RSS

DERMAGA RAPUH TAK KUNJUNG RUBUH

22 Jan

DERMAGA RAPUH TAK KUNJUNG RUBUH

Sekeras cadas kemauan, debur jantungmu kudengar–menelisik rongga menabuh gendang, bisikan rindu mengepak diantara sayap yang retak.

Aku diam, serupa awal_jumpa di ujung senja, wajahmu remang kupandang, laun menghilang ketika matahari terhalang segerumbul pohon kopi, berbuah matang tak secerah wajahmu, merekah senyum nan indah_lembut kusentuh, lamban menguap dibakar panas sejengkal keinginan sesaat, mengental jadi rasa tak terelakan.

Malam membawamu pada mimpi, rindu tak pernah layu, mekar menjalar di dada. Dan, aku tahu–kau sedang menunggu perahu, melaut entah hendak berlabuh, kemana pergi tak pasti kembali.

Aku masih diam, ditempat mengasah sajak, sambil menatapmu kian meratap, terpaku pada sesal mengguris mimpi, menggali buah rindu yang pernah tertanam, tertulis menjadi anak anak puisi tentang sebidang hati.

Oh.., bukan. Bukan atas kasihan cinta berbicara. Bantah sebuah rasa yang mungkin tak sanggup lagi menahan iba, tak temukan alasan dan terus berlari, dari kenyataan sebuah dermaga yang sekian lama telah menanti, semakin rapuh, dengan satu tambatan tak terjamah, dihantam air lautan tak kunjung goyah.

Oh.. mungkin, kata maaf tak pernah cukup untuk melebur rindu yang sempat membeku. Namun kau harus tahu, jika awan dan kilat tak pasti datangkan hujan. Kau harus lihat dibalik bilik jendela kamar, banyak burung bernyanyi, menghibur dan ingin mengisi harimu yang sunyi. Dengar. Ambilah satu diantara seribu nyanyian, peliharalah dengan hatimu, untuk menggantikan sesosok bayang–hitam tanpa wujud kepastian, agar kau bisa melupakan perahu yang selama ini telah pergi dan tak mungkin kembali.

Dalam goresan ini, kutuliskan rindu yang telah berlalu. Meninggalkanmu yang tak pernah tahu dan telah berlabuh di tempat yang teduh. Maafkan atas keputusan yang telah mengecewakan dan tak pernah mampu mewujudkan mimpi yang selama ini kau semayami. Sebab cinta yang selama ini kau nanti, telah pergi dan menemukan dirinya sendiri, untuk berlayar dengan perahu yang utuh dan tak mungkin lagi kau rengkuh.

Gatra Saloka, 22 Januari 2013

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada 22 Januari 2013 in Cerpen, Prosa, Puisi, Puisi Cinta

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

10 responses to “DERMAGA RAPUH TAK KUNJUNG RUBUH

  1. Maidah Idha

    1 Juli 2013 at 09:13

    Biarkan cinta untuk cinta. Pahatkan saja prasasti kenangan sebagai persembahan terakhir pada cinta yang
    telah ia gadaikan pada waktu. Meski cinta pun airmata, tak harus luka yang selalu yang ia persembahkan.Cinta pun bahagia, tak harus selalu menanti. Rapuh bukan berarti kandas, terjangan ombak telah cukup membuktikan kekuatanmu. Jelang bahagia bersama cinta.

     
    • SanG BaYAnG

      8 Juli 2013 at 01:40

      Hmm.., manis sekali kata-kata penyemangat hari bah sang surya yang sedang pancarkan cahayanya.

      Terimakasih banyak atas apresiasinya sahabat..๐Ÿ˜‰

       
  2. Ly

    23 Januari 2013 at 01:35

    dermaga, janganlah rubuh, akan ada perahu lain yang datang berlabuh๐Ÿ™‚

     
    • SanG BaYAnG

      23 Januari 2013 at 02:14

      Siaps.., semoga akan selalu kuat menopang dirinya diantara hujan dan debur asinan laut..๐Ÿ™‚

      Terimakasih banyak saudara Ly..:mrgreen:

       
  3. fasyaulia

    22 Januari 2013 at 22:04

    Sudah lama tidak berkunjung, segar sekali malam-malam baca ini๐Ÿ˜€

     
    • SanG BaYAnG

      23 Januari 2013 at 02:09

      Eh.., ada Mbak Aulia..apakabar Mbak..???:mrgreen:

      Terimakasih Banyak Mbak atas apresiasinya..๐Ÿ™‚

       
  4. indraisme

    22 Januari 2013 at 09:54

    Dermaga yang rapuh, akan tetap menyambut terjangan ombak yang tiap buihnya adalah harapan akan kapal impian yang membelah padang biru di hadapannya. Salam kenal, saya indraisme…

     
    • SanG BaYAnG

      22 Januari 2013 at 12:25

      Semoga saja ada perahu yang membawa setumpuk material untuk menambal retakan-retakan, diantara puing tambatan yang mungkin tak lagi kuat untuk menopang dirinya sendiri, atau rubuh sebelum ada yang berlabuh dan menyentuh.

      Salam kenal juga Mas Indra..

       
  5. katacamar

    22 Januari 2013 at 08:01

    kasihan… kamunya….

     
    • SanG BaYAnG

      22 Januari 2013 at 08:18

      Iya Mas. Walau ini keputusan yang sangat menyakitkan, namun mudah-mudah, lebih baik daripada harus menyiksa untuk selamanya..:mrgreen:

      Selamat pagi Mas.., selamat minum kopi..๐Ÿ™‚

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: