RSS

Menulis Dengan Santai

27 Sep

Menulis Dengan Santai
Oleh : Sang Bayang

Sampai hari ini, aku masih menulis di sini. Meluangkan waktu sejenak untuk berpikir. Merenungkan banyak hal, tentang sebuah perjalanan yang kulewati ketika memilah jalan yang kadang harus bersebrangan dengan banyak orang, baik dalam gagasan, ideologi ataupun style menulis.

Sering orang berkata, jika menulis harus begini atau begitu dan harus berdasarkan teori yang tertulis dalam banyak esai ini dan itu. Sementara esai sendiri, lahir berdasarkan sudut padang penulisnya. Lantas pertanyaannya, tidak layakkah penulis lain atau orang yang suka menulis memiliki sudut pandang berbeda? Jika benar demikian, apa gunanya kita menuliskan banyak hal dengan meluangkan waktu dan sebagian tenaga kita untuk berpikir tetang sebuah keadaan?

Layakkah keharusan seperti ini digembar-gemborkan? Padahal, ketika situasi ini terjadi, ia hanya merupakan sebuah penyeragaman yang tidak menunjukan keseimbangan, sebab ia hanya sebuah kefasisan, sedang sastra memiliki ruang lebih luas yang tidak harus dipaksakan serupa rumus-rumus matematika, agar mampu memberikan reaksi terhadap sesuatu yang ada berdasarkan hipotesis ketika membuktikan apa yang ada melalui sebuah tulisan.

Kadang aku tersenyum ketika melihat seseorang mendikte orang lain dengan sesuatu yang ia yakini, sedangkan kita sama-sama tahu jika sebuah teori yang cocok dengan sebuah karya, belum tentu cocok dengan karya yang lainnya. Dari sinilah peran pluralisme akan menjawabnya bila kita mulai bisa mengerti banyak hal yang belum kita pahami.

Untunglah, sampai saat ini aku masih dianugerahi kekuatan untuk senantiasa menuliskan banyak hal dan merangkum apapun sebatas yang aku mampu, karena bagiku; dalam karya tulislah sebuah kehidupan diseleksi dan disusun dalam suatu kesatuan yang organis untuk menyatakan makna dan sudut pandang baru. Dengan susunannya ia selalu berusaha untuk melahirkan atau menyarankan sesuatu yang berarti di masa lalu, namun baik untuk saat ini ataupun untuk kehidupan yang akan datang. Sehingga ia akan mencerminkan suatu pemikiran dalam bentuk sebuah tulisan.

Sedangkan perbedaan dalam menulis, pada dasarnya hanyalah pembawaan yang dibangun berdasarkan sifat, pengalaman, serta pengetahuan yang menentukan sikap pemikiran mandiri dan orisinal yang melatar belakangi lahirnya sebuah karya. Namun kita juga tak bisa memungkiri, jika sebuah karya tulis merupakan bangunan prinsip-prinsip kontruksi yang memiliki struktur dan syarat-syarat yang harus dipenuhi agar bisa disebut sebagai Karya Tulis.

Memang membingungkan, tapi itu hanya terjadi apabila kita terlalu terobsesi oleh banyak hal yang kita temui. Dan jalan keluarnya tak lain hanyalah menulis dengan santai, sesuai dengan yang kita pahami tentang apa yang kita tuliskan dan tetang tulisan itu sendiri. Setidaknya itu bagiku. Mungkin lain bagimu.

*Sarirejo, 27 September 2013*

Menulis Dengan Santai

Menulis Dengan Santai

(Sumber Gambarย http://4.bp.blogspot.com/_fnIHx6KWShg/TA4_6OubcHI/AAAAAAAAAC8/O20agNeJX_k/s1600/26-HMI_belajar_menulis.jpg)

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada 27 September 2013 in Selayang Pandang, Sudut Pandang

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

8 responses to “Menulis Dengan Santai

  1. cahayadejavu

    23 Oktober 2013 at 03:16

    .begitulah adanya,
    mungkin sebagai kebutuhan pendidikan sastra saja,
    makanya harus begini, dan begitu…dan lain sebagainya

    aku setuju banget penuturan kamu SanG BayanG,
    karena aku juga tak pernah belajar tentang ilmu sastra,
    tetapi selalu menulis dengan santai..
    disaat sebuah ide muncul,
    seperti berada ditengah sawah,
    dan mulai memacul,
    tak akan tumbuh padi,
    kalau tanah masih penuh jerami,

    menulislah sesuai iringan hati,
    salam,

     
    • SanG BaYAnG

      28 Oktober 2013 at 02:24

      Ya, mungkin begitulah, Mbak. Namun bagaimanapun jua, kita tak bisa berpaling dari keberadaan para penikmat sastra yang akan selalu memberikan reaksi terhadap sesuatu yang telah ada, kecuali menghendaki kematian bagi sastra itu sendiri.๐Ÿ™‚

      Benar sekali, Mbak. Sayapun sepakat, dengan santai, tentunya sepadan dengan nurani ketika menyelaraskan rasa di dalam sebuah kata.

       
  2. musonnef

    16 Oktober 2013 at 10:44

    Setuju, Cak!๐Ÿ™‚

     
    • SanG BaYAnG

      17 Oktober 2013 at 01:24

      Terima kasih, Mas Mus..๐Ÿ™‚

      Salam santun selalu..

       
  3. yusufrina

    10 Oktober 2013 at 10:17

    bener banget kang.. kadang orang terlalu sibuk mengomentari tulisan. kritik yang malah terkadang menjatuhkan bukan membangun membuat proses menulis jadi rumit, terlihat tidak santai karena harus menyesuaikan dengan pikiran orang lain yang mengganggap dirinya paling pintar, paling bisa menulis. dan setelahnya penulis kehilangan ritme tulisannya sendiri. mati gaya , tidak produktif.terima kasih untuk diingatkan .good post kang !!

     
    • SanG BaYAnG

      12 Oktober 2013 at 02:04

      Sama-sama Mbak Rina. Terima kasih kembali karena telah sudi membaca coretan sederhana ini. Semoga kita senantiasa bisa menentukan dan mimilih jalan terbaik bagi arah tulisan kita dalam sebuah karya ya Mbak Rina.๐Ÿ™‚

       
  4. abi_gilang

    29 September 2013 at 15:52

    Tulisan santai yang memberi banyak manfaat bagi pembacanya nih, kalo akang menulis dengan serius aja belum tentu disukai orang lain. Terima kasih telah memberi motivasi dalam menulis.

     
    • SanG BaYAnG

      30 September 2013 at 02:22

      Sama-sama Mas Abi_gilang. Terima kasih kembali atas kesudiannya membaca coretan sederhana dan asal-asalan ini. Apapun yang terjadi, semoga saja kita akan senantiasa menuliskan sesuatu sebagai media pencetusan jiwa.

      Salam santun dan takzim selalu sahabat..๐Ÿ™‚

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: