RSS

Setegak Puisi Menghibur Hati

03 Des

Perempuan itu gelisah, di ujung senja. Langit tak lagi jingga di wajahnya. Wilayah-wilayah jiwa, seolah tak lagi menyala, tinggal sisa–temaram, bathin yang menjerit. Bulan remang mengambang, pucat. Perjalanan bulan di wajahnya, kian menyempit, sebentar lagi mungkin gelap dan keadaan semakin rumit.

Sedikit demi sedikit, kenangan mengaduk semua mimpi, bercampur dengan seuntai kisah–kasih Tuhan yang dirasakan, tak lagi berpihak. Kini, wajah siapa yang kau pakai, pun aku tak lagi mengenali. Cuma sisa tetes air mata kutangkap, entah kapan berhenti secara mutlak–untuk tidak terjatuh lagi.

Di antara air mata, kucoba meraba, banyak rongga-rongga luka–menyangga ngilu. Di sana, terbayang sihir angin–yang menyihir kesunyian, hingga tiada lagi waktu bagimu untuk mengeluh, ketika kau berdiri di tengah-tengah laut air mata.

Semua begitu pahit, namun keyakinan atas cinta, membuat kau bertahan di antara rindu yang mondar-mandir tak menentu, hingga cinta mampu mewujudkan sebuah cita-cita untuk menyatukan cinta, hingga kau benar-benar mampu, berdiri tegak seperti puisi–yang sedang menghibur hati.

( Sarirejo, Desember 2015 )

 

Tag: , , ,

14 responses to “Setegak Puisi Menghibur Hati

  1. jeky miharja

    15 Juni 2016 at 00:53

    mantab sajak nya, salam kenal.

     
    • SanG BaYAnG

      6 November 2016 at 16:47

      Terima kasih Sahabat Jeky. Salam kenal jua..πŸ™‚

       
  2. CV ARISTON KUPANG

    24 Maret 2016 at 01:36

    Puisi yang baik…musik yang mengerikan merinding….menyentuh hati……love sastra….

     
    • SanG BaYAnG

      28 Maret 2016 at 03:54

      Terima kasih atas apresiasiny, Sahabat.
      Salan santunku selalu..

       
  3. Ruang Freelance

    30 Januari 2016 at 15:49

    Sastra ini mengingatkanku dengan mantan gebetan yang dulu pernah mengisi kekosongan hati ini.

     
    • SanG BaYAnG

      28 Maret 2016 at 03:52

      Wah, lumyan bisa untuk mengenang gebetan. Mudahan masih bisa nggebet lagi yak *eh*

       
  4. annosmile

    2 Januari 2016 at 08:19

    bingung mau berkata-kataπŸ˜€

     
    • SanG BaYAnG

      5 Januari 2016 at 03:23

      Tidak berkata-kata juga boleh kok, Mas Annosmile..πŸ˜€

       
  5. winnymarlina

    15 Desember 2015 at 17:00

    suka untaian kata2nya apalagi diawal
    Perempuan itu gelisah, di ujung senja. Langit tak lagi jingga di wajahnya.

     
    • SanG BaYAnG

      5 Januari 2016 at 03:22

      Hmm.., mudah-mudahan selalu ada kata yang bisa dinikmati.
      Salam santun selalu, Sahabat Winnymarlina..

       
  6. Ar Syamsu

    5 Desember 2015 at 11:30

    “Setegak Puisi Menghibur Hati”, Senang mendengar syair-syairnya mas meski tidak terlalu paham apa maknanya, salam kenal

     
    • SanG BaYAnG

      5 Januari 2016 at 03:21

      Salam kenal jua, Sahabat Syamsu.
      Terima kasih sudah sudi mampir di sini

       
  7. M. Triyono

    3 Desember 2015 at 03:26

    Luar biasaaaa…. Salam Sastra

     
    • SanG BaYAnG

      3 Desember 2015 at 03:33

      Salam sastra dan budaya. Terima kasih telah sudi mampir, Mas..πŸ™‚

       

Tinggalkan Komentar Semanis Mungkin Ya..???

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: