RSS

SUARA SAJAK

25 Feb

SUARA SAJAK
Oleh : Sang Bayang

di ujung dunia yang sepi
sunyi menjadi raja ketika sajak memberontak

jauh di atas kebenaran
nurani mengungsi
di gurungurun pikiran
mengabdi
pada sejengkal raga tak kekal

berpaling dari kenyataan
tak menjangkau sebidang dada yang mengangkang
sombong membekap dunia
anak cucu menjadi sisa–derita sepanjang jalanya

Lendoh, 25.02.2013

 
16 Komentar

Ditulis oleh pada 25 Februari 2013 in Puisi, Sajak

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

16 responses to “SUARA SAJAK

  1. Elna_DaSKA

    2 Maret 2013 at 17:41

    Rindu dengan segala kavasku disini

     
    • SanG BaYAnG

      3 Maret 2013 at 02:04

      Semoga selalu ada keindahan di antara rindu yang syahdu ya Mas Elna..🙂

      Salam santun dan takzim selalu Mas..

       
  2. mohamad rivai

    2 Maret 2013 at 16:27

    jiah, aq nggak paham………………………………………
    qiqiqiqiqiqi

     
  3. Bang Aang

    1 Maret 2013 at 10:10

    dengan penjelasan diatas puisi ini menjadi lebih menyentuh dan bertambah maknanya…

     
    • SanG BaYAnG

      3 Maret 2013 at 02:02

      He he he.., sebuah penjelasan seharusnya memang ada mas. namun tak semuanya harus dibuka begitu saja bila tak ada memperdulikan..:mrgreen:

      Salam santun selalu Mas..🙂

       
  4. layladesvitha

    26 Februari 2013 at 01:16

    ketika sajak memberontak
    rasa bertahta di atas singgasana raga
    dengan suara sajak sebagai pemandu
    memecah sunyi yang tersipu…
    ******* bagus bgt sajaknya mas,like…

     
    • SanG BaYAnG

      26 Februari 2013 at 01:20

      MEMECAH SUNYI. Dengan barisan abjad membelah kesunyian, mengalahkan gelagat menggeliat dipucuk ingatan, kembali pada persamayaman diri dan berlari pada puisi dan suara sajak ini adalah sebagai bukti.

      Terimakasih atas apresiasinya Mbak Layla.🙂
      Salam santun dan takzim selalu untukmu saudaraku.

       
      • layladesvitha

        26 Februari 2013 at 01:29

        ok deh mas,salam santun dan takhzim kembli ku ukir

         
        • SanG BaYAnG

          26 Februari 2013 at 01:36

          O..iya. untuk uraian sajak ini, ada pada balasan komentar dibawah. Walau sederhana, semoga bisa dimengerti.🙂

          Salam selalu Mbak Layla..🙂

           
          • layladesvitha

            26 Februari 2013 at 01:46

            iya mz aq mengerti,puisi itu adalah tentang rasa,ungkapan jiwa penulisnya. hanya si empunya puisi tersebut yg dpt mengerti esensi dari syair yg ditulisnya.namun dengan menggunakan rasa, penikmat dpt pula menikmati dn memahami sebuah puisi dg caranya sendiri. mksh ya mas..

             
            • SanG BaYAnG

              26 Februari 2013 at 01:51

              Yah.., begitulah kiranya kesinambungan diantara kata dan penikmatnya, terutama bagi penikmat secara tidak langsung pasti mengerti dan memiliki esensi sendiri berdasarkan kemampuan, pengalaman dan kepekaan masing-masing dalm mengapresiasi sebuah karya.

              Salam santun selalu Mbak Layla.

               
  5. Ika Koentjoro

    25 Februari 2013 at 10:20

    Tolong diterangin maksudnya apaan nich. Aduh, kalo urusan puisi telmi bener dech😦

     
    • SanG BaYAnG

      26 Februari 2013 at 01:17

      Menyelami ‘SUARA SAJAK’ dengan sederhana.
      Oleh : Sang Bayang

      “Suara Sajak” Bagi penulis sebuah sajak atau puisi, lahir dari beberapa proses yang melibatkan berbagai aspek, tanpa terkecuali perasaan hingga tertuang melalui sebuah kata sebagai media ekspresi dari apa yang hendak disampaikan kepada pembaca. Seperti halnya sajak ini yang sengaja mengambil tema suara dari sebuah sajak, karena sajak ini hanya sebuah suara hati dari penulis, dan hanya dengan sajak inilah penulis mampu menuangkan apa yang dirasakan.

      Memasuki ruang ‘SUARA SAJAK’.
      Sebagai pilihan judul, Suara Sajak merupakan sebuah sampul yang mewakili keseluruhan isi dari sajak, yang juga menerang tentang rangkaian-rangkaian peristiwa dalam setiap untaian baris kata-katanya. Dimana perjalan ini dialami oleh penulis dalam keadaan yang sunyi hingga akhirnya timbul sebuah kesadaran, jika hidup ini hanyalah sebuah kelanjutan dan harus meninggalkan sesuatu agar bisa dilanjutkan oleh generasi selanjutnya.

      Malangkah pada tubuh ‘SUARA SAJAK” :

      Bait I.
      di ujung dunia yang sepi
      sunyi menjadi raja ketika sajak memberontak

      Pada bait I ini, penulis berusaha membawa pembaca pada sebuah keadaan ketika sajak ini tertulis, dimana peristiwa itu berlangsung dalam keadaan sepi yang benar-benar sepi, sehinga pada awal bait ini kesepian itu digambar seolah-olah berada di ujung dunia yang paling sepi. Baris selanjutnya menegaskan tentang keadaan yang dikuasai oleh kesunyian, dan dalam keadaan ini sebuah suara (panggilan jiwa) dari seorang penulis mewujudkan keinginanya untuk memberontak melalui sebuah sajak.

      Bait II.
      jauh di atas kebenaran
      nurani mengungsi
      di gurungurun pikiran
      mengabdi
      pada sejengkal raga tak kekal

      Merupakan kelanjutan dari bait sebelumnya tentang suara yang memberontak dalam sajak, dimana keadaan ini disebabkan karena adanya kebenaran yang berada begitu jauh dari kenyataan sehingga nurani mengungsi pada pemikiran-pemikiran ego/logika yang mengalahkan segalanya, dan semua ini disebabkan karena hanya mengabdi pada kebutuhan individual sesaat yang sesungguhnya tidaklah kekal.

      Bait III.
      berpaling dari kenyataan
      tak menjangkau sebidang dada yang mengangkang
      sombong membekap dunia
      anak cucu menjadi sisa–derita sepanjang jalanya

      Pada bait III ini, penulis memberikan sebuah bangunan kesadaran yang dibangun melalui beberapa karakter sederhana untuk mendapatkan klimaks dalam sebuah sajak yang digambarkan dengan kata

      berpaling dari kenyataan
      tak menjangkau sebidang dada yang mengangkang
      sombong membekap dunia

      Dalam bangunan kesadaran pada keadaan yang digambarkan ini, penulis berusaha mengajak pembaca untuk bersama-sama merenungi situasi pada bait-bait sebelumnya hingga mendapatkan kesadaranya di bait ke tiga yang berlandaskan pada baris terakhir yang dapat mengakibatkan kerugian pada generasi selanjtunya yaitu ‘anak cucu menjadi sisa–derita sepanjang jalanya’. Jadi jelas sekali, jika disini kita diajak untuk memulai suatu tindakan (apapun bentuknya) tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri pada saat ini, namun kita sengaja diajak untuk melakukan sesuatu yang juga memikirkan masa depan demi generasi yang akan datang.

      Hanya sesederhana inilah yang bisa penulis uraikan dalam “SUARA SAJAK” ini, semoga bisa dimengerti oleh siapapun yang sempat membaca uraian, sajak dan tulisan yang sederhana ini.

      Semoga bisa menjadi bekal dan media pembelajaran bagi kita semua ketika hendak membaca sebuah puisi, sebab membaca puisi tidaklah sekedar membaca kata, kalimat, dan bait, tetapi juga membaca makna.

      Salam..🙂

       
      • Ika Koentjoro

        26 Februari 2013 at 11:08

        Oh, jadi inti dari sajak diatas “hidup ini hanyalah sebuah kelanjutan dan harus meninggalkan sesuatu agar bisa dilanjutkan oleh generasi selanjutnya”.
        Terimakasih penjelasan. Saya betul2 awam dengan puisi🙂

         
        • SanG BaYAnG

          3 Maret 2013 at 02:00

          Yah.., mungkin begitulah singkatnya.
          Terimakasih banyak atas apresiasinya Mbak..🙂

           

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: