RSS

Sastra Menjenuhkan Di Tengah Pesta

02 Jan

Sastra Menjenuhkan Di Tengah Pesta
Karya : Sang Bayang

Semua bilang bernama ‘Sastra’[1]. Kau, aku, dia, mereka, entah siapa lagi berkata “iya”. Sementara sastra yang sesungguhnya sedang mendengkur di dalam angan-angan. Menikmati wilayah kekuasaannya yang luas, mengartifisialkan keagungan-keagungan fatamorgana. Di puja-puja. Semua tunduk pada tradisi lampau, bahkan untuk berjalan sambil melirik pengemis yang sedang menulis itupun, malas!

“Ah, itu cuma proletariat”, mungkin begitulah gumam kita, sambil menyembunyikan diri di balik gundukan tanah nurani.

Kenyataan begitu timpang. Keindahan berubah warna. Suram menyeringai kejanggalan-kejanggalan. Sekelompok penulis ada yang beradu taring. Saling mengibas. Ganas. Memasang wajah sangar. Bertampang ngeri, seperti algojo rajin mengasah belati. Bahkan ada pula yang terlihat serupa harimau-harimau latah, siap menerkam ketika seekor rajawali bersayap basah.

“Owh.. Sastra, kemanakah lidahmu menjilat arah mata memandang?” Kita bertanya, mencari jawab di antara komunitas-komunitas. Bolak-balik menelusuri kubu. Buku. Tak ketinggalan kitab-kitab dari berbagai generasi. “Adakah jawab di balik kebebasan berekspresi, setelah engkau tak kunjung menampakan diri?”

“Ah, ini gila, jika kita terus bertanya!”. Sepuluh tahun, tak bakal cukup untuk membuktikan adanya kebenaran, ketika manusia tak lagi bebas menjadi subyek pencari kebenaran itu sendiri.

Sampai detik ini, ia tak jua hadir di sini. Di dalam hati, karena muka lebih penting dari nurani. Penjelmaan Sastra yang konon melimpah di langit dan bumi, kini cuma ada di kedai-kedai mini, semakin remang kita temui. Keberadaannya, jauh dari realitas dan sejarah. Mimpi-mimpi masih terlihat bunting. Bunting. Bunting dan hanya bunting. Tak sanggup melahirkan harapan, kemudian besar di tengah-tengah belantara kata. Sarjana-sarjana tak lagi mampu menunjukan perannya. Kita cuma lihai mengadopsi berbagai sistem yang ditimang-timang seperti anak emas. Para kreator berkarya di dalam sebuah lanskap. Keahlian laksana letup kembang api, sekilas lepas sirna tak berbekas. “Apa yang dibangga dari ilmu kelling[2], jika esok hilang dari kepala?” Begitulah kiranya, jika buku tak lagi ditelan isi.

Mendadak, ada yang meledak. Media sosial memberi wacana, membuka peluang baru. Namun apa yang kita temukan? Kericuhan, malah sering terjadi. Antar kelompok saling menautkan diri. Banyak individu bercokol, bercocok tanam ideologi. Kehebat ahli, seperti tokoh cerita fiksi. Perseteruan semakin menjadi-jadi. Saling tikam. Menjatuhkan. Sperti cerita konyol, padahal tidak lucu. Berbagai diskusi yang diunggah, tak jua memberi solusi. Cuma gelandangan-gelandangan hebat yang kita dapati, beradu pantat, rajin memunguti istilah para orang tua. Lebih parah lagi, ada yang tega mencuil mulut kawan sendiri.

“Oh, Sastra. Akankah engkau mengejawantah lewat maya?” Pikir kita yang menduga-duga. Tetapi, benarkah ada yang berpikir ke sana? “Eh, apa iya, ada?”

“Ah, akalku tidak begitu meyakini,” di batas kesadaran yang masih menduga-duga, fenomena itu begitu langka. Padahal begitu jelas di ujung mata kita. Beribu-ribu, bahkan jutaan manusia mengatas namakan sastra. Berpesta dialog. Begitu banyak telur menggelinding di dunia maya secara tiba-tiba, tapi tak pasti kapan menetaskan gagasan. Gegap gempita tak jua melahirkan apa-apa. Riuh sorak di tengah pesta, hanyalah tepuk tangan anak-anak. Gaduh dan hanya gaduh yang tercipta. Mungkin, itulah maha karya zaman yang bereaksi kian menjenuhkan. Sementara kita masih setia menunggui sebuah periodisasi yang mampu memberi reaksi. Mencuat. Hebat. Tepat. Meletus bukan sekedar untuk hangus.

*Ngrambe, 02 Januari 2014*

Kamus :
[1] Sastra dalam artikel ini dimaknai sebagai sebuah reaksi.
[2] Ilmu kelling ; ilmu yen nyekel eling (jawa); sebuah kemampuan yang hanya bisa di-ingat ketika memegang buku panduan/pedoman.

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada 2 Januari 2014 in Gumam

 

Tag: , , , , , , , , ,

6 responses to “Sastra Menjenuhkan Di Tengah Pesta

  1. cumakatakata

    2 Januari 2014 at 02:38

    Saya gk paham sastra Mas. Bahkan apa yg dimaksud dgn sastra saya tdak paham. Ketika ditoko buku, di rak2 buku sastra saya temukan buku yg menurut saya tdak disana, ah mungkin itu krn keisengan pengunjung yg memindah buku dr rak lain. Atau, itu benar2 karena kebutaan saya terhadap sastra.

    (pripun kabare Mas ? )

     
    • SanG BaYAnG

      2 Januari 2014 at 02:51

      Hahaha.., sama Mas. Saya juga gak ngerti apa itu sastra. Yang penting tetep enjoy nulis ketika menuangkan gagasan-gagasan yang baik untuk saat ini, juga untuk generasi selanjutnya sajalah, Mas..😀

      Alkhamdulillah.., baik Mas. Sudah mulai aktif ngeblog lagi yak?:mrgreen:

       
      • cumakatakata

        2 Januari 2014 at 02:57

        Blm Mas.

        gak tahan aja buat gak BW dan berkomentar🙂

         
        • SanG BaYAnG

          2 Januari 2014 at 03:08

          Oh, masih sibuk terus yak?

          Ya, ya.., sayang au belum bisa bloging ni, Mas. Masih masuk spam melulu..hehehe🙂

           
          • cumakatakata

            3 Januari 2014 at 20:52

            wes masuk kok kemontare Mas…🙂

             
            • SanG BaYAnG

              4 Januari 2014 at 01:21

              Di tempat sampean memang masuk, Mas. tadi malam saya udah coba. Tapi pada blog lain, kadang masuk spam. Ini dikarenakan adanya sistem aprove, sementara adminnya kurang aktif (kayak saya) dan kurang jeli melihat pengujung blognya, terutama komentar yang tertahan..😀

               

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: