RSS

Tangis Rembulan Di Garis Malam

29 Okt

Tangis Rembulan Di Garis Malam
Kesaksian Hati Yang Terluka : Sang Bayang

Dingin tak kalah merajai malam. Bulan—tak sempurna menendang rasa. Tersungkur dikesunyian. Mengambang permainkan cinta. Dicakrawala. Bercadar indah—kata nan dusta. Nyaring memanggil. Bergelak tawa. Saling menyahut. Berlarian digaris malam yang tiba tiba menjelma jadi tangisan.

Berpuaslah engkau yang melihat aksara aksara mulai lemah. Bergelimang air mata. Meringkuk sepi. Terpuruk. Disudut ruang kian lapuk. Meratap hampa menatap duka. Pada sebait asa—terlunta dipeluk nestapa.

Sedang—kulihat dewasamu, begitu melenggang tenang. Melaju dipucuk rayu riang di senyuman. Berlalu setelah nyalakan api. Tak benar singgah. Tak pernah datang. Dengan niat padamkan tubuhku—yang telah terbakar.

Bila sudah demikian, teriak dan tangispun pastilah tak guna.

Oh.. sedihku.. sedih yang ingin bertanya. Kemana percik nurani tetesan jiwamu nan sejuk. Penghias hari—waktu kurindukan rembulan digaris malam.

Namun.., percuma. Sebab adamu hayalah semu dibalik seribu wajah penabur rindu. Tak mungkin. Tak mungkin bisa kucumbui dengan mesra—laksana bulan bersandingan bintang. Saling mengisi. Tersenyum dan menari. Sambil merenda keindahan malam nan utuh.

Lantas. Apalah arti—mawar mekar kau payung emas. Bila terbiar pudar tak seindah—kilau purnama. Dibalik sukamu menari—diatas luka berburu pelangi. Seolah temalimu menjerat sukma sukma meradang bimbang. Satu persatu. Tumbang. Dan entah berapa lagi jasad akan sekarat. Terluka oleh kebaikan indah senyuman. Terluka oleh kesalah pahaman—yang dalam diamnya mengaku paham dan mengerti. Oh..

Aku pun terlena. Kehilangan nyali, parang dan belati. Ragaku tak terlindung. Tanpa senjata. Penuh luka dimedan laga. Terajam tanpa ampunan. Kalah dalam sebuah pertarungan. Dan kau telah menang. Kau adalah pemenang. Engkaulah pemenang.

Berbahagialah. Bersyukurlah. Karena kau ditakdirkan menang—bersenjata senyuman. Maka, biarkanlah aku. Kembali mengarungi malam. Dengan sisa sisa tenaga dan dada yang tercabik penuh luka menganga. Walau sakit—biarlah kujinjing seperuh hati yang telah terkoyak.

Dalam gelap dan diamku mengubur pedih. Aku yakin.. Pasti kau mengerti. Pastilah kau jua pahami—gigilku yang tak daya melawan—lembut sentilan bibirmu. Kala meliuk manja mencengkeram jantung. Sesakan dada helakan nafas.

Kini. Haruskah kukatakan dengan sedih bahwa kau kejam. Agar kau mengerti. Seberapa pedih dan menderitanya aku yang terkuak dalam tangis. Kemudian kau menangis. Seperti tangisku kala menulis—tentang sepotong hati yang telah teriris. Dan diantara isaknya aku hanya bisa bertutur “Menangislah—jika kau ingin menangis. Sebab saat ini. Akupun—menangis”.

***Semoga tidak ada dendam dan kebencian diantara cinta walau berpesta air mata***
Jambu-Semarang, Oktober 2012

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 29 Oktober 2012 in Cerpen, Karya Seni

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

6 responses to “Tangis Rembulan Di Garis Malam

  1. kangyaannn

    29 Oktober 2012 at 11:31

    sedih, menangislah.. jangan pernah ragu untuk menangis..

    wah semakin penasaran siapa gerangan dia yg tlah membuat gan Bay begitu sedih ?

     
    • SanG BaYAnG

      30 Oktober 2012 at 03:02

      Hehehe..
      Wah.., ini sekedar imajinasi saja kq Kang..:mrgreen:

       
  2. Ely Meyer

    29 Oktober 2012 at 03:05

    wadew .. lagi tangis tangisan tho kang

     
    • SanG BaYAnG

      29 Oktober 2012 at 03:10

      Hehehe.., hanya sebatas tulisan Mbak.

      Sejak kemarin arep nulis “Sumpah Pemuda” malah terlalu keras nilai kritise, jadi ya ndak jadi dipublish mbak..😛

       
      • Ely Meyer

        29 Oktober 2012 at 03:11

        yo ndak opo opo kang, dipublish sing sreg wae

         
        • SanG BaYAnG

          29 Oktober 2012 at 03:32

          iya Mbak.., itulah sebabnya mengapa akhir-akhir ini saya menulis bertemakan asmara. Semua cuma sebagai media pengontrol emosi saja agar tidak terjebak dengan argonsi kata yang begitu liar terumbar.

          Okey Mbak.. Terimakasih..
          #Maaf.., bila dalam beberapa minggu ini, mungkin saya belum bisa blogwalking..mbak

           

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: