RSS

MENGGURIS RINDU MELUKIS BATU

01 Jul

MENGGURIS RINDU MELUKIS BATU

Pernah kupenggal sulur mimpi yang menjulur di balik kalbu membeku. Membunuh semua kehendak yang menempel pada batang-batang liar, ketika daun berguguran dimana tak teramalkan menggeletak. Diam. Biarkan rebah sebelum kau sapu mimpi di pelataran dadamu.

Angin, kubiarkan membawa diri terbang di antara lamunan. Menyusuri tikungan mimpi yang menukik tajam berbalik arah. Tinggalkan sekeping waktu yang gelisah. Berserakan dalam setumpuk asa sekian lama mengabu di antara seruan detak jam dan jantung, mengeja perubahan desah nafas–wajahku wajahmu yang bercermin di sana.

Hujan siang ini, kabarkan sebutir biji yang tak lagi tabah, diam menunggu senja untuk tepati janji sendiri. Air membuat kita basah melukis tanah, dengan kelembutan jiwa yang merajai, agar jelas jika hidup tidaklah kaku, kecuali kita gambar dengan tergesa pada sebuah batu.

(Ambarawa, 14 : 0 – 13.02.2013)

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 1 Juli 2013 in Prosa, Puisi

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

2 responses to “MENGGURIS RINDU MELUKIS BATU

  1. mydandelionsave

    2 September 2013 at 11:38

    Puisinya bagus
    sukses slalu bwt adminya…

     
    • SanG BaYAnG

      9 September 2013 at 02:31

      Terima kasih banyak atas apresiasinya sahabat.

      Sukses selalu pula untukmu sahabat.

      salam santun dan taklimku selalu untukmu.

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: