RSS

Negeri Simpang Siur

23 Jan

Negeri Simpang Siur
Oleh : Ali Arsy & Sang Bayang

Ali Arsy : NEGERI BAYANG, tak ada yang dapat menemukan ketika setiap celah belum diseludupkan oleh prasangka dari jalur tak beraturan, konsep demi konsep tiba-tiba masuk begitu saja dan orang-orang di dalamnya langsung bersorak ‘horeee’, “Lama kami menunggu, saat yang tepat untuk bicara, tentang pelayaran cinta di sangkutan baju belakang pintu kamar kita. Horee, mari ke sini, menari dan bernyanyi, coba tengok di balik saku masing-masing, adakah yang terselip dan tetap diseludupkan dengan kesengajaan, bila juga tidak ada yang mampu menjawab maka kita kembalikan saja prasangka itu dalam nganga anak-anak burung,” seraya mengambil sedikit jatah kemudian pergi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, oh rupanya hanya dingin yang tersisa, padahal hujan semakin mengepung di semua celahnya

Sang Bayang : Hujan, membuat kita semakin basah di antara celah, disusupi angin menggigil beku dan kaki tak lagi mampu melaju. Sementara hujan tak berhenti, menghadirkan seribu bayang yang menghantui setiap langkah dan desah nafas yang terhempas, hingga kita menyadari, oh rupanya kita telah terperangkap oleh curahan air yang seharusnya mampu memberi warna baru pada setiap kehidupan, sebab kita telah salah menafsirkan pada setiap tetes rintiknya.

Ali Arsy : RINTIK SEMAKIN MEMBINGKAI, katanya itu hanya gerimis, ia bicara dari jarak yang teramat jauh, tetapi, kata seekor katak yang sembunyi di celah daun dan kelopak bunga teratai, kolam kita telah lama terkepung tak mampu berbuat banyak sehingga ke arah mana pun kita melayangkan pandang dan ke jarak sejauh apa pun kita bersuara selalu saja terhalang oleh gerimis itu karena semakin didekati ia menjelma rintik, semakin dekat semakin jelas terbuka bahwa rintik itu mengepung membingkai, nah ke mana lagi kita mencoba lepaskan jebak-jebak karena bingkainya semakin pula mempersempit jalan, padahal langkah kita menggigil kelu lesu layu uuuhhhhh siapa yang sedapat mungkin mengulurkan coba tak mampu bahkan sekali lagi tak mampu, selayaknya tanah air ini negeri ini semakin tak mampu karena tak ada yang dapat menguraikan rahasia dari gerimis itu sendiri yang terus menghujam bagai ujung tajam jarum bahkan gerimis yang mulai membikai jelmaan rintik demi rintik, adakah engkau mulai melepaskan lambai serta tatap matamu yang kini mulai lunglai, begitulah kiranya

Sang Bayang : Ketika lemah kian tercampak, berserakan di antara puing-puing mengabu di permukaan tanah, terdampar di atas retakan yang semakin menganga dan kehilangan cinta kasih para penghuninya, seolah bumi dan langit menggamit jari untuk berhenti dari pergerakannya, tanpa ampun menggencet serpihan-serpihan sayap hingga tak mampu menerbangkan diri lagi, namun tidak untuk kau tanah air yang mengalirkan darah puja dari bangsa besar sepanjang katulistiwa. Yeah, begitulah langkah kaki yang terpasung gerimis mengiringi tangan yang akan selalu berpacu dengan deras turunya hujan dengan tatapan yang berusaha mengeja setiap titik arah mata memandang rintik dan keadaan sekitarnya, mengurai stiap tanda baca yang terselip di antara tanda seru dan tanda tanya, mengalir begitu saja di halaman yang selama ini kita diami dan kadang membuat kita bosan, enggan untuk memperdulikannya hingga semua tanda baca terbengkalai, kemudian datanglah ayam yang sengaja mematukinya secara perlahan, menunjukan betapa neikmatnya menyantap semua itu agar kita cemburu, ketika melihat semakin berkurangnya ejaan yang mampu kita terjemahkan dengan kata di antara jajaran abjadnya.

Ali Arsy : CEMBURU AYAM, semakin bersuara di pagi dengan kepak menghentak-hentak tepat pada waktu yang mengalir pada naluri dan insting dalam daftar syaraf-syaraf hewani, engkau menyimaknya sebagai tanda, kokok pertama tepat di pukul tiga, kemudian bersahut pada kokok kedua dan seterusnya bahkan terkadang secara sadar masuk ke gendang teling, engkau berselimut cuaca, engkau tentu saja bukan hujan tanpa reda, engkau tentu saja bukan kepak di getar-getar jendela; semakin disimak semakin jelas dan terbaca, semakin membuka maka semakin merasuk sebagai makna demi makna, “Lepaskan nyenyakmu yang akan melingkar dan melilit lelap itu,” suara itu bertambah mengentak sebagai kokok di sela kepak, adakah yang cemburu pada saat yang tepat dan melena

Sang Bayang : Ketepan kata, datang menjabat nurani, menghujam sesaki dada yang tak mampu lagi berkata hingga beberapa abjadnya menghambur, pecah berkeping-keping ketika diri terlena di sepertiga malam yang mulai meninggalkan kelam. Kokok ayampun tampaknya mulai bosan menyuarakan bunyi dan terlelap dalam buai dengkuran tidur, hingga akhirnya terbangun dan bergumam setelah membaca dua buah puisi sebagai peringatan untuk diri dan semesta agar tetap waspada bergaul dengan setiap untaian kata dan semesta, sebab kata akan setia mewakili sebuah rasa dan tidak menuntut semua orang harus mengerti, sedang semesta hanya untuk di telan dari sebagian yang kita jaga, agar matahari dan bulan senantiasa timbul tenggelam memenuhi takdirnya dalam kehidupan, di antara anak anak yang mulai bisa mengungkap cara terimakasihnya dengan caranya masing-masing, walaupun kadang juga sulit untuk di pahami

Ali Arsy : DAULAT KATA SUNGAI, setelah dianggapnya rampung berkelebat bayang melintas atas diri yang limbur dalam bayang malam, pagi berkabut, embun padat di pelupuk dan kulit ari-ari, sungai katamu seraya menelungkup dalam dekap telapak tangan berjalur arus sebagai isyarat akan lenyap di ujung perjalanan secara tiba-tiba ingatan kita masuk dalam perangkap ikan besar dan kecil, “Oh, maaf. Kami sekarang sedang asyik berdiskusi. Kalian boleh saja pergi dan secepatnya membunuh bayang dari cahaya redup bulan yang pucat kesiangan. Matahari matahari matahari, selayaknya para binatang itu mampu menjadi cermin dalam berprilaku, dan setiap gua mereka melakukan penyusupan sampai kedip-kedip ujung kelopak mata pun terlupa, dan selalu saja terlupa, sebagai manusia, mungkin itu adalah biasa,” bunyi ketok palu pimpinan sidang pun bergelora ada rasa cinta ada rasa lain; hambar dan kering, “Lihat dan simaklah dengan seksama betapa bunyi ketok itu seakan merdunya nyanyian para pemain sandiwara, dalam ruang sidang orang-orang bernapas dan seluruhnya menjadi lega,” sampaikan salamku kepada kawan sejawat, katakan saja bahwa di sini, di tempat kami bicara telah meluka, dan selalu saja sangat meluka.

Sang Bayang : Salam yang di terima, dengan lapang dada sebuah jiwa menelan rakus setiap kata yang terucap dan mencoba berujar dengan bibir pecah kekurang gizi, namun di sisi lain mulut-mulut telah sariawan menelan buah kejujuran, di antara ketokan palu, di atas meja yang memekakan gendang telinga bagi sebagian anak dusun terpencil, terpinggir dan seolah-olah sengaja di singkirkan dari pandangan, serupa debu yang tak pernah berarti pada sepasang kelopak mata. Sedang ketokan itu tak pernah berhenti dan terus di ketok hingga berbunyi nyaring, namun tidak, tidak bagi kami yang mendengar dari kejauhan yang tak pernah terpengaruh bunyinya, sebab suara itu tak pernah mampu menembus bukit dan lumpur persawahan yang membuat suara-suara itu merasa jijik dan enggan melewatinya. Sedemikian rupa langkah mereka yang kita tahu “yah hanya sebatas pengetahuan kita” namun kami tetap tak berpaling pada alam yang telah memberi kami sebuah kenyamanan untuk tetap bertahan dalam sebuah kehidupan dan senantiasa mempertahankanya sebagai bagian dari sebuah perjalan, agar ada sesuatu yang dapat kita tinggalkan sebelum pergi dan tak pernah kembali.

Ali Arsy : BUKIT DAN LUMPUR, sebuah bukit hampir saja hilang nama dan semua tanda, “Kami bukan lagi sebagai pohon, daun pun luruh tak lagi bersemi, kulit mengelupas telah kering air mata, dan akar berebut lilit di lapisan bumi,” suara itu didengar oleh Lumpur di sekitarnya, dan ia pun berkata,”Bagi kami, Persatuan Lumpur Negeri Ini, adalah sangat tidak peduli, kami hanya bertugas sesuai keahlian kami, melumat unsur tanah batu pasir dan semua yang ditemui, termasuk rumah, beton, atap, dapur, panci, taman kesayangan, tiang listrik, kaki tikus, taring dan kumis kucing, bunga kamboja, melati dan matahari; oh ya, saya ucapkan selamat menikmati hari minggu yang ceria dan penuh duka, ceria karena anak-anak tetap bahagia di hadapan tatap mata lusuh layu kelu sendu dan yu yu yu, hampaiar banjir yang melanda, selamat pagi semuanya ya, selamat menunggu airnya turun dengan suka rela; nah, Bukit pun gelisah karena ketinggian air itu tak jua memberi tanda yang baik bahkan semakin meninggi,” kata Lumpur yang sedang bersiap-siap melenyapkan pucuk puhon cemara di atas bukit paling tinggi.

Sang Bayang : Bukit yang tinggi, masih pantaskah kita sebut bukit, ketika sebagian dari tubuhnya telah musnah, namanyapun raib dari hati para pemangku negeri, ah siapa lagi itu yang kita sebut pemangku negeri, sedang sekian banyak kaki tak mampu menopang dirinya sendiri untuk berdiri, lelah, mungkin itulah jawab setelah kepayahan mengusung sebagian dari bukit, hingga setengah dari gunung berpindah, setengah lagi tak mampu menyangga segunduk tanah, akhirnya jatuh dengan sendirinya, menimbun kampung, membawa lumpur ke tengah-tengah pemukiman, memasuki setiap pintu, mengacak-acak setiap isi rumah serupa maling tak mendapatkan barang curian, hingga para penghuninya berteriak setelah merasa kecolongan, sebagian mulai saling menuding, salah siapakah ini, oh tentu bukan salah kami, lantas salah siapa, oke biar bukit itu saja yang kita salahkan, biar cuaca dan musim menjadi kambing hitam, sebab alam bukan tandingan bagi manusia, dengan demikian kita bisa sejenak tersenyum bebas untuk menikmati liburan minggu ini, berwisata di antara melimpahnya air dan lumpur yang mungkin suatu kali nanti, akan mengundang kawananya untuk menumpas semua bentuk kehidupan.

Ali Arsy : NEGERI SALING, “tuding !!!” sebongkah telunjuk mengarah pada pintu tertutup, ada celah untuk menengok sedikit selebihnya adalah moncong senjata, bahkan parang yang tumpul matanya siap menghardikmu agar cepat-cepat menjauh, lalu kataku, “Itu istana siapa, istana dengan dinding retak di banyak sudut-sudut pandangnya, ya itu istana siapa yang di dalamnya hanya aturan-aturan kaku serta lamban, benar-benar istana siapa yang hanya meriah dalam penyambutan bila ada orang-orang asing jauh datang entah di malam entah di siang entah di waktu=waktu tak jelas, istana siapakah itu yang hanya membuka sidkit bagi kemiskinan membuka sedikit bagi kelaparan membuka sedikit bagi kemelaratan; laporan demi laporan adalah susunan kata susunan kalimat susunan wacana yang telah disesuaikan dengan pesanan kotak-kotak makanan; menunya untuk pagi ceria yang ini saja, untuk siang membahana ini saja untuk santapan penyegar sore ini saja dan untuk prasmanan malam tentu yang ini saja, di luar itu maka maaf tidak laku dan tidak akan pernah laku, ditoleh pun tidak, ini standar dan tidak ada yang dapat melawan bila tidak maka bersiaplah masuk gudang atau boleh jadi patung di dalam hanggar dengan mesin tua berkarat dengan kerangka tulang rapuh asinan garam

Sang Bayang : Kerangka tulang, rapuh kian karat bersama tumpukan kertas-kertas usang, diam, terasa asing di rumah sendiri, mungkin benar bagimu itu istana, atau kita sama-sama bertanya, namun tidak bagi kami, itu hanyalah rumah, rumah yang di petak-petak, di bagi dengan bilik bersekat, agar kita bisa melihat berbagai golongan yang di bedakan, siapa tuan-siapa kacung, siapa pemimpin-siapa andahan, siapa kuasa-siapa di tindas, dan kita tak pernah tahu dimana tumpukan kertas itu ditaruh atau sedang menunggu apakah gerangan, mungkin sedang antri untuk bisa berdiri di atasa meja, namun harapan itu hanya mimpi ketika lembaran-lembaranya hadir cuma bertuliskan abjad, pun lamban laun kita mulai bisa menduga dan terus menduga, apa perlu kita tambahkan angka diantara tumpukan kertas-kertas itu, agar terlihat setandar, berjalan serasi, indah dipandang mata dari lidah yang senatiasa berliur, berlendir tak sedap hingga membutuhkan banyak angka untuk membeli obat-obatan kimia demi menghilangkan bau, sebab ramuan herbal tak lagi mampu menyembuhkan lidah yang sakit, terlebih telah kehabisan semua bahan.

Ali Arsy : BANYAK ANGKA, ya sangat banyak angka bermain dalam kerangka bahkan dalam cuaca langka karena itu angka adalah bagian dari permainan di masing-masing zamannya dan zaman terkini bila rada bingung bermain dengan angka maka tak akan dapat apa-apa tetapi bagi yang sulit memainkan angka maka akan mudah masuk di lubang dan kamar sempit penuh jelaga alias bui kapeka maka selintas saja teman tak ada selintas saja karib lenyap pula bila datang menjenguk paling ia bicara,”lho, kamu masih aman-aman saja ya padahal itu kita lakukan bersama-sama dan rekan lain ada yang jadi pengsaha gula ada yang jadi pengsaha batu bara ada yang jadi pengusaha air raksa ada yang kini tinggal di singapura dan nyaman-nyaman saja ada yang tinggal di filifina dan happy-happy wae laiya iya kokakakakakakkkakakakkkkkkaka dan ada yang mencalonkan diri di wilayah utara bahkan kini sudah punya berpuluh pulau hutan sungai kapal minyak kelapa minyak guna-guna bahkan urusan solar saja dia tinggal angkat telunjuk saja maka akan datang beratus-ratus liter dikalikan berjuta-juta angka sengsara

———————————————————————————————-

PS : Diskusi ini di ambil dari obrolan singkat saya dengan Bang Ali Samsudin Arsy melalui setatus facebook. Di publikasikan atas persetujuan  dan ijin beliau.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 23 Januari 2013 in Prosa

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

2 responses to “Negeri Simpang Siur

  1. DOLBYVIT

    28 Januari 2013 at 17:02

    keren banget deh mas artikelnya heheh

     
    • SanG BaYAnG

      29 Januari 2013 at 01:29

      Loh.., ini kan sekedar dialog biasa.

      Terimakasaih banyak atas apresiasinya Mas..🙂

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: