RSS

Sebait Sajak Dari Seorang Bocah

01 Nov

Sebait Sajak Dari Seorang Bocah
Lirik Prosa Puisi Bebas : Sang Bayang

Keindahan selalu menunggu untuk dilukiskan. Sedang aku telah kehilangan rasa untuk menikmatinya, hingga semua kata menjadi hampa ketika tertulis. Kisah-kisah melantun resah. Makna menghilang dari dalam untaian. Kata yang melayangpun begitu gelisah dalam tiap baitnya.

Mungkin benar, bila aku terlalu egois. Mungkin benar bila aku telah menjadi lemah. Bahkan tak mampu memenuhi takdir sebagai seorang pria yang layak untuk dicintai. Hingga katamu datang dengan tajam menusuk ingatan imajiku.

Aku tahu. Dari dulu kau selalu mengikuti jejaku. Kini kau telah dewasa, itu juga ku tahu. Kau telah mahir menggunakan pedang yang dulu ku berikan dan menikamkanya kejantungku dengan cara seperti apa yang pernah kuajarkan padamu. Sengaja kau gunakan jurus itu, agar aku tahu tentang makna sebuah jiwa yang tersemat dalam sebuah kata.

“Aku yakin kau masih terjaga dan sedang mengetik. Sepasang telingamu pasti tersumpal handset. Aku yakin, karena itu adalah tabiatmu. Dimana kata selalu kau puja setiap malam dan menuliskanya.

Keheningan yang kau arungi. Kini mulai sunyi. Benar benar sunyi. Sepi. Dikesendirian dan kekosonganmu yang tak pernah mampu ku isi.

Sementara kau tak mau kehilangan ceceran kisah yang terberai. Sedikitpun. Sedetikpun. Tak mau terlena untuk mengurai makna.

Maafkan aku yang telah mengganggu aktifitasmu. Ini kulakukan karena aku telah kehilangan semua tentangmu yang tertulis dalam tiap kisah sedihmu.

Rasa itu hilang seiring rasa kehilanganmu yang selalu ku baca sepanjang waktu. Andai boleh kukatakan. Pastilah kau telah kehilangan kekuatan oleh ego yang membelenggu.

Namun, itu kisahmu. Sedang kisahku. Masih setia menunggu bait-bait jawaban indah. Tertulis syahdu ketika kubaca dengan senyum yang bahagia.

Aku memang tak mampu seperti wanita-wanita pujaanmu. Yang bisa membuat hatimu luluh. Bahagia karena pesona indahnya tubuh dan kata.

Aku hanyalah bocah. Seperti kata yang selalu kau ucapkan ketika memanggilku sambil mencubit gemas lesung pipiku waktu tersenyum.

Entah apa yang harus kukatakan. Entah apa yang harus kulakukan. Agar kau bisa mengerti. Agar kau memahami tentang rasa yang tak pernah berhenti berkata.

Kadang aku ingin bertanya. Mengapa kau selalu memandangku bocah yang belum layak dicintai. Sementara aku telah dewasa. Dan kau selalu mengatakan, cinta datang tak pernah beralasan.

Aku beci. Mengapa kita mesti dipertemukan ketika aku masih terlalu dini untukmu. Hingga membuatmu selalu memandangku bocah. Bocah. Dan bocah.

Andai kau tahu betapa bencinya aku pada kata itu. Pasti kau tak panggil aku bocah. Karena, itu membuatku marah. Dan aku selalu menahanya, agar kau selalu bahagia.

Andai sedikit saja kau mau mengerti. Kini bocah itu telah dewasa dan selalau berkorban demi kebahagiaanmu. Pastilah kepalamu tak membatu.

Namun, egomu lebih memuja dan mencintai kata. Sedang wanita itu. Bocah itu. Hanyalah bagian dari keindahan yang layak untuk kau tuliskan.

Egomu tak pernah bisa mengerti. Tentang keindahan yang tidak hanya untuk dilukiskan. Sebab keindahan juga membutuhkan sebuah belaian.

Entah sampai kapan kau bisa mengerti dan memahami. Sebuah rasa yang selalu tersemat didada seorang bocah, yang kini telah menjadi wanita.”

(Dariku :……….OSP……….)

Aku hanya bisa mengedit kemudian mengunggahnya, agar menjadi pengingat bagi diriku, juga kamu. Agar kau tahu. Karenamu lah aku selalu bertahan dan mudah mengatakan cinta pada wanita. Agar dia menjauh. Agar dia berlari. Semua itu kulakukan, karena aku tahu benar bahwa dia tidak pernah mencintaiku—namun telah membuatmu cemburu.

Aku tak ingin menyakitimu dengan gurauanku. Namun, aku tak pernah bisa menyayangimu dengan sepenuh jiwaku. Maka biarkanlah aku bermain dengan sekian banyak kata. Berlompatan diantara naik turunya deburan ombak yang selalu kunikmati.

Walau tersesat dalam permainanya dan harus menderita. Walau pedang yang pernah kumainkan melukaiku. Walau pedang yang pernah kuberikan menggores dadaku dengan ketajamanya. Biarkanlah menjadi bagian dari goresan kisah yang tertuang dalam ungkapan jiwa seorang N.F.A.G.

(Goresan Pedang Yang Pernah Kuberikan)
Ambarawa, 01 November 2012

***Sebagian isi surat telah diubah dan disesuaikan dengan tanda baca tanpa mengurangi maksud dan tujuan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 November 2012 in Puisi Cinta

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: