RSS

Tipografi Dua Puisi Dan Selimut Putih

09 Nov

Perubahan Tipography Dua Sajak Menjadi Puisi Dan Selimut Putih Dalam Tiga Buah Puisi
Antologi Tiga Puisi : Sang Bayang

Selimut Putih
Puisi : Sang Bayang

Tergolek lemah dibuai harapan
menelungkup layu, usang dipembaringan
meratap tangis tak ber-atap
laksana kumbang kehilangan sayap

Menggores riuh tetesan air mata
mimpi-mimpi kian sunyi tak bertinta
lemah tertulis diujung penantian kelam
kala kertas berubah menjadi hitam

Di balik kabut berselimut putih
desah menyemai asa dengan rintih
di terjang gelombang badai
melandai datang dan pergi menghampiri

Bersahut tak mengenal musim
bergelombang menikung tajam
setajam lelehan air mata suci
tak diharap namun pasti mendatangi.

***
Tetesan Air Mata Yang Ingin Sempurna
Puisi : Sang Bayang

Datang menghias ruang bersenandung kidung
Rintihan basah membasuh dinding dengan kesucian

beludru air mata jatuh di atas pembaringan
Diam membawa rindu dan nyanyian
menyayat jiwa tak lagi sempurna

Sedang aku tetap tersenyum,
lemah kepalkan tangan
dari raga yang telah rusak.

Dengan robekan luka di tancap jarum suntik
tak berkutik, di pancang ikatan selang
dari tabung besi dan plastik
menghisap angin dan cairan berirama

Tak habis pikirku bertanya,
mengapa ada duka dan air mata menjenguk duka

Serupa permata di hamparan luka
menyeruak tiada guna
Mengapa begitu kontras keadilan Tuhan

Seperti siang malam yang berlawanan,
saling melengkapi dan menyempurnakan

Akupun tak pernah sempurna,
hingga Tuhan memisahkan ruh dan badan
Menyatu dalam keabadian,
menempuh jarak tanpa hitungan

Kemudian semua kembali
padamu padaku seperti semula.
Setelah denyut nadi berhenti bergerak.
Dan jasad tak lagi mampu mengucapkan sepatah kata
walau cuma selamat tinggal.

***
Seserpih Jiwa Yang Ingin Sempurna
Puisi : Sang Bayang

Matahari riuh bersahut manusia berseragam
putih mengantar setitik asa padaku embun tak berjiwa
Di atas pembaringan menguap
di sela kesunyian hati tertusuk duri
di seka duka, kering tanpa air mata

Lebur tak mampu menggambarkan pedihnya kehancuran
selain tertulis dalam taburan kisah deritan duka
kala rindu dan dendam musnah di ujung penantian
terpuruk digugusan karang
tak mampu terbangkan mimpi kejauh hari.

Mati menanti sebilah kata dari lidah sekian lama beku
tanpa jawab
hilang kala lidah menjelma jadi tulang.

Bisu semua menjadi palsu
penuh muslihat
tipu kebencian tak pernah terluruskan
mati di ujung lidah yang terpotong.

Pernahkan kau pikir deras air mataku mengalir
sesuci gangga dan tak mudah kau temui
di antara butiran-butiran pasir emas dari mesir
mengalir, sederas darah robekan perutku
mengalir deras setelah di sayat ahli bedah

Sedang saat itu aku tak tahu ada dimana
begitu juga kamu yang tak pernah mau tahu
dengan segala penderitaan-penderitaanku
Kala lemah denyut nadi tangan diambang jurang
tak mampu menjakau tanganmu yang enggan kugenggam
Kau berlari membiarkanku jatuh terperosok
Hingga kau tak pernah tahu
bagaimana rasa menolong orang sekarat.
Kau pun tak pernah mengerti
mengapa gelas retak tak tersambung lagi
Kau tak pernah mengerti
seperti apa rasa hatiku yang patah tak terobati.

Andai kau mengerti hari ini aku ingin mati
tak mungkin kau hidupkan kembali esok hari
sebab semua telah berakhir
semua telah terlambat
Dan Tuhan, telah memberikan kemurahan hati-NYA
memisahkan ruhku dari jasad
beristirahat dengan tenang
abadi tanpa penantian.

Kepergianku adalah syukurmu terlepas dari beban
hingga tak harus lagi titihkan air mata
karena bualan konyol yang selama ini kutuliskan.
Bisa jadi
dan itu barangkali
Kepergianku adalah bahagiamu yang tak pernah tahu
tetang seserpih hati
dari belahan jiwa ingin sempurna.

Asal kau tahu
Darimulah ketulusan sebuah rasa ternoda
menjadi terkoyak penuh luka
Darimulah mengalir
kesucian cinta yang akan membersihkanya.

Ingatlah
dan ingat
Agar hariku harimu menjadi indah
tak lagi di bakar panas menyengat
Hatiku hatimu menyatu dengan syahdu
tak lagi tersayat.

*N Al-Fatkhu Bay A.G*
(Catatan Di Balik Selimut Putih)
Merpati-Room, 09 November 2012

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 9 November 2012 in Antologi Puisi, Puisi, Puisi Cinta

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

8 responses to “Tipografi Dua Puisi Dan Selimut Putih

  1. Larasati

    9 November 2012 at 23:33

    tipografi?? maksudnya puisi yg modelnya begini yah….

     
    • SanG BaYAnG

      11 November 2012 at 01:51

      Oh bukan.
      Tipografi hanyalah sebuah kreasi (seni) merubahan bentuk.
      dan disini cuma terjadi pada sajak yang berubah menjadi susunan puisi (maksudnya).

      Maaf.., linknya saya hapus dan syukurlah sebagian besar dari kumpulan itu telah saya baca sebelumnya.
      Terimakasih atas infonya.

       
      • Larasati

        11 November 2012 at 11:50

        terimakasih kembali utk penjelasannya

         
        • SanG BaYAnG

          12 November 2012 at 02:21

          Sama sama mbak.

          O..iya.., lupa. Di antara puisi sang presiden (SCB) memang banyak yang menggunakan seni itu juga mbak..🙂

           
  2. sang dewi

    9 November 2012 at 21:50

    sabar ya mas..
    badai pasti berlalu
    dan luka pun pasti akan sembuh

     
    • SanG BaYAnG

      11 November 2012 at 01:46

      Terimakasih Mbak..
      semoga dua luka akan segera sembuh dan kembali seperti semula..

       
  3. Ely Meyer

    9 November 2012 at 09:33

    hmmm ….

     

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: