RSS

MENCARI JALAN SUFI DENGAN PUISI (Bagian 1)

19 Mei

MENCARI JALAN SUFI DENGAN PUISI
Oleh : Sang Bayang

PEMBUKA

Dengan menggunakan medium bahasa, sastra membangun ‘dunianya sendiri’, membangun realitanya sendiri yang otonom. Terlebih dalam genre puisi. Penyair memunculkan empatinya atas berbagai persoalan realitas, bahkan persoalan kejiwaan yang sangat personal dengan formulasi pengucapan khas menggunakan imaji-imaji tertentu yang sanggup memunculkan pembayangan empatif pula dalam diri pembaca, karena penggunaan bahasa dalam puisi sangat personal, dalam arti setiap penyair memiliki (mempunyai) pengucapan estetis bahasa khas yang berbeda satu sama lain yang menjadi karakteristik pembeda dengan yang lain.

Untuk membangun ‘dunianya sendiri’, penyair menggungkapkanya dengan bahasa yang khas, estetis, penuh imaji. Dan untuk meraih pencapaian estetis, penyair memanfaatkan efek rima, aliteratif, asonatif, konotatif dan simbolik. Pemanfaatan ini menjadikan sastra, juga puisi, memiliki tiga sifat, yaitu framing (penciptaan kerangka seni), disinterested contemplation (kontemplasi objektif), dan aesthetic (jarak estetis).

Salah satu bentuk penciptaan kerangka seni dalam pemakaian bahasa ini, memasukan pemilihan kata berada di antaranya. Karena begitu pentingnya pemanfaatan bahasa ini, seringkali bahasa disebut sebagai bahan mentah sastrawan (ibid.217). Sedangkan untuk memahami sebuah karya sastra pembaca harus memahami tiga kode, yaitu kode bahasa, kode sastra, dan kode budaya.

Berawal dari sini, bahasa sastra acapkali disinyalir banyak orang, memiliki ciri tersendiri yang berbeda dengan bahasa lain, seperti yang dikemukakan oleh Rene Wellek dan Austin Warren tentang bahasa sastra yang mengandung unsur emotif bersifat konotatif (bahasa sastra bertolak belakang dengan bahasa non sastra khususnya bahasa ilmiah yang bersifat denotative). Sehingga sifat bahasa yang konotatif ini menjadikan bahasa sastra amat ambigu dan homonimitas. ( Tjahjono Widarmanto)

MENGURAI FISIK PUISI “YAHU GAUNG”

Senjata semua penyair adalah kata. Melalui kata, bahasa dieksploitasi sedemikian rupa hanya untuk membangun estetika sekaligus membangun makna dan menyampaikan nilai-nilai, sehingga puisi tak mungkin diceraikan dari kata, sebab puisi adalah kata itu sendiri. Namun, kita juga tidak bisa memungkiri jika tak semua penyair memandang kata sebagai media menyampaikan makna, seperti halnya sifat-sifat puisi ‘mantera’ modern yang tidak mementingkan bait, larik, dan aspek tipografi lain, sebab ia hanya menonjolkan bunyi, bahkan tidak mementingkan isi atau makna dalam gaungnya, dalam arti ia lebih menonjolkan irama. Dan irama yang dibentuk dari pengulangan-pengulangan kata atau bunyi yang ritmis ini diharapkan mampu menimbulkan kekuatan yang semakin kuat apabila diapresiasikan/diucapkan makin kuat akan semakin besar pula tenaga yang ditimbulkan.

Seperti halnya jalur puisi yang dipilih pada “YAHU GAUNG”, secara keseluruhan tidak mengandalkan makna otentik secara utuh tubuh puisi yang lazim berdasarkan bentuk fisik dan bathiniahnya. Sebab diluar makna dari puisi ini, sengaja mengutamakan rima yang menusuk dengan tempo cepat, lugas dan keras dari bangunan anasir bunyi yang dioptimalkan pada puisi

YAHU GAUNG

gaung-gaung menggaung-gaung, menggaung-gaung gaung dengung, gaung puja, gaung puji, menggaung jiwa, penuh tanah, penuh darah, mengalir arah, nadi bergulir, raga menyingkir, singkir angkara, mati diri, lebur diri, nafsu mati, ditelan kalam–ayat tak musnah diwariskan

yahua yahu hua yahu-yahua yahu hua yahu, dengar telinga, lahir kata, pudar makna, lain rasa, jiwa raga, ruh hakikat, tuhan tertaut, semua larut, angan melaut, kehendak hanyut, tenggelam sunyi, dunia sepi, takzim dalam dekap kuasa langit membumi

*Sang Bayang*
Ambarawa, 02 : 46 – 08.02.2013

MENYELAMI JUDUL DENGAN SEDERHANA

“YAHU GAUNG” dilihat dari susunan bait yang tersusun mengapa tidak “GAUNG YAHU”, ini memang sebuah kesengajaan yang dilakukan penulis dengan pola terbalik untuk menunjukan, jika apa yang didengar seseorang tidaklah semua benar pada hakikat yang terucap, dan pola terbalik ini disebut dengan istilah ‘sung sang’.

Pilihan judul “YAHU GAUNG” yang menjadi wakil dari keseluruhan isi, diharapkan mampu menempatkanya pada susunan dua buah bait yang akan tetap berkesinambungan, sehingga tidak memudarkan dalam pencarian arah ketika penulis mengajak pembaca pada lingkungan yang menghentak dengan sentakan-sentakan keseluruhan nadanya.

“Yahu” : bukan kata sesungguhnya, namun hanya sebuah dengung kata yang terdengar oleh telinga karena diucapkan dengan cepat dan terus menerus, serupa “la illaha ilallah” ketika diucapkan tanpa henti, selintas yang terdengar hanyalah ‘la illah..’, ‘illah-illah-illah..’, ‘ lha lha lha..’ atau sekedar “hu hu hu..”. Begitupun kata “Ya Allahu” atau “Allahu” yang terucap lisan seolah menjadi “yahu, hua, yahua atau yahu”, namun pada hakikat shire (bathin) yang mengucapkan (melafadzkan) tidak lah demikian adanya.

Gaung : persamaan kata dari gema. Yah. itulah gema. Gema yang terus bergema, menggema, dan bergema, hingga merasuki setiap jengkal lekukan raga mulai dari “bulu, kulit, otot, darah, daging, tulang, sunsum / jantung, maras, hati, usus, waduk, peh, purus / mubah-musek” dan lain sebagainya, hingga mencapai pada titik penyatuan 19 (sembilan belas) unsur raga manusia yang disempurnakan oleh indera serba guna bagi manusia dalam 24 (duapuluh empat) wujud khak penggalan raga, seperti keberadaannya raga yang digambarkan oleh penulis dalam puisinya yang berjudul “Sebatang Rokok”

SEBATANG ROKOK

Tembakau hanyalah daun
cengkeh sesunting bunga tak mekar
Kertas-kertas sampah berserakan
tercecer satu nama–pecahan tak berarti
sepasang tangan satukan segelintir jasad
dalam wujud bayang kehidupan

Sebatang rokok ragaku mati
sebab hidup jilatan api
menyala sepanas bara dan abu kematian
kepulan-kepulan asap
bukti hidup tembakau dan cengkeh
dipelintir sesobek kertas

Api dan bara adalah nyala
ketika segumpal asap melayang moksa
Betapa hebat kuberi nikmat kepulan asap
terhisap di antara manusia-manusia
yang menjadi raja segala titah
berbekal indra serbaguna

Pun aku hanya sebatang rokok
Cepat habis dihisap waktu
melewati nyala sebuah kehidupan
berakhir menjadi puntung-puntung
lebur mengabu–di peti tanah liat mini

Dari sanalah, awal sirnaku
sebatang rokok

Ambarawa, Agustus 2012

>>>BERSAMBUNG KE BAGIAN 2

 
14 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Mei 2013 in Selayang Pandang, Sudut Pandang

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

14 responses to “MENCARI JALAN SUFI DENGAN PUISI (Bagian 1)

  1. serpihanimaji

    9 Februari 2014 at 23:35

    menyimak dan belajar…🙂

     
    • SanG BaYAnG

      10 Februari 2014 at 01:11

      Terima kasih, sahabat Serpihan Imaji. Salam hangat selalu..🙂

       
  2. fahda

    20 Desember 2013 at 15:35

    masss ,,,good job
    salam ku untukmu….

     
    • SanG BaYAnG

      22 Desember 2013 at 01:42

      Terima kasih, sahabat Fahda..

      Salam kembali, untukmu..

       
  3. cumakatakata

    31 Mei 2013 at 06:15

    makin joss..

    sugeng enjang Mas.

     
  4. MrFz

    30 Mei 2013 at 14:36

    mngingatkan saya pada Rumi, trims for share ^^

     
    • SanG BaYAnG

      15 Juni 2013 at 04:06

      Ya.., sampai saat ini memang Rumi lah yang masih dipercaya untuk mengarahkan syair ke arah sana hingga memunculkan istilah merumikan manusia..😀

       
  5. akhmad muhaimin azzet

    24 Mei 2013 at 09:59

    ternyata, dalem banget maknanya…

     
    • SanG BaYAnG

      26 Mei 2013 at 02:09

      Hehehe.., dalam tidaknya sebuah puisi hanya terletak sejauh mana kita membuka jalan dan berusaha untuk menggalinya. Semoga saja kita senantiasa diberi kedalam jiwa yang bisa mengungkapkan sebagian diantaranya..

      Salam santun selalu Mas..😀

       
  6. sunarno2010

    23 Mei 2013 at 12:00

    puisi-puisiku bisa termasuk ke dalam kategori puisi sufi nggak ya?

     
    • SanG BaYAnG

      26 Mei 2013 at 02:07

      Hehehe.., bukankah puisi memiliki makna begitu luas dan luwes Mas. Dan bisa jadi semua jadi bagian dari sebuah prosesnya..😀

      Salam santun selalu saudaraku

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: