RSS

GUMAMKU TANPA SEKAT KETIKA MALAM BERJINGKAT

27 Mar

GUMAMKU TANPA SEKAT KETIKA MALAM BERJINGKAT

Gumamku tanpa sekat ketika gelap berkawan kopi sepahit lidah mengecap.

Malam merayap, lambat, menyerap semua bentuk kehidupan, lelap di pembaringan, kelam bagi jiwa terbenam dalam dekap embun penantian tetes butiran kasih di antara jalan bersilangan.

Aku diam, menyantap semua rasa. Sepahit hidup terkekang, senikmat lidah mengecap, tatapan gelap menggeliat adalah “ujian bagi kami pemangku indera serba guna, yang tertidur dalam dengkur” semesta tanpa rasa, lupa keadaan dimana-kami tinggal, dimana-kami bersemayam, semayamkan sepenggal nurani yang selama ini telah pergi dan tak pernah kembali”.

Entah. Mungkin, cuma itu jawaban tepat, ketika nurani tak mampu berdiri sendiri “kami hanya bisa meracau dengan kacau, di sisa-sisa pemakaman” hari terus berlari, layaknya matahari yang timbul-tenggelam timbul tenggelam dan tak pernah tinggalkan jejak untuk kami telusuri, selain merelakan pergi kemudian menantinya terbit di esok hari.

Mengapa malam menjadi pilihan, sedangkan gelap selalu disugguhkan?

Oh, kata itu membingkai kepala, terngiang dalam tabuhan genta waktu yang terus melaju, menembus cakram kehidupan, berputar menurut ketentuan, pada poros lebih tajam dari sebuah paser, melingkari hidup yang kadang mengantuk, lesu, tanpa gairah, pasrah, menelungkupkan diri di kolong langit, kadang menjerit, menengadahkan tangan ke segala arah, pun pada siapa menangis, sedang tuhan bukan sekedar tempat mengemis, kemudian dihujani bermacam pemintaan yang kadang begitu konyol–ketika disuguhkan dengan berbagai mantra pujanya; disetiap pagi, siang, sore, dan malam yang selalu menekan puncak keinginan, mengharap sejuta pengabulan di ujung penantian, sebagai makhluk serakah menelan bumi sekedar memproduksi tahi.

Namun, inilah kenyataan malam yang penuh godam, menghujam setiap jantung, menentang dada, kepala, ingatan, lekuk dan segi kehidupan yang kandang menikung tajam, meliuk oval, mengombak, melandai tak pernah mencapai pantai–kecuali mati, ditimbun tanah bertanda nisan pembatas, antara yang hidup dan mati, sebagai pemisah dunia dan keadaan yang harus ditinggalkan–setelah dunia enggan menyuguhkan indah, rapuhlah didapat, sebelum sekarat dan lebur terurai cupang-cupang tanah ketika darah tak lagi mampu memerah.

Malam masih tetap menjadi pilihan, untuk menaklukan bunyi-bunyi, liar, melunturkan sunyi, dalam barisan-barisan abjad mengurai makna pada setiap baitnya.

Hanya pada kesunyian mengadu, semua kata terkumpul dalam jala pemikiran dengan raung renung pengalaman, dari pembacaan hasil eja atas kehidupan, atas keadaan semesta, bukan sekedar saduran teori dari buku-buku tebal, diringkas, kemudian dituturkan layaknya pujangga-pujangga bijak, padahal tak lebih dari sekedar pecundang–yang mengongkang senapan dengan peluru pinjaman, bila sudah demikian; kita hanyalah manusia-manusia palsu, memanggul jiwa imitasi–siap lebur diserbu karat, sebab ketika berucap hati nuranipun telah sekarat.

Laksana beo yang nggacor, meniru lantang suara tak mampu mencerna, atau tak lebih hebat dari topeng monyet yang hafal beberapa gerak dalam pertunjukan. Disanalah mulai kita temui arti biji pucung (kluwak) yang tak pernah mampu menjadi kemiri.

Lantas bagi kita, menjadi pujangga, beo, atau monyet adalah pilihan pemangku bijak itu sendiri dengan bekal indera serba guna, berkawan penahbisannya sebatas kemampuan gunung dan kepundan maghma ketika menggelontorkan isi kepala.

Malam ya malam, engkaulah hidup yang sesungguhnya hidup, dimana hanya ada gelap tercipta dengan sejuta goda yang menjadi hatu menakutkan, namun tidak bagi sebagian orang, sebab di antara rumitnya–banyak menyimpan makna, dalam puncak renung pemanfaatan indera mencerna, jiwa senantiasa menelusuri jalan-jalan perawan, menembus semak pikiran, melarung diri dalam kuasa imaji yang lahir dari pucuk kesadaran antar kegelapan malam yang meninggalkan lelap diri sejenak, mencari permata hidup menyala, bagi dirinya, juga umat manusia atau malah tak memperdulikan diri, sekedar mengabdi pada kepentingan lain, semua juga sebuah pilihan, selaksa malam yang telah menjadi pilihan ketika mengurai makna yang terselip di kepala, namun bergitu sedikit makhluk mampu menggantung jidat, terbengong, ketika temukan karya berpanjang-panjang, kemudian mencaci, berdalih tak mengerti, menculik sebait-dua bait menjadi jiplakan pikir yang menjelmakan kecengohan diri bertabur kepongahan pemuisi yang guoblog, ya goblog namun suombongnya na’udu billah min dhaliq, melebihi tingginya gunung mengacung, padahal sekedar penyair berotak palsu, palsu, dan palsu, sepalsu jiwanya, sepalsu hidupnya, sepalsu karyanya, palsu semua yang ada dalam dirinya, sebab ia hanyalah buah dari kepala tiruan yang tak lebih terhormat dari balon-balon berbentuk superman.

Yah, inilah malam yang penuh goda dan godam sepanjang jalan, hingga siapapun tak mampu mengelak ketika kegelapan telah menjadi pilihan di antara remang keadaan.

Namun malam begitu nikmat bersanding kopi, hitam, pekat, sepekat perjalanan yang lengket dengan berbagai persoalan, pahit, sepahit malam jalan melintang, segelap hidup dikecap juga nikmatnya, berputar melingkari setiap lekuk, naik turun, bergatian, menelusup, di antara pikuk binar dunia tanpa praduga-jatuh dimana, kapan berhenti entah sampai kapan semua gerak mati tanpa kehendak, atau mungkin akan berhenti dipersimpangan, ketika tangan di telungkupkan menyilang dada, dibungkus serupa lontong, siap digulingkan dengan timbunan tanah makam, bertabur bunga mawar dan anggrek yang merengek-rengek, lepaskan kepergian dengan menunduk berpesta air sepanjang perjalanan pulang.

Kopi, berapa jenis kopi mampu tersaji, toh hanyalah pahit dasar rasa yang siap ditolak, sebab enggan mulut menelan tanpa dikelabuhi pemanis gula gula bersenggama, dengan aneka rasa, nikmat kau dapat, ya nikmat dalam kentalan hitam, panas, sepanas nafsu ditengah malam, sehitam bibir mengepul awan tembakau, keluar masuk bergantian dari mulut, hidung, mulut mulut hidung, menggumpal asap terbang di antara wajah-wajah, selaksa panggung pertunjukan konser musik–jingkrak sambil bersorak hore dan horeee teriakan puas terhibur, terhisap asap kepulan budaya yang telah melanda jadi candu bagi otak, sulit untuk berontak, melepas dan menanggalkan kebiasaan, akibat telah terbiasa, hingga semua–menjadi biasa saja dan masih seperti dulu, biasa saja, karena inilah kebiasaan kami para penikmat kopi, berkawan akrab dengan tembakau-tembakau galak, siap merombak sebagian dari jalan pikiran, melalui barisan serdadu diksi, dalam sejarah panjang, meski diri tak tercatat dalam rangkaian peristiwa, setidaknya sejarah telah tertulis dari tanganya.

Dari tangan-tangan biasa, dari tangan-tangan maya, dunia membentuk wajahnya sendiri, untuk bercermin pada lembaran-lembaran kertas, yang terganti sebidang kotak kaca, kusam, berlendir gumam dan racauan pada setiap malam.

Disana kudapati wajahmu dan wajahku yang saling bertautan, kepalaku-kepalamu digencet, kadang terpisah dan lepas dari segala belenggu alam pikir sebuah teori usang membosankan, dan selayaknya wajib dikaji ulang, diganti dengan dengan permainan, lebih enjoy, lebih asik, dan menantang untuk dimainkan, hingga melahirkan terobosan-terobosan, baru tanpa rasa takut, dalam mengajukan sebuah gagasan yang selama ini dijajah, ditekan pundi-pundi aturan, mengagungkan ajaran, selaksa kaum ateis, menyembah kayu dan batu di tengah perubahan jaman yang telah menjadi besi dan pasir membatu.

Namun. kenyataan bagi jiwa, sekedar siang yang menghilang diantara ketenangan malam yang musnah dari kehidupan.

Lantas kemana perginya diri, ketika keadaan semakin runyam, dan pikiran tak lagi mampu dirombak. Hingga hidup selalu mengombak, melandai datang dan pergi menyentuh pantai, pasang surut dalam gelombang mengambang, tak berkembang di perjalanan, tak pernah berlabuh, bahkan tak memiliki pelabuhan, sebab dirinya sekedar bagian dari mimpi, dan telah mati, mati yang sebenarnya mati, sebelum ajal menyudahi, tinggalkan tempat semayam diri.

* GUMAM : SANG BAYANG *
Ambarawa, 27 Maret 2013

 
21 Komentar

Ditulis oleh pada 27 Maret 2013 in Gumam

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

21 responses to “GUMAMKU TANPA SEKAT KETIKA MALAM BERJINGKAT

  1. Anggara Jenar

    12 Februari 2016 at 18:20

    salam dari Purworejo😀

     
  2. sarip2hamid

    28 Maret 2013 at 08:35

    bener yg baca ampe ter engah engah saking penasaran gk kelar-kelar😀
    panjang bnaget puisinya, tapi suka untaian katanya. Nikmat untuk diresapi🙂

     
    • SanG BaYAnG

      31 Maret 2013 at 01:36

      He hehe,,m sesekali saja Mas.. dan ini masih belum seberapa panjang kq..:mrgreen:

      Terimakasih atas singgahnya Mas..🙂

       
  3. Fransiska Ambar Kristyani

    27 Maret 2013 at 23:27

    Wah, yang membaca se semangat yang membuat sampai terengah engah mendekat sekarat semoga tak bersanding bejat. Kopi pahit enak dirasa enak diseret ke puisi Blog Sang Bayang yang luar biasa hebat.Salam dalam karya

     
    • SanG BaYAnG

      28 Maret 2013 at 01:39

      Eng..ing..eng.., ada tamu agung euy..xixixixix..:mrgreen:

       
  4. zuhri ma'arif

    27 Maret 2013 at 22:51

    anak sastra kah boz?

     
    • SanG BaYAnG

      28 Maret 2013 at 01:38

      Saya hanyalah seorang kuli yang mengabdi pada karya seni dan tidak pernah sekolah sastra.

      Terimakasih atas apresiasi dan singgahnya saudaraku.
      Salam santun dan takzimku selalu untukmu..🙂

       
  5. sudutpikiran

    27 Maret 2013 at 13:54

    wow, bahasanya keren abis. kerennya engga abis-abis. salam kenal….

     
    • SanG BaYAnG

      28 Maret 2013 at 01:35

      Terimakasih banyak atas apresiasinya pada gumam racauan ini Mas.

      Salam santun dan takzimku selalu untukmu saudaraku..🙂

       
  6. Kang Sastro

    27 Maret 2013 at 09:05

    sebab kutahu mimpi itu sendiri bagian dari hidup, maka mimpilah yang besar biar menjadi orang besar, atau tidak untuk menjemput sang ajal. dan bagaimana seandainya ajal itu bagian dari mimpi. atau mimpi itu sendiri bagian dari ajal. he he he … hebatnya tulisan ini tentu mampu mempertahankan karakter puitiknya. sugeng makaryo Pakdhe… matur nuwun tag ipun

     
    • SanG BaYAnG

      28 Maret 2013 at 01:33

      Hehehe.., setara klimaks yang selalu tertangkap dan tak pernah mampu berpaling dari tatapan saudaraku di Purworejo yang sudah lama tak jumpa rupanya kian tambah peka terhadap segala hal.

      Sami-sami Pak.., matur sembah nuwun apresiasinipun. sugeng makarya ugi Pak..🙂

       
  7. Ika Koentjoro

    27 Maret 2013 at 05:13

    Waah, bagus banget. Baru baca puisi sepanjang ini.

    Malam beranjak pergi…dan sang fajarpun datang🙂

     
    • SanG BaYAnG

      27 Maret 2013 at 05:18

      Sebenarnya ini hanya gumam (racauan) menjelang pagi saja kq Mbak.

      Terimakasih atas apresiasinya Mbak Ika..
      Jam segini kq masih terjaga.. *HEBAT*:mrgreen:

       
      • Ika Koentjoro

        27 Maret 2013 at 05:20

        Yah begitulah, namanya wanita harus bangun pagi2😉

         
        • SanG BaYAnG

          27 Maret 2013 at 05:26

          Wah..hebat. Salut..buanget.🙂

          Andai separuh wanita penghuni bumi ini seperti Mbak Ika, dunia pasti akan sangat lebih indah lagi.😉

          Selamat pagi Mbak ika, semoga sukses selalu untuk Mbak..

           

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: