RSS

Racauku Di Malam Yang Kacau

17 Jan

Racauku Di Malam Yang Kacau
: Sang Bayang

Selamat malam kawan. Selamat malam tuan, dan puan penikmat malam yang tak pernah merasa terperangkap pekatnya gelap dan temukan nikmat di kesunyian. Sebab malam bukan lagi sebuah perangkap ketika pekat tak lagi mampu menyekap.

Demi malam yang di hujat oleh rasa takut akan nyanyian angin. Demi langit berhantu pengingkaran terhadap tubuh yang tak sanggup bersetubuh dengan alam, dengan serbuan getah menimbun kelopak mata. Jangan hiraukan, laju racauku yang mengusik malam, jika saraf tak lagi mampu merespon semua jajaran abjad, dalam gugusan kata yang tak pernah bermakna.

Racauku hanya tetaskan kata, meluap dari lembar kehidupan yang tak mudah di uraikan. Dengan kata. Dengan lidah yang sekian lama terbiasa bohong, pada sebidang dada, pada setiap rasa yang mengecap putihnya tulang terbungkus kulit sawo matang, juga tak pernah bersulur apalagi bernektar.

Di luar gemericik gerimis, masih membuatku cemburu hingga aku meracau, tak pernah tahu hendak kemana arah ceritaku.

Ketika segumpal asa merajut kata, kudengar gerimis begitu jujur mengungkapkan suaranya, tanpa peduli siapa–hendak mendengar rintik jatuhnya air. Mengalir, begitu saja dari pendengaran sekilas, kemudian hilang tergantikan hujan yang datang di lain waktu, seperti patahnya kuku pasti tumbuh kembali.

Mungkin begitulah racauku pada malam yang kacau. Di antara gerimis dan halilintar, racauku serupa hujan air mata dalam dongeng–kesedihan sekejab berubah jadi tawa, menjelma lelucon, konyol dan hanya tinggalkan larik-larik kata, pada segunduk tanah pemakaman yang lambat laun rata, dengan sendirinya tinggalkan nisan, sekali tempo kita tinjau, masihkah nisan itu berdiri di tempatnya, sebelum batu lain menindih dengan sesuatu yang baru dan segar di padang mata memandang.

Malam kian larut seolah menantangku untuk berkelakar dengan racauan yang makin liar.

Malam yang kacau membuat igauku menjadi-jadi. Meletup-letup juntaikan mimpi, serupa kembang api di malam tahun baru. Meledak. Di pandang, kemudian hilang. Di susul warna lain. Menyala. Berulang lagi. Silih—berganti. Dan mungkin suatu kali nanti, pastilah nikmat untuk di kenang, sebagai bagian dari sebuah perjalanan yang layak untuk di tuliskan dalam barisan kisah, tentang pria maya dan mimpinya.

Tepat di titik nol perputaran waktu. Gerimis masih setia, bersekutu dengan racauku yang di sulut api asmara, konyol dan akhirnya berlari bukan lantaran cinta semata atau rindu dan dendam, di sebabkan misteri senyuman dari balik jendela kaca.

Aku coba mengintip keluar. Rupanya langit masih di tempatnya. Di atasku. Kutatap. Dan Tuhan masih terlihat dari sini. Di antara gerimis. Membasuh tangan-tangan berdebu tebal karena angin nakal yang membawaku berlari dari kenyataan. Hingga aku sadar bahwa aku telah mabuk tanpa menenggak arak.

Ambarawa, 17 Januari 2013

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 17 Januari 2013 in Prosa, Puisi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

8 responses to “Racauku Di Malam Yang Kacau

  1. puchsukahujan

    18 Januari 2013 at 07:49

    malam dan gerimis sepertinya moment yang tepat buat meracau ya Sang Bayang? kalau saya mah daripada meracau kacau mending tidur #eh

     
    • SanG BaYAnG

      18 Januari 2013 at 21:29

      Yeah.., begitulah Mbak Puj.., kalau saya bisa tidur mah juga tak bakal meracau Mbak..hehehe..:mrgreen:

       
  2. exbunderan

    17 Januari 2013 at 20:35

    suka….saya membacanya…

     
    • SanG BaYAnG

      18 Januari 2013 at 03:54

      Terimakasih Mas Exbun.
      Semoga selalu bisa di nikmati..😀

       
  3. erlinwlndr

    17 Januari 2013 at 17:54

    ini keren !

     
    • SanG BaYAnG

      18 Januari 2013 at 03:53

      Oh.., yeah..
      Terimakasih banyak Mbak Erlin..🙂

       
  4. sesar

    17 Januari 2013 at 15:49

    jangan lupa mampir juga ya! yeeehhehee

     

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: