RSS

Sampah-sampah Putih Di Antara Nyanyian Langit

16 Feb

Sampah-sampah Putih Di Antara Nyanyian Langit

Sepintas mengeja wajah dalam dengung gelisah. Matahari malas bersinar, bulan tertutup awan. Sementara gelegar-gelegar halilintar tak cuma sekali menyambar. Tanah ini sesak bunyi. Kadang nyaring, sumbang dan memekakkan. Meski bosan, telinga-telinga dipaksa mendengar. Bosan itu, semakin jelas. Tapi langit terlihat geming–tak peduli, tak ada yang lebih penting, selain memperkenalkan diri. “Inilah aku. Aku yang harus kau tahu”, ucapnya setiap waktu, di layar-layar kaca dan layar yang bertebaran di jalan, selaksa pengemis butuh pengakuan atas diri yang sedang ber-onani.

Di antara corak visi, sorot mataku–menatap baleho dari kedai seberang jalan, membaca janji yang tak pasti terpenuhi. Sebagian, ada yang menutupi rambu-rambu, bahkan rambu untuk dirinya sendiri. Wajah-wajah yang terpampang begitu manis, semanis larik kata di sampingnya. Perubahan itu, masih mendominasi tawaran. Meski berkesan kuno, rasanya terlalu munafik–jika penghuni tanah ini tak berharap. Namun fakta; dari waktu ke waktu, hanya ada waktu untuk menunggu. Menunggu, menunggu dan menunggu, itulah waktu yang berlaku. Sementara, waktu tak pernah menunggu ketika janji selalu diputar kembali. Dan waktu terus berlalu, berjingkat semakin dekat, menuju waktu yang tak menentu, tanpa penentuan jitu.

Dari dipan bambu reyot ini, satu kupandang, kutimbang di antara sekian banyak yang terbuang, sebab suatu pilihan adalah sebuah jalan untuk menentukan. Lantas, apakah ini fanatik? “Mungkin, iya…”, dan itu jauh lebih baik dari pada menjadi munafik, lamis, mengemis, sekedar jadi bakal tumbal–dalam beberapa tahun ke depan.

Ya, hanya pilihan-lah yang menentukan, bukan tebusan pemilih untuk berongkang-ongkang pikiran. “Barangkali teramat bodoh–jika manusia tak memiliki pilihan. Jika ada yang demikian, wong edan pasti lebih mulia”, gumamku di balik sumpalan tempe goreng yang kasar terkunyah gigi-gigi keropos, mungkin sekeropos mental para peng-iklan musiman, ketika kita salah mengantar duduk di kursi nanti. Sekali lagi, hanya pilihan yang menentukan dan harus memilih, cuma itu yang diperlukan tanah ini untuk bisa kita nikmati. Sementara golput tak ubahnya sampah mengendap yang harus diuaraikan, dan netral tak selamanya menjadi penengah di puncak kebijakan.

( Sang Bayang – 16/02/2014 )

 
18 Komentar

Ditulis oleh pada 16 Februari 2014 in Selayang Pandang

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

18 responses to “Sampah-sampah Putih Di Antara Nyanyian Langit

  1. ozhyshareblog

    15 Februari 2016 at 04:33

    keren,,, saya mau belajar sastra lebih dalam,,, mohon bimbingannya ini blog saya http://www.rintikhujan.com

     
    • SanG BaYAnG

      28 Maret 2016 at 04:04

      Terima kasih atas apresiadinya. Mudaha-mudahan kita senantiasa bisa belajar bersama-sama.
      Salam santun selalu

       
  2. Tatamor

    22 Februari 2014 at 11:07

    majulah Indonesiaku hehe

     
    • SanG BaYAnG

      27 Februari 2014 at 01:45

      Ya, maju…, terus maju. Dan kita adalah bagian dari penggeraknya. Semangat dan salam hangat..🙂

       
  3. Normi firdaus

    21 Februari 2014 at 01:57

    setuju banget deh,tapi gimana yah..memilih kan jika ada yg sesuai dgn hati nurani,jika nggak ada yg sesuai ya terpaksa nggak milihlah…

     
    • SanG BaYAnG

      27 Februari 2014 at 01:43

      Pasti ada pilihan ketika sebuah nurani turut andil di dalamnya, Mas. Awal sebuah keyakinan, lahir dari kata hati. Pada saat itulah kebenaran akan diuji..🙂

       
  4. Nisa

    16 Februari 2014 at 15:45

    yuhuu,, siipp…

     
  5. denganpuisi

    16 Februari 2014 at 12:55

    memilih yang terbaik diantara yang buruk adalah bukti dari sebuah keberanian serta kepedulian

     
    • SanG BaYAnG

      17 Februari 2014 at 01:23

      Ya…, dan pada saat itulah setiap orang diuji untuk memenuhi hak dan kewajibannya..🙂

       
  6. katacamar

    16 Februari 2014 at 11:33

    setuju sama mas, golput itu tidak bertanggungjawab atas sebuah pilihan, walau itu sebuah pilihan.. pilihan untuk tidak bertanggungjawab, seperti pilihan untuk melacur ataupun korupsi itu juga sebuah pilihan… tetapi ketika kita tidak memilih (golput) jangan merasa tangan kita bersih, karena akibat tidak memilih lebih berbahaya dapipada memilih..

    seberapapunkita tidak suka terhadap keadaan kepartaian di tanah air kita, mestinya kita ikut memilih, karena dengan demikian meminimalisir sampah yang masuk ke gedung senayan, toh kita bisa menilai di antara yang terburuk pasti ada pilihan yang paling sedikit mudhorotnya..

    jangan terlalu apatis … ayo memilih.. cari yang sedikit mudhorotnya🙂

     
    • SanG BaYAnG

      17 Februari 2014 at 01:21

      Hmm.., super sekali komentarnya..🙂

      Iya Mas.., satu pilihan (satu orang) di negeri ini, merupakan penentu nasib kita. Mari kita mulai untuk peduli pada negeri ini, dari hal paling kecil sekalipun. Terima kasih atas tanggapan hangatnya, Sahabat..

       
  7. Gusti 'ajo' Ramli

    16 Februari 2014 at 07:40

    Hidup ini memang harus memilih ya… sesungguny golput jg pilihan…

     
    • SanG BaYAnG

      17 Februari 2014 at 01:14

      Eh.., benar juga ya Mas Gusti. Tapi jika ada pilihan lebih baik, mari kita pilih..hehehe..🙂

       
  8. tuaffi

    16 Februari 2014 at 02:49

    “Sementara golput tak ubahnya sampah mengendap yang harus diuaraikan, dan netral tak selamanya menjadi penengah di puncak kebijakan.” menohok sekali untuk calon golput macam saya.🙂

     
    • SanG BaYAnG

      16 Februari 2014 at 03:11

      Waduh.., maaf deh..maaf..🙂

      Sekedar mengungkapkan rasa atas sebuah keadaan. Dan sepertinya golput adalah sebuah ketidak pedulian atas nasib negeri ini. Haruskah sikap itu ada pada diri kita?:mrgreen:

       
      • tauviq

        27 Februari 2015 at 03:31

        Bahasa karya sastra yang lebih benar , bukan untuk menyinggung bahkan terang2an , memilih tdk memilih itu adalah Hak setiap masyarakat !

         
        • SanG BaYAnG

          23 Juli 2015 at 01:00

          “Memilih” atau “tidak memilih”, bukankah itu juga sebuah pilihan?

           

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: