnG

      30 Oktober 2012 at 03:15

      Ini hanyalah rekayasa saja mas.., jadi tidak ada modelnya.
      Terimakasih karena telah menyukai.

      Salam Istimewa pula untuk Mas..

       
  3. aqomadin

    29 Oktober 2012 at 14:21

    mancappp….. berani juga ya abang bicara keras sama dosen….. ga takut nilainya nti di korting hehe?

     
    • SanG BaYAnG

      30 Oktober 2012 at 03:05

      Lho.., saya kan kuli mas. Jadi ndak punya dosen..🙂

       
  4. kangyaannn

    29 Oktober 2012 at 12:11

    pengorbanan dan perjuangan yang tidak ringan demi sebuah cita cita yang mulia…
    saya hanya bisa bantu doa gan Bay, semoga cita citanya terwujud…
    tetap semangat dan di tunggu juga kelanjutan dari post ini….

     
    • SanG BaYAnG

      30 Oktober 2012 at 03:04

      Hehehe.., iya Kang.. Terimakasih atas doa-doanya Kang Yaan
      Semoga saja tangan saya masih kuat untuk mengetik lagi Kang

       
  5. denganpuisi

    29 Oktober 2012 at 08:01

    kuliah di fakultas sastra universitas terbuka….hmmhmmmh…aku dapatkan banyak hal pembagian waktu flesksibel dan ilmu yang kudamba,…….

     
    • SanG BaYAnG

      30 Oktober 2012 at 03:00

      Oh..ya.., demikiankah..??? maka beruntunglah anda..🙂

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: