RSS

MENCARI JALAN SUFI DENGAN PUISI (Bagian 2)

26 Mei

DASAR PENGULANGAN SEDERHANA

Pengulangan yang terjadi pada puisi (dilakukan) pada awal bait “gaung-gaung menggaung-gaung”, merupakan susunan subjek-predikat yang terdiri dari sekian banyak gaung yang “menggaung-gaung” pada setiap titik ruang yang diakibatkan oleh susunan “gaung dengung” khobar muqoddam dan mubtada’ muakhor yang terdiri dari jumplah idhofah (mudhof dan mudhof illaihi).

Dasar pengulangan sederhana ini juga seringkali terjadi terhadap puisi-puisi lain yang berada pada blog ini, namun sebagai penulis yang masih belajar menuangkan rasa dalam sebuah kata untuk temukan makna, penulis blog ini lebih sering mengakalinya dengan berbagai subyek dan predikat yang berkesinambungan sehingga yang terjadi tidak sekedar untuk memperkuat makna yang kadang lebih berkesan membosankan ketika diapresiasikan, sebab pengulangan itu terjadi hanya untuk memperjelas obyek yang ada pada sebuah puisi.

MEMBUKA BAIT

Bait I
gaung-gaung menggaung-gaung, menggaung-gaung gaung dengung, gaung puja, gaung puji, menggaung jiwa, penuh tanah, penuh darah, mengalir arah, nadi bergulir, raga menyingkir, singkir angkara, mati diri, lebur diri, nafsu mati, ditelan kalam ayat tak musnah diwariskan

Pada awal bait ini “gaung-gaung menggaung-gaung” merupakan susunan subjek-predikat yang terdiri dari sekian banyak gaung yang menggaung-gaung atau bergema pada setiap titik ruang yang diakibatkan oleh susunan “gaung dengung” khobar muqoddam dan mubtada’ muakhor yang terdiri dari jumplah idhofah (mudhof + mudhof illaihi).

Melangkah pada gaung selanjutnya

gaung puja, gaung puji, menggaung jiwa

“gaung puja” dan “gaung puji” berkesan lebih terlihat boros karena hampir memiliki persamaan/padanan makna, namun pada dasarnya puja dan puji adalah dua buah kata yang memiliki fungsi berbeda. Puja ditujukan untuk sesembahan serupa Tuhan, setan atau junjungan lain yang diagung-agungkan, namun dalam puisi ini, penulis menujukanya kepada Tuhan dimana semua puja yang menggema ditujukan secara tumpah ruah pada sebuah pengakuan akan keagungan. Sedang gaung puji, ditujukan pada diri sendiri yang menguasai pribadi masing-masing pembaca (pengapresiasi) hingga menimbulkan gaungan yang menggema pada setiap jiwa yang turut menggaung dalam puisi ini dilukiskan dengan kata “menggaung jiwa” hingga memenuhi lapisan dasar bumi manusia itu sendiri yang mengarah pada pengendalian diri atas semua nafsu yang mampu tersingkirkan atas kehendak nurani (matinya segala rasa), sehingga yang terjadi seolah-olah diri telah mati, sebab lebur dalam khak seiring matinya nafsu itu sendiri yang digambarkan pada akhir bait pertama, dan semua itu dipelajari dari berbagai ayat dan kitab-kitab yang tetap abadi dijadikan sebagai pedoman (ajaran) bagi semua umat beragama.

Bait II
yahua yahu hua yahu-yahua yahu hua yahu, dengar telinga, lahir kata, pudar makna, lain rasa, jiwa raga, ruh hakikat, tuhan tertaut, semua larut, angan melaut, kehendak hanyut, tenggelam sunyi, dunia sepi, takzim dalam dekap kuasa langit membumi

Pada awal bait kedua, disanalah anasir bunyi diletakan berulang-ulang, sebab bunyi-bunyian pada gambaran kata yang tertera merupakan kata yang terdengar oleh telinga ketika sekian banyak kata itu lahir melalui bibir dan seolah kata yang terucap hanyalah gurauan, bahkan terkesan konyol bila kita hanya sepintas mendengar kemudian menilainya. Namun itulah kenyataan yang kita dapati ketika bunyi telah merubah segala sudut pandang bagi siapapun yang telah salah mendengar, hingga memudarkan semua makna. Namun lain halnya apa yang dimaksud oleh pembaca yang senantiasa melantunkan, seperti yang telah dijelakan dalam puisi ini dengan kata “lain rasa, lain raga” sebab ketika mereka mengucapkannya justru telah menemukan hakikat ruh “ruh hakikat” ketika semua yang ada dalam diri telah bertautan dengan Tuhan, hingga melarutkan segala yang ada oleh cinta hingga tak ada suasana lain didalam ritualnya selain sunyi, hening, yang menunduk pada kekuasaan langit dan bumi atas kuasa Illahi seperti yang diungkapkan dengan kalimat

“tuhan tertaut, semua larut, angan melaut, kehendak hanyut, tenggelam sunyi, dunia sepi, takzim dalam dekap kuasa langit membumi”

(Bersambung)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Mei 2013 in Sudut Pandang

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: