RSS

Ocehan Tentang 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh

19 Jan

Terbitnya “Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”, bisa dikatakan sebagai awal kekacauan sejarah sastra di Indoneisa. Masuknya beberapa tokoh yang masih sedikit asing dan kurang bisa diterima logika ke dalam buku ini, merupakan sebuah analisa yang membengkok atau sengaja dibengkokkan dari fakta yang sesungguhnya. Menyimak kemunculan buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” ini, rasanya sangat geli. Andai geli karena digelitik mungkin sedikit asik, tetapi jika ada hal yang mematik akan terasa sakit, bahkan sangat sakit. Membayangkan akibat ulah beberapa gelintir oknum yang sedang sakit dalam mewujudkan buku ini, hanya akan membuat keadaan ‘negeri’ semakin sakit. Dan jika benar mereka sakit, kita adalah tukang suntik.

Munculnya beberapa tokoh, terutama Denny JA yang tidak bagitu dikenal banyak publik sebagai sastrawan, bahkan sangat minim pengaruhnya di ranah sastra itu, menimbulkan kontroversi. Sementara di dalam pengantar buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, Tim 8 yang menjadi konseptor dan penyusun buku ini menyebutkan “Yang dimaksud dengan tokoh sastra Indonesia yang paling berpengaruh adalah orang yang melalui karya sastra, gagasan, pemikiran, dan tindakannya memberikan pengaruh dan dampak cukup luas khususnya pada dinamika kehidupan sastra, dan umumnya pada dinamika kehidupan intelektual sosial, politik dan kebudayaan Indonesia yang lebih luas.” Dan di dalam empat kriteria yang dimaksudkan di antaranya, “1. Pengaruhnya tidak hanya berskala lokal, melainkan nasional// 2. Pengaruhnya relatif berkesinambungan, dalam arti tidak menjadi kehebohan temporal atau sezaman belaka. 3. Dia menempati posisi kunci, penting dan menentukan.// 4. dia menempati posisi sebagai pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau bahkan penentang//”. Lantas pertanyaan adalah “Apakah konsep-konsep itu telah diterapkan secara benar ketika sebuah kelonggaran yang seolah sengaja dibuka lebar, lebar, dan sangat lebarrrrrr itu benar-benar mampu memerankan fungsinya?” Mari kita tanya pada tuan-tuan rayap yang setia mengusung batu dan kayu di bawah ketiak si tuan bolang.

Meski buku ini oleh ‘Tim 8’ dinyatakan tak bertendensi menjadi buku ilmiah dan mempengaruhi sejarah, tetapi bila disebar luaskan dan dikenal publik, bahkan masuk ke ranah pendidikan, bisa kita bayangkan kekacauan apa yang akan terjadi? Generasi mendatang hanya mengenal Denny Ja dan beberapa tokoh lain di dalamnya, sementara Mbah Umar Kayam, Ahmad Tohari, dan sastrawan-sastrawan besar lainnya, hanyalah hiasan pengisi waktu kita di warung-warung kopi, cuma untuk saat ini dan kuasa esok hanyalah cerita di balik buku tebal itu. Memang sangat janggal jika seorang Denny Ja yang konon baru menulis sebuah buku, diberi nama “Puisi Esai” pada tahun 2012 itu secara tiba-tiba menjadi salah satu dari 33 tokoh sastra yang berpengaruh di negeri ini. Lantas bagaimana dengan Kang Imron Tohari dengan ‘Puisi 2,7’ dan Bang Ali Samsudin Arsy dengan ‘Gumam Asa’. Ah, tapi itulah pola pikir manusia yang bisa saja terpengaruh dan berubah seketika oleh keadaan.

Secara pribadi, selama ini seorang ‘Sang Bayang’ tidak pernah turut campur dengan berbagai urusan politik sastra, karena ia sadar betul dan cukup tahu diri, siapa Sang Bayang? Pro dan kontra mungkin sebuah kebiasaan yang telah membumi di tanah ini. Tetapi bila semua mengarah demi sebuah kebaikan, mungkin harus ada tidakan untuk mengiyakan dan mendukung salah satunya. Bukan lantaran berpihak, namun ada banyak alasan yang memberontak di dalam diri ketika sebuah kebenaran ternoda dan pembodohan publik. Namun menyimak perkembangannya dalam beberapa pekan ini, sedikit melegakan bagi saya (pribadi) ketika melihat ada upaya dari kalangan para sastrawan yang menentang beredarnya buku ini. Dengan adanya berbagai jalan yang ditempuh, saya hanya bisa berharap, petisi yang sedang digalang bisa menemui jalan terang, sehingga tidak menimbulkan kekacauan yang justru menjerumuskan masyarakat pada pembekokkan fakta dan perjalanan sejarah sastra.

Dan untuk terakhir kalinya di dalam posting ini, saya cuma bisa mengakhirinya dengan kata bahwa, seorang tokoh/sebutan tokoh/istilah tokoh, akan terbentuk dengan sendirinya tanpa harus dipilih dan digolong-golongkan. Seorang tokoh tidak butuh pengakuan, sebab tanpa meminta diakui atau tanpa dibukukan sekalipun, mereka telah diakui. Sebaliknya, seseorang yang dengan sengaja mengajukan dirinya, atau bahkan mengemis-ngemis untuk diakui sebagai tokoh, hanyalah orang-orang yang memiliki banyak kekurangan dan tidak memiliki rasa percaya diri. Terlebih bila ngotot, maka ia hanyalah manusia yang gila derajat cuma demi sebuah kehormatan dengan pandom dan makom yang kurang jelas./ Ngawi, 19/01/2014

 
13 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Januari 2014 in Sudut Pandang

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

13 responses to “Ocehan Tentang 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh

  1. kunfuaidah latifah

    23 Februari 2014 at 21:38

    terangguk-anghuk aku m3nyimak ulasan SanG BaYang, begitu rupanya.

     
    • SanG BaYAnG

      27 Februari 2014 at 01:48

      Terima kasih banyak atas apresiasinya, sahabat Kunfuidah. Semoga kita bisa saling mengisi dan berbagi dalam banyak hal.

      Salam santun selalu..

       
  2. elmoccava

    26 Januari 2014 at 01:52

    Heuheuu pertama kali saya menyimak Puisi Esai saat bertandang ke Inspirasi.co milik Denny JA si Tukang Survei itu. Membacanya, benak saya mikir; sudah ada yg berani ‘merkosakan’ puisi dgn esai. Bagi saya, puisi ya puisi, esai ya esai, dan sesuai dgn estetika masing2, terlepas dri hal2 yg maknawi. Kalaupun mahu dikatakan Puisi Esai, bagaimana nasib Jefry al-Katiry dgn Kumpulan Puisinya “Dari Batavia Sampai Jakarta” itu, yg terbit thn 2000? Puisi yg berisikan sejarah Kota Jakarta dari jaman ke jaman, dan sdh barang tentu dia melirik buku2 sejarah Batavia. Dari segi estetika, Jefri tentu lebih sastrawi ketimbang Denny JA itu. Tapi, ya, begitulah, orang beruang! hahaaa apapun dilahapnya.

    Salaam Sastra😀

     
    • SanG BaYAnG

      26 Januari 2014 at 02:02

      Niat Denny JA dengan mengawinkan puisi dan esai itu sebenarnya bagus, namun sayang sepertinya usaha yang dilakukannya tidak bisa diterima sebagian banyak kalangan penikmat puisi atau tidak sesukses prosa puisi/puisi yang diprosakan. Karena itulah, mungkin Denny JA ingin mencari cara lain yang lebih hot..hehehe..🙂 mungkin.

      Salam sastra, sahabat Elmoccava..🙂

       
  3. Evi

    19 Januari 2014 at 09:20

    Jadi tokoh itu melahirkan dirinya sendiri lewat karya atau sumbangsihnya terhadap hiduo, manusia dan lingkungan ya Mas

     
    • SanG BaYAnG

      22 Januari 2014 at 01:21

      Begitulah kiranya, namun hanya beberapa saja/tidak semuanya.

       
  4. Eki Akhwan

    19 Januari 2014 at 09:14

    Kanonisasi karya sastra dan sastrawan memang tindakan dan proses politik. Dan sebagaimana politik pada umumnya, ia adalah ranah pertarungan kuasa. Namun sayang, dalam kasus buku ini, politik yang berlangsung tampaknya politik kotor … Tampaknya.

    Mudah-mudahan perjuangan baik ini bergaung dan didengar.

     
    • SanG BaYAnG

      22 Januari 2014 at 01:20

      Amiin.., mudah-mudahan ya, Mas Eki Akhwan..

       
  5. SanG BaYAnG

    19 Januari 2014 at 06:06

    Reblogged this on Negeri Bayangan.

     
  6. wahyu widyaningrum

    19 Januari 2014 at 02:42

    waw

     

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: