RSS

Pertikaian Tidak Seimbang | Kumpulan Cerpen Sang Bayang

03 Nov

Pertikaian Tidak Seimbang
Oleh : Sang Bayang

Gema sirene di kejauahan, mengejutkan semua orang. Serentak mereka berlarian. Mencari tempat sembunyi, berusaha lepas dari razia. Suaranya semakin dekat. Anggi dan dua sahabatnya, bertambah ketakutan. Tubuhnya menggigil. Wajahnya begitu cemas. Tidak ada yang mereka pikirkan, selain berlari lagi, jika persembunyiannya kepergok petugas.

“Akh, sial. Ternyata, ambulans.” Gerutu, seorang dari mereka. Ambulans itu sengaja membunyikan sirene, sebelum tiba di sebuah pertigaan yang rawan kecelakaan. Anggi tersenyum. Lega, setelah melihat mobil pengakut korban kecelakaan, baru saja melintas.

Lihatlah, cuma sebuah ambulans, sudah membuat nyalinya ciut. Tapi mereka tidak kapok. Mungkin, inilah yang dimaksud hidup penuh perjuangan. Hidup yang dituntut banyak hal, demi kalangsungan hidup, itu sendiri.

Aktifitas kembali normal. Jalanan mendadak wangi oleh deodoran yang mereka semprotkan ke tubuh. Senyum Anggi semakin manis, bahkan berani melebar dalam riak tawa, mengusir kesunyian di atas tanggul. Seorang pria bertubuh gempal mendatangi, seketika musnahlah senyuman itu. Anggi bergegas menghindar, tapi telat. Pria itu telah memegang tagan Anggi. Seperti rajawali mencengkeram mangsa, tangannya kuat. Tatapannya tajam.

“Heh, hendak kemana, kau?” tanya pria itu. Wajahnya yang sangar, membuat Anggi takut memandang. Bram begitu ditakuti banyak orang. Anggi tidak berani melawan. Bila itu ia lakukan, Bram tidak segan-segan memukulnya. Ia menunduk.

“Tidak kemana-mana, Bang,” jawabnya, dengan suara bergetar.

“Sudah, langsung saja. Mana jatahku!” Hardik pria itu, sambil menyentak tangan Anggi. Seperti biasa, itulah yang ia lakukan. Setiap hari, Anggi harus memberi setoran, bila masih ingin mangkal, di daerah itu.

“Sekarang belum ada, Bang. Saya, baru saja datang…” jawab Anggi, mengharap iba.

“Hei, kamu berani melawan ya!”

Bram, merebut tas kecil yang ada dalam pelukan Anggi. Anggi berusaha mempertahankan. Spontan, tendangan Bram melayang. Tali tas itu, putus. Anggi terhuyun ke belakang, tubuhnya membentur pagar, hampir jatuh ke sungai. Ia pasrah, tas kesayangan itu diacak-acak isinya. Raut mukanya pucat. Bram mengacungkan selembar uang sepuluh ribu.

“Ini apa?”

“Jangan, Bang. Itu untuk ongkos pulang nanti.”

“Tidak usah banyak alasan. Ayo, yang lainnya mana!”

Bram mendekat, kemudian menggerayangi tubuh Anggi dengan kasar. Anggi meronta, tapi Bram tidak peduli. Tangan kanannya menjambak rambut Anggi, sementara tangan kiri Bram, membungkam mulutnya.

“Kalau berani macam-macam. Aku bunuh, kamu!” ketus Bram, mengancam.

Anggi diam. Tubuhnya lemas, ia takut jika yang dikatakan Bram benar. Ia tidak ingin mati di atas tanggul, kemudian mayatnya dibuang begitu saja. Andai itu terjadi, bagaimana nasib adik-adiknya? Bram melepas tangannya. Anggi bersandar pada pagar pembatas. Ia membiarkan Bram, memperlakukan dirinya tidak manusiawi. Bram mengobok-obok semua sakunya.

“Jangan, Bang. Ampun…”

“Ampun-ampun. Ampun, matamu peak!”

Bram bertambah beringas. Tangannya semakin liar, menggerayangi tubuh Anggi. Beberapa orang yang melihat kejadian itu, hanya memandang. Mereka juga takut kepada Bram.

“Sudahlah, Bang. Jangan terlalu kasar begitu, kasihani dia,” sela Berta yang baru saja datang, berusaha melindungi sahabatnya.

“Heh, kamu mau kutampar, rupanya. Ingat ya, ini pelajaran buat kalian semua,” kata Bram, membentak. Ia menoleh ke arah Berta, juga orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia berdiri, setelah tidak menemukan apapun di saku Anggi. Bram menghampiri Berta.

“Jangan banyak bicara, mana setoranmu!” kata Bram, sekali lagi.

“Ini Bang.” Berta memberikan uang, dua puluh lima ribu. Bram tersenyum puas, kemudian melangkah pergi.

“Ingat, kejadian ini. Jika kalian, tidak ingin bernasib seperti dia,” kata Bram, sebelum pergi. Jarinya menunjuk ke arah Anggi.

Berta menghampiri Anggi yang masih terisak-isak. Ia memapah sahabatnya untuk berdiri. Berta membantu Anggi, membersihkan bajunya yang kotor dengan tisu.

“Bram memang keterlaluan. Lebih baik, kamu pulang saja, Nggi,” saran Berta pada Anggi. Ia kasihan, melihat sahabatnya.

“Tidak. Aku tidak mungkin pulang, tanpa membawa uang,” jawab Anggi, melas.

“Lihat dirimu. Apakah kamu akan melayani tamu dengan keadaan seperti itu?” kata Berta, meminta Anggi untuk mempertimbangkan sarannya.

Anggi bimbang. Benar kata Berta. Ia tidak mungkin melayani tamu dengan baju yang berlepotan. Dalam keadaan seperti itu, pasti tidak ada tamu yang mau berkencan denganya. Tetapi, bila ia pulang, besok adik-adiknya makan apa? Saat ini, tidak sepeser uangpun ia miliki. Hatinya menjerit, ia tidak kuasa menahan tangis. Air matanya, kembali mengalir, deras. Berta memeluknya, ia turut menangis. Tidak tega, melihat penderitaan sahabatnya.

“Nggi, pulanglah. Ini ada uang lima puluh ribu, buat ongkos naik bus. Sisanya, gunakanlah untuk keperluanmu besok,” kata Berta, meyakinkan Anggi. Ia tidak ingin, sahabatnya bersedih, apalagi sampai celaka.

“Terima kasih, Ta. Kau begitu baik.”

“Sudah, terimalah. Aku, memang tidak punya uang lebih untuk membantumu, selain itu. Maafkan, aku ya, Nggi.”

“Ta, ini sudah lebih dari cukup. Aku tidak tahu, bagaimana harus berterima kasih atas bantuamu, selama ini.”

“Sudah semestinya kita saling membantu. Lagian, apa yang kulakukan, belum sebanding dengan pengorbananmu. Aku masih ingat, ketika Bram menghajarku habis-habisan, tidak seorangpun membantu, kecuali kamu. Bahkan sampai sekarang, kamu masih dimusuhi Bram. Itu juga karena aku. Akulah yang seharusnya berterima kasih padamu. Aku bangga memiliki sahabat seperti kamu, Anggi.”

Berta bercerita banyak hal tentang masa lalu mereka. Berta tidak akan melupakan jasa-jasa Anggi. Andai saja Anggi tidak menolongnya, waktu itu. Ia pasti sudah tewas, ditikam belati oleh Bram. Bram memang sangat kejam, ia memperlakukan Berta dan teman-temannya semena-mena. Perangainya sangat buruk. Sikapnya kasar, sama sekali tidak mencerminkan diri sebagai seorang pelindung, seperti yang selalu diucapkan selama ini.

~***~

Malam ini, Anggi kembali ke tanggul. Ia nekad menjalani hidup di bawah tekanan Bram yang selalu mengancam. Ia takut kepada Bram, tapi tidak ada yang lebih ia takutkan, selain takut bila adik-adiknya kelaparan. Ia tidak pernah berharap menjadi pelacur, tapi tidak ada pilihan lain. Suatu hari, ia pernah menjadi pembantu. Namun nasib malang menimpanya. Majikan yang selalu ia hormati, malah memperkosanya. Menjadi pelayan tokopun dipecat, setelah pemiliknya tahu masa lalu Anggi. Sejak saat itu, tidak seorangpun sudi mempekerjakan Anggi. Ia terpaksa mengambil jalan pintas, semata-mata demi adik-adiknya.

Di tanggul, banyak anak-anak muda sedang nongkrong. Semua orang yang ada di lokasi tahu, jika mereka anak buah Bram. Mereka mabuk. Mereka nyanyi sambil berteriak-teriak. Tidak seorangpun berani mengusik. Bram datang. Mereka berhenti menyanyi dan langsung menuangkan arak untuk Bram.

“Bweh…, minuman apa ini?” teriak Bram, sambil menyemburkan minuman yang baru saja diteguknya, ke arah Dion.

“Arak, Bang. Maaf, saya tidak tahu, kalau abang tidak doyan,” jawab Dion, ketakutan.

“Berengsek. Kamu mau membunuh, aku!” Bram membentak. Tangannya, memegang erat leher baju Dion dan menariknya. Wajah Bram beradu muka dengan Dion yang semakin ketakutan.

“Ampun, Bang. Saya, benar-benar tidak tahu…” kata Dion, memohon ampun. Berharap, tidak kena pukulan dari Bram.

“Membeli minuman saja, kalian tidak mampu? Apa kalian belum narik setoran?”

“Belum, Bang. Kami tidak berani.”

“Sekarang, kau tariklah setoran itu. Kalau ada yang melawan, katakan, aku di sini!” perintah Bram, pongah.

Segerombolan anak muda itu langsung berdiri, melaksanakan perintah Bram. Tidak lama berselang, Bram mendengar keributan. Tidak jauh dari tempatnya duduk, ia melihat keributan dari jarak lima puluh meter. Ia berlari ke arah kerumunan. Orang-orang yang ada di lokasi keributan, langsung menyingkir seperti laut dibelah tongkat Nabi Musa.

“Ada apa ini?” Bram berteriak.

“Ini Bang. Perempuan ini, tidak mau memberi setoran,” kata Dion, mengadu.

Bram mendekati perempuan yang sedang diapit dua anak buahnya. Ia mengamati. Matanya yang tinggal sebelah, membuat samar pandangannya. Ia menyalakan korek. Bram terkejut, melihat perempuan yang dimaksud anak buahnya, ternyata adalah Anggi.

“Heh, kamu lagi rupanya. Tidak ada kapok-kapoknya, ya, kamu ini,” hardik Bram, sambil menampar keras-keras perempuan itu. Anggi meringis, menahan perih pada bibirnya. Ia menangis. Bram menamparnya berkali-kali. Kadang juga memukul. Kepalan tangannya, begitu berat menimpa wajah Anggi. Anggi merasakan, ada darah mengalir dari hidungnya. Ia tidak tahu harus bagaimana. Kedua tangannya masih dipegangi dua anak buah Bram. Anggi ditendang, ia terpental dan jatuh. Anak buah Bram dengan sigap membangunkan Anggi, membuatnya berdiri lagi. Bram terus memukuli, Anggi sudah tidak berdaya. Tiba-tiba, ‘PLAK’. Ada tangan lain yang menepis pukulan Bram. Tangkisan itu, langsung disusul pukulan keras, tepat di wajahnya. Bram sempoyongan ke belakang, kemudian jatuh. Ia berusaha berdiri. Pria di depannya, tidak memberi kesempatan Bram untuk menghindar atapun menyerang balik. Bram mencoba pasang kuda-kuda, namun terlambat. Pria itu, sudah lebih dulu menyambutnya dengan tedangan. Bram, terjungkal kembali. Sebelum ia jatuh menyentuh tanah, pria yang menjadi lawan berkelahinya, menyergap dengan tendangan yang sangat keras ke arah perut. Bram tersungkur, jatuh tengkurap dan tidak bergerak sama sekali. Melihat kejadian itu, semua anak buah Bram, berlari kocar-kacir. Orang-orang yang berkerumun di tempat itu, membubarkan diri. Pria itu, membopong Anggi dan membawanya pergi. Tidak seorangpun tahu, kemana perginya.

Keesokan harinya, banyak orang berkerumun di atas tanggul. Beberapa polisi, juga tampak di sana, mereka sedang memasang garis pembatas. Rupanya, Bram telah mati. Kepalanya hampir pecah, terbentur batu. Orang-orang tahu, jika itu adalah Bram. Tapi mereka selalu bungkam, ketika dimintai keterangan oleh polisi. Mereka tersenyum sinis, menyaksikan mayat Bram terkapar. Mereka bersyukur. Kematian Bram, membuat mereka lega. Teruma perempuan-perempuan yang selalu diperasnya, selama ini.

Sejak kejadian itu, Anggi tidak pernah terlihat lagi. Tanggul yang biasanya ramai, digunakan tempat lokalisasi, juga ikut sepi. Hanya tukang ojek yang masih bertahan di sana. Beberapa sahabat Anggi, pernah mendatangi rumah Anggi. Tapi rumah itu, kosong. Ia telah pindah, semua adik-adiknya, juga tidak ada. Berta berharap, Anggi baik-baik saja. Itulah yang selalu dilantunkan dalam setiap doanya. Walau ia tidak pernah mengetahui, Anggi dimanakah, saat ini?

*Kumpulan Cerpen Di Bawah Lampu | Sang Bayang*
(Ngrambe, 03 November 2013)

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 3 November 2013 in Cerpen

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

6 responses to “Pertikaian Tidak Seimbang | Kumpulan Cerpen Sang Bayang

  1. Gie

    3 Desember 2015 at 21:08

    Puisi dan cerpen dan esai sampean keren sekali. Meski sampai detik ini belum nemu, di manakah antologi Puisinya?

    Salam Hangat Mas SanG BaYang

     
    • SanG BaYAnG

      5 Januari 2016 at 03:20

      Terima kasih, Sahabat Gie..

      Salam hangat jua untukmu

       
  2. jhejhee

    22 November 2013 at 21:54

    kerennnn

     
    • SanG BaYAnG

      24 November 2013 at 02:07

      Terima kasih sahabat Jhejhe.. Salam santun dan tkalimku selalu..🙂

       
  3. akhmad muhaimin azzet

    14 November 2013 at 10:00

    Bram telah mati.
    Di manakah engkau, Anggi?

    Bagus sekali cerpennya.
    Sungguh.

     
    • SanG BaYAnG

      24 November 2013 at 02:01

      Begitulah keterbatasan dan sebuah pencarian yang bisa menjelma apapun.

      Terima kasih sahabat Akhmad Muhaimin Azzet. Salam santun dan takzimku selalu.

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: