RSS

Gumam Di Bawah Lampu | Sang Bayang

28 Okt

Gumam Di Bawah Lampu
:gelandangan dan pengemis

Ringkih hati enggan mati, memburu sesuap nasi ke hulu. Disergap lapar dan derap sepatu aparat. Engkau berlari menelusur selokan, paradigma kotor di atas meja kantor. Berhias setumpuk lembaran kertas, lebih lebar dari langkahmu yang menggelandang tangis. Menangis di kolong kolong jembatan, melihat senyum menyeringai di atas kepala.

Engkau memburu. Engkau diburu. Saling buru. Siapa diburu? Siapa memburu? Tak jelas! Mata waswasmu mengawasi langkah yang katanya tegas namun melindas. Menenggelamkan semua cita-cita. Menguruk mimpi di bawah lampu merah, sepanjang jalan yang ditombak keadaan. Tak lagi mampu mengelak, selain menengadahkan tangan di trotoar jalan, arah pulang-pergimu nanti setelah hari berganti cakrawala senyap menyelimuti dalam gemuruh rindu bahagiamu.

Wahai, bunga bunga jalan yang rontok tersapu angin buritan ekuivalen. Terlempar dari kelayakan hak, atas sebuah tempat, atas sebuah kebebasan, di bumi yang tak lagi mampu dimiliki, ketika sebuah kebebasan dibonsai, Ketika mata–lipas anak anak memandang sungai kian keruh, penuh sampah mengejutkan yang harus dipungut, menjadi perhiasan negeri–totaliter yang cantik, cerdik berdamai dengan keadaan. Menyampingkan hak anak-anak. Mengalihkan perhatian pada taman taman di tengah kota. Menyantap nikmat di antara rakyat yang melarat. Menindihkan dalil kemanusiaan di atas manusia. Sehebat akal satu nasib tak tercekal. Sehebat negeri yang konon gagah berani, dihuni rakyat yang saling gagah menggagahi.

Inilah negeriku, negeri bayangan. Negeri yang tak pernah mampu direngkuh akal. Negeri yang tak pernah mampu dimiliki. Negeri yang selalu ingin menang sendiri.

Lantas, bagaimana aku harus membelai? Jika kebajikan dan kebijakan, bukan kepadaku berpihak? Sekali lagi kutanya “haruskah kelak, anak-anak memanggul matahari dari segala sisi?”. Pupuslah sudah, jika tanah surga tinggal sebuah cerita.

Dan di sini, dengan puisi, aku berharap :suara kemanusiaan mampu menabuh genderang. Berirama menusuk telinga, menembus dimensi ruang kosong di balik tengkorak kepala yang tak lagi berlari dari selembar dada, ketika menunjuk satu tujuan yang sengaja dibidikan, tepat di jantung tanah nurani.

Dengan kerendahan hati puisi, ditopang syair yang mengalir, kutulis ini untukmu tuan tuan di istana mulia, pemilik gedung agung alam pikir yang tak pandir, sambil berharap, ada tangis terdengar dari sini!

(Sarirejo-Ngrambe, 28 Oktober 2013)

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 28 Oktober 2013 in Gumam

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

2 responses to “Gumam Di Bawah Lampu | Sang Bayang

  1. abi_gilang

    28 Oktober 2013 at 10:29

    Salam untuk penduduk negeri bayangan.

     
    • SanG BaYAnG

      29 Oktober 2013 at 01:36

      Salam kembali untuk berbagai kecanggihan teknologinya. Terima kasih kembali, Mas..🙂

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: