RSS

Di Simpang Sudut Pandang

01 Feb

Di Simpang Sudut Pandang
Cermin : Sang Bayang

Kita berjumpa dipersimpangan jalan yang tak kau mengerti kemana langkah lidahku berlari, kau mencaci dengan setumpuk rancangan, menanggung beban kepala, berat kau sangga, namun acuh langkah kukayuh tak hirau hujatmu pemanjat teori, pun tak pula tergencet macam aturan yang kadang membosankan, memenggal gerak menuang rasa lewat sebuah kata, memutus kilang aliran tajam yag mengucur dalam barisan abjad mendaki, mendadak mati tak sadar, datar dan hambar, tak nikmat dikecap lidah kala bervocal.

Sehari dua hari awas matamu, menatap tajam titik lemah semata panah, membidik lari tupai melompat yang pasti pernah terjatuh. Namun, kau lupakan caranya melompat, kau lupa, mengapa batang batang pijakan kadang lentur dan keras tak patah menopang, malah menambah indah gaya melompat kala melempar tubuhnya, puuung melejit, hinggap, melompat lagi, clap begitu mudah menempel diujung ujung dahan, berpindah, menerobos segerumbulan daun, tak takut terjatuh, dan kau juga lupa serupa apa diri didepan kaca punggungmu yang mungkin berpanu.

Lama, kubiarkan kau berkicau, sebab kutahu pasti kau hanyalah burung beo yang biasa bicara lantaran meniru, serupa genjik (anak babi hutan) yang berkuasa dikubang sendiri, puas menjeritjerit, liar mengumpat lain binatang hingga tak sempat mendekat, terlebih masuk dikepalamu. Kau memang kuasai bermacam kicau yang tak pasti bertingkah sehebat katamu, ketika mencaci dan mencari kesalahan, tak lain sekdar menutup kekurangan diri dengan cadar seribu ajaran, sedang pencarian dalam puisi “hanyalah mengiris tipis setiap kata untuk temukan makna” tanpa kepongahan ego bergelar, berkelakar, serupa lelucon badut badut konyol, mengagungkan nama, tak lucu dimata anak anak pencari seserpih imaji.

Malam ini, kudatangi tempatmu menari, melihat panggung singgasana yang selama ini kau gelar dengan puja bermanik aturan mengangkang, “masihkah seperti dulu” bathinku membuka layar buram dengan bekas luka goresan.

Oh.., sungguh luar biasa jantungku berdetak, kencang tak beraturan, hendak lepas melesat, menggelinding tinggalkan tempat semayam, menatap hamparan kata yang bertebaran kau lempar begitu liar.

“Hmm..” gumamku mulai meracau, rupanya kau telah bosan memuja teori yang selama ini kau agungkan, kau banggakan, kau jadikan panduan dalam setiap pergerakan, hingga cuma kau dapati teori dalam langkahmu hampa menelan rasa, bahkan kau tiru gayaku bertopeng monyet dan bertutur, pun kau mulai mengerti; betapa nikmatnya bicara ketika menjadi orang gila.

Terakhir kali kuingat, katamu serupa hakim memegang gada, pengadilan tabu pada bait-bait pahit, mengganggu ingatan kepalamu.

Sebatas terdakwa, yang berhak lakukan pembelaanku ujar “tidak semua kata mampu berdiri sendiri, sebagian butuh bahasa tandingan yang mampu bersanding, untuk memperjelas makna, sedang makna hanya bisa ditemukan, ketika kita mengerti setiap kata yang diungkap, kecuali mebutakan diri, menyembunyikan kepala seperti kura-kura, menolak kenyataan, malu memandang kekuatan kata yang biasa kita ukur dengan teori, namun ketika sebuah teori digunakan, ia tak bisa memastikan apa yang dirasakan seorang penulis, sebab kita hanya bisa menduga dan meraba”.

Kini, kau telah menjelma dan mengambil sebagian isi kepalaku, dengan benih kebencian yang pernah kau tanam, tumbuh menjadi sepucuk cinta, lunturkan kukuh busanamu dalam keangkuhan yang menelanjangi. Dan sesalku hanyalah “apa yang sempat kuucap telah menjadi racun pembunuh dalam setiap bait puisimu” sedangkan aku tetap melenggang tenang dengan diri sendiri, tak harus kau dikte dengan segala macam kepongahan buah mata kuliah memburu gelar, tak lebih cuma sematan nama yang cuma mendapat enol koma sekian persen dari ilmu yang terpetik. Faktanya, besar kapalamu tak mampu menggerakan tangan untuk menjalari barisan abjad, kecuali kau cundangi kepala kawanmu dengan secuil sentuhan imaji imaji palsu.

Untuk sahabatku yang telah mendapat dua sematan gelar didepan nama kau puja, ingatlah segelas air ketika haus ditengah lautan garam tak sanggup kau tenggak. Percuma kau agungkan teori, jika tak mampu kembangkan diri, berkembang mengikuti jaman, seperti halnya ketika puisi sedang mananti generasi yang lahir bukan sekedar dari sebuah teori.

Ambarawa, 01 Februari 2013

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Februari 2013 in Cerpen, Prosa

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: