RSS

Arti Sebuah Kesetiaan

19 Nov

Arti Sebuah Kesetiaan
Lirik Bebas : Sang Bayang

Sekejap senyap kurasakan hadirmu menggema dalam jiwa menyisir luka dan lupa pernah bercinta dengan anak manusia. Rindu tumpah melecut dada. Setengah raga pecah. Retak menatap malam. Tak lagi seindah rindu beberapa pekan lalu.

Ruang diam serentak menyempit. Suara suara tercampak. Jatuh bergelut debu menyapu ingatan, terperosok di sebuah negeri tak bernama. Bilik bilik hati mendadak kosong. Sujud hanya terwujud dalam kepalan tangan pasrah. Kepada-Mu terarah. Lemah. Namun pasti terpatri. Kemudian pergi dari penantian konyol dunia memabukan. Tegelamkan diri dalam bejana asal muasal cinta berasal. Dan kembali mengecap. Syahdu tak bermadu. Melepaskan selembar kisah. Tinggalkan pelukan tangan dinginmu yang tak pernah menyapa senyap. Atau menoleh barang sekejab.

Untuk kali ini.. Biarkan aku pergi, melerai air mata yang suatu saat nanti pasti kau baca. Kala kering air matamu, tak sanggup lagi menangis dan berkata dalam kisah tertulis. Sebab kita hanyalah anak-anak pendusta. Terperangkap raksasa ingkar. Berkuasa memimpin ladang gersang. Laksana unta meminum air kencingnya sendiri. Menjadi budak kepentingan pribadi, melupakan cinta yang bersahaja abadi di tempatnya.

Kini.., biarlah malam menancapkan hitam. Tanpa warna rembulan. Desingkan namamu mendesau pada kepingan jiwa yang telah terluka. Biar hitam menghias dinding hati. Walau tak sebanding bunyi indah namamu embun pagi, yang telah menjadikanku tentara putih pencari kebenaran suci. Meraup abadi, tak untung di ujung belatimu. Malang. Meradang. Menanti hura-hura kematian berpesta air mata. Mengisi peti kecil sepetak tanah di bawah batu nisan penderitaan. Dan biarkan hati memadat dalam keraguan lirik, lirisnya lolong tangisan srigala memanggil betina.

Biarkan darah menggumpal rindu. Hitam. Beku. Menghias gurindam barisan athem. Tertatih meninggalkan kenangan indah sinar emas pelagimu yang menanti rembulan dengan sederet bintang. Kemudian kau peluk mesra. Kau cumbui. Dan aku hanya bisa berdoa. Semoga matamu tak salah arah melongok bintang yang ingin kau genggam, untuk melupankanku yang abadi dengan kesetiaan ini.

Selamat tinggal kasih.. Selamat tinggal sayang.. Selamat tinggal kasih sayang.. Biarkan aku terbang tanpa seorangpun terpaku kala melepasku. Sebab aku tak pernah terpaku meninggalkan siapapun. Termasuk ragaku. Apalagi kamu..

19 November 2012

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 19 November 2012 in Cerpen, Puisi Cinta, Puisi Kehidupan

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

8 responses to “Arti Sebuah Kesetiaan

  1. Ely Meyer

    20 November 2012 at 15:38

    puisine kok ngenes yo Kang

     
    • SanG BaYAnG

      21 November 2012 at 02:36

      Ben.., ben sedih.. hahaha..๐Ÿ˜†

       
  2. zasseka

    19 November 2012 at 04:07

    aku mencoba tak terpaku, tetap jua mataku memaku. padamu.

     
    • SanG BaYAnG

      19 November 2012 at 04:18

      Pakulah sedalam mata memaku agar jiwa mampu menyentuh paku-paku yang siap menancapi bumi.. tanpa penyesalan dalam sebuah penantian..

      Terimakasih banyak kawan..

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: