RSS

SASTRA LANGIT DAN SASTRA BUMI MENEMBUS DIMENSI

20 Jun

SASTRA LANGIT DAN SASTRA BUMI MENEMBUS DIMENSI

Sejak media online semakin pesat berkembang, tak dipungkiri jika perkembangan sastra/dunia penulisan turut semakin pesat pula berkembang. Dengan kemudahan media ini secara tidak langsung memberikan peluang bagi siapapun untuk turut berperan dalam memeriahkan dunia penulisan berdasarkan/sesuai dengan pemahaman, pengalaman, kemampuan dan tingkat kreatifitas masing-masing pengguna, dan ini dapat dibuktikan oleh bermunculannya penulis-penulis muda yang kehadirannya dapat diperhitungkan namun masih luput dari perhatian ‘pengkaji sastra’, karena luasnya media yang tidak mudah dijangkau menyebabkan keberadaan mereka tidak mudah pula untuk diketahui keberadaannya. Meski masih sebatas menulis dalam sebuah blog (situs web), group atau komunitas di berbagai jejaring sosial, sudah selayaknya jika keberadaan mereka diperhitungkan dan mendapat perhatian atas peran aktifnya di dunia kesusastraan.

Dengan adanya kemudahan-kemudahannya ini tidak menutup kemungkinan jika akan melahirkan sekian banyak penulis yang memiliki keragaman latar belakang dengan konteks penulisan yang beragam pula, sebab di dunia maya siapapun dapat menulis sekehendak hatinya tanpa harus memenuhi kaidah baku dalam kesusastraa dan ini juga memunculkan perbedaan-perbedaan yang lazim disebut dengan sebuah istilah ‘sastra langit dan bumi’ seperti yang pernah dikemukaan oleh seorang Agus Pribadi melalui link yang berikan oleh sahabat saya dari Riau. Istilah yang dikenalkan oleh Agus Pribadi pada tanggal 7 Desember 2011 ini mengacu pada perkembangan sastra yang dilatar belakangi oleh latar belakang orang-orang yang bergelut di dunia sastra/penulisan itu sendiri. Ulasan ini boleh dibilang tidak subjektif (oleh penulisnya) atau tidak berdasarkan pengamatan/survei kajian ilmiah dari media online yang kian berkembang dan menunjukan perannya dalam perkembangan sastra yang juga menimbulkan kekawatiran bagi beberapa kalangan dengan munculnya golongan yang seolah telah membangun sekat-sekat dalam dunia kesusastraan itu sendiri.

Demikianlah pernyataan saudara Agus Pribadi tentang “Sastra Langit Dan Bumi” pada sebuah blog pribadi dan salah satu media online yang cukup terkenal di kalangan penggunanya :

Sastra Langit
Satra Langit yang dimaksud penulis adalah sebuah karya fiksi, bisa novel, cerpen, atau puisi yang ditulis berdasarkan kaidah baku penulisan sastra yang telah ada dan telah mapan. Hanya mereka yang mempunyai basic akademik sastra yang bisa memahaminya. Sastra langit mensyaratkan keindahan literasi dan kedalaman makna yang tinggi. Sastra jenis ini juga otoritatif dan rijid. Tulisan fiksi yang telah ditulispun tidak serta merta disebut sebagai sastra langit, bahkan sebaliknya dapat dijuluki sastra instan, tulisan mentah, tulisan semena-mena, dan julukan-julukan merendahkan lainnya.

Sastra Bumi
Sastra bumi yang dimaksud adalah sebuah tulisan fiksi yang ditulis tidak berdasarkan kaidah baku penulisan satra yang telah ada dan mapan. Tulisan jenis ini dapat ditulis oleh siapapun dan kapanpun, baik dengan keindahan literasi maupun dengan bahasa denotatif sekalipun. Sastrawan dan penulis terkenal sampai orang pinggiranlah yang menghasilkan tulisan ini. Istilahnya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Siapapun tak perlu repot meraih gelar akademik untuk menulis sastra bumi, sebab siapapun bisa dan boleh menulis fiksi, tanpa adanya larangan dan yang menggugat. Memang tak dipungkiri, karena penulisnya dari berbagai kalangan, maka tulisan yang dihasilkan pun beragam. Ada yang masih proses, sudah berkualitas yang tidak kalah dengan sastra langit. Karakteristik sastra bumi ini tediri dari zaman yang melingkupinya dewasa ini. Dimana kecanggihan dan kemudahan teknologi informasi menjadi sesuatu yang nyata. Hal inilah yang turut mewarnai tulisan yang dihasilkan. Sastra bumi lebih cenderung menceritakan zaman sekarang karena merekalah anak zamannya, yaitu zaman sekarang ini. Ringkasnya, sastra bumi tidak mensyaratkan apa-apa selain menulis itu sendiri. (Agus Pribadi)

Dari ulasan di atas kita dapat melihat dua perbedaan yang sungguh nyata dan tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Dua perbedaan ini secara tidak langsung telah menggolongkan dua dimensi kepenulisan yang bersekat, namun disini dapat kita lihat pula bagaimana kekawatiran seorang Agus Pribadi yang melihat hadirnya gejala sekat yang seolah telah menciptakan suatu golongan tertentu dalam dunia penulisan. Dan disini saya (sebagai penikmat puisi) lebih suka menyebutnya dengan istilah “Puisi hanya terlihat bagus kemudian di sukai apabila kita mengenal dan saling kenal”.

Tulisan ini bukan berarti sependapat atau mengiyakan begitu saja dua pernyataan di atas, namun lebih mengacu pada fenomena ranah maya dan nyata yang semakin memudahkan penggunannya untuk menembus dimensi tanpa sekat pembatas serta terbebas dari segala macam ketentuan dasar/kaidah penulisan. Ketika menuliskan semua ini, penulis lebih mengedepanan sebuah proses yang harus dilalui oleh masing-masing penulis yang suatu saat nanti pasti akan menemukan jalan kemapanan berdasarkan kaidah yang diberlakukan, serta akan menemukan bekal penulisan secara bertahap untuk bisa menggunakan tulisan sebagai sebuah media (tertentu) dengan lebih tepat dan terarah dalam berkarya, sebab walau bagaimanapun juga, seorang penulis harus memiliki berbagai bekal penulisan itu sendiri tanpa harus mengabaikan kadiah-kaidah baku yang bertindak sekehendak hati untuk mampu menembus segala dimensi.

*Sang Bayang | N Fatu A.G*
(Ngrambe – Ngawi, 20 Juni 2013)

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada 20 Juni 2013 in Selayang Pandang, Sudut Pandang

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

7 responses to “SASTRA LANGIT DAN SASTRA BUMI MENEMBUS DIMENSI

  1. abi_gilang

    20 Juni 2013 at 17:17

    Baru denger nih penamaan “langit” dan “bumi”, memang benar dengan adanya media sosial di dunia maya siapapun bisa menulis (yang menurut dirinya disebut karya sastra).

     
    • SanG BaYAnG

      1 Juli 2013 at 01:15

      Yeah.., begitulah adanya Mas. Semoga saja adanya semua itu atau apapun nama dan penamaannya, tidak menyurutkan seseorang untuk tetap berkarya

       
  2. Ie

    20 Juni 2013 at 15:20

    artikelnya keren…
    berarti saya golongan sastra bumi ya om…
    ga ngerti apa-apa… asal nulis aja…
    😀 salam

     
    • SanG BaYAnG

      1 Juli 2013 at 01:06

      Hmm.., apapun bentuknya semoga saja tetep semangat dalam berkarya ya sahabat. Salam santun dan takzimku selalu..🙂

       
      • Ie

        1 Juli 2013 at 10:37

        salam hormat suhu…

        #tangan telangkup di dada, bungkukkan badan..🙂

         
        • SanG BaYAnG

          8 Juli 2013 at 01:41

          Salam santun selalu tanpa mengurangi rasa hormat pada sahabat..Hihihihihi..:mrgreen:

           

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: